Cara Al-Qur’an Menguatkan Hati Nabi Muhammad Saat Ditolak

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 9 Juli 2026 - 03:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Al-Qur'an menghibur kesedihan Nabi Muhammad SAW saat dakwahnya ditolak lewat kisah Nabi Musa dan Ibrahim.( poto: nu online)

Al-Qur'an menghibur kesedihan Nabi Muhammad SAW saat dakwahnya ditolak lewat kisah Nabi Musa dan Ibrahim.( poto: nu online)

Jakarta, dorlanhikmah.com – Hidup manusia selalu berputar bak roda, menyajikan suka dan duka secara bergantian bagi setiap insan. Tidak ada satu pun manusia yang betul-betul steril dari masalah, baik orang kaya, warga biasa, orang saleh, maupun mereka yang belum baik. Hal mendasar yang membedakan kualitas seseorang bukan terletak pada ada atau tidaknya masalah, melainkan pada cara bersikap saat badai ujian itu datang menerpa.

Menariknya, kitab suci umat Islam memiliki metode edukasi yang sangat khas untuk menempa mental manusia dalam menghadapi dinamika kehidupan. Metode pengajaran tersebut kerap kali hadir lewat untaian kisah masa lalu yang sarat akan makna mendalam, bukan sekadar nasihat panjang atau perintah searah. Sasaran utama dari pendidikan berbasis sejarah ini adalah manusia paling mulia di bumi, yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW. Allah SWT sengaja menghadirkan kisah para utusan terdahulu guna membesarkan hati sang rasul saat menerima penolakan keras dari kaumnya.

Sisi Kemanusiaan Para Utusan Allah

Sebagian masyarakat terkadang memelihara anggapan keliru bahwa para nabi tidak pernah merasakan pedihnya kesedihan atau kekecewaan. Mereka berasumsi bahwa kedekatan para nabi dengan Sang Pencipta otomatis membuat mereka kebal terhadap luka batin yang biasa menerpa manusia awam. Faktanya, para nabi tetaplah manusia biasa yang bisa merasakan lelah, kecewa, sedih, dan beratnya beban kehidupan. Perbedaan mendasarnya, para utusan Allah ini tidak pernah menyerah pada perasaan tersebut dan selalu berjalan di bawah bimbingan wahyu.

Baginda Nabi Muhammad SAW sendiri pernah mengalami fase kesedihan yang amat mendalam saat kaum Quraisy menolak mentah-mentah ajaran Islam. Masyarakat Makkah kala itu tidak hanya menolak ajaran beliau, tetapi juga memusuhi, menghina, hingga melontarkan berbagai tuduhan keji yang menyayat hati. Fenomena psikologis ini bahkan diabadikan secara langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an melalui surah asy-Syu‘ara’ ayat 3:

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Artinya, “Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman.” (QS. asy-Syu‘ara’ [26]: 3)

Makna Batin di Balik Teguran Kasih Sayang

Imam Abu Muhammad Sahl bin Abdullah at-Tustari (w. 283 H) memberikan ulasan yang sangat menyentuh terkait ayat tersebut dalam kitab tafsirnya. Beliau membedah sisi psikologis dan spiritual dari teguran yang Allah sampaikan kepada Rasulullah SAW:

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَيْ مُهْلِكٌ نَفْسَكَ بِاتِّبَاعِ الْمُرَادِ فِي هِدَايَتِهِمْ، وَقَدْ سَبَقَ الْحُكْمُ مِنَّا بِمَا يَكُونُ مِنْ إِيمَانِ الْمُؤْمِنِ وَكُفْرِ الْكَافِرِ، فَلَا تَغْيِيرَ وَلَا تَبْدِيلَ، وَبَاطِنُ ذَلِكَ أَنَّكَ شَغَلْتَ نَفْسَكَ عَنَّا بِالِاشْتِغَالِ بِهِمْ حِرْصًا عَلَى إِيمَانِهِمْ، مَا عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ، فَلَا يَشْغَلْكَ الْحُZْنُ فِي أَمْرِهِمْ عَنَّا

Artinya, “‘Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan)’; yakni engkau sedang membinasakan dirimu dengan terus mengikuti keinginanmu agar mereka mendapat hidayah, padahal keputusan telah Kami tetapkan sejak awal—tentang siapa yang beriman dan siapa yang kafir, dan itu tidak dapat diubah atau diganti. Sedangkan makna batinnya adalah: engkau telah menyibukkan dirimu dari Kami dengan terlalu larut memikirkan mereka karena besarnya keinginanmu agar mereka beriman. Tugasmu hanyalah menyampaikan; jangan biarkan kesedihan atas urusan mereka memalingkanmu dari Kami.” (Sahl bin Abdullah at-Tustari, Tafsir at-Tustari, [Baerut, Lebanon, Dar al-Kutub al-Ilmiyah: 1423 H/2002 M] hlm. 115)

Menyerahkan Hasil Akhir Kepada Pencipta

Penjelasan ulama klasik ini membawa pesan substantif yang mengabarkan bahwa urusan hidayah merupakan hak prerogatif Allah semata. Rasulullah SAW hanya mengemban kewajiban untuk menyampaikan risalah, bukan memaksa atau mengontrol isi hati manusia. Melalui ayat ini, Allah juga memberikan teguran penuh cinta agar kesedihan akibat ulah manusia tidak merenggut ketenangan batin bersama-Nya. Seseorang boleh saja berjuang mati-matian, namun hati sanubari harus tetap bersandar penuh kepada Allah, bukan pada hasil akhir yang terlihat oleh mata.

Baca Juga :  Klarifikasi Ilmiah Hadits Tsa’labah: Analisis Kritis Riwayat Lemah tentang Zakat

Inspirasi Keteguhan dari Kisah Nabi Musa

Guna memulihkan kondisi psikologis sang nabi, Allah SWT tidak sekadar memberikan wejangan atau teori-teori normatif. Allah justru mengajak Rasulullah SAW menengok kembali lembaran sejarah dan melintasi ruang waktu perjalanan para nabi terdahulu. Langkah ini menjadi penegas bahwa jalan dakwah memang sarat akan rintangan dan Nabi Muhammad SAW tidak sendirian dalam menghadapi penolakan. Surah Asy-Syu’ara’ kemudian membuka lembaran tersebut dengan menampilkan fragmen perjuangan dramatis Nabi Musa ‘alaihissalam saat melawan tirani Fir’aun.

Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari kejaran pasukan musuh melalui mukjizat pembelahan laut yang ikonik. Peristiwa heroik tersebut terekam jelas dalam surah asy-Syu’ara’ ayat 63-67:

فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ ﴿٦٣﴾ وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ ﴿٦٤﴾ وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ ﴿٦٥﴾ ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ ﴿٦٦﴾ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ ٦٧

Artinya, “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah laut itu, dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar. Dan di sana Kami dekatkan (ke tepi laut) golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa beserta orang-orang yang bersamanya semuanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 63-67)

Menakar Arti Kesuksesan Perjuangan

Poin krusial yang menjadi obat penawar bagi hati Nabi Muhammad SAW terletak pada penutup fragmen tersebut, yakni kalimat “tetapi kebanyakan mereka tidak beriman”. Penegasan ini mengingatkan beliau bahwa figur besar sekelas Nabi Musa pun harus menelan pil pahit penolakan dari mayoritas manusia. Penolakan publik nyatanya sama sekali tidak mengurangi nilai luhur dari perjuangan suci yang telah Nabi Musa torehkan. Melalui narasi sejarah ini, Allah mendidik Nabi Muhammad SAW agar tidak mengukur kesuksesan sebuah perjuangan hanya dari kuantitas pengikut.

Membandingkan Beban Lewat Sejarah Nabi Ibrahim

Setelah memaparkan perjuangan Nabi Musa, Al-Qur’an langsung menyambungnya dengan rekaman sejarah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Kisah ini menyajikan konflik emosional yang jauh lebih personal karena Nabi Ibrahim harus berhadapan dengan ayah kandung serta kaumnya sendiri. Pertentangan teologis mengenai penyembahan berhala ini tertuang dalam surah asy-Syu‘ara’ ayat 69-77:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ ﴿٦٩﴾ إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٧٠﴾ قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ ﴿٧١﴾ قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ ﴿٧٢﴾ أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ ﴿٧٣﴾ قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ ﴿٧٤﴾ قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ ﴿٧٥﴾ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ ﴿٧٦﴾ فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ ﴿٧٧

Artinya, “Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Apakah yang kamu sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.’ Ibrahim berkata, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar kamu ketika kamu berdoa? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mencelakakan kamu?’ Mereka menjawab, ‘Bukan, tetapi kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.’ Ibrahim berkata, ‘Sudahkah kamu pikirkan apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyangmu yang terdahulu? Sesungguhnya mereka semua adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.’” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 69-77)

Baca Juga :  Kontroversi Tafsir “Rabb” dan Batas Otoritas Penafsiran Al-Qur’an

Analisis Klasik Mengenai Urutan Kisah

Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) dalam mahakaryanya Mafatihul Ghayb mengupas rahasia urutan kronologis penyajian kedua kisah besar ini. Beliau membedah alasan logis mengapa kisah Nabi Ibrahim sengaja diletakkan persis setelah kisah Nabi Musa:

اعْلَمْ أَنَّهُ تَعَالَى ذَكَرَ فِي أَوَّلِ السُّورَةِ شِدَّةَ حُزْنِ مُحَمَّدٍ ﷺ بِسَبَبِ كُفْرِ قَوْمِهِ، ثُمَّ إِنَّهُ ذَكَرَ قِصَّةَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ لِيَعْرِفَ مُحَمَّدٌ أَنَّ مِثْلَ تِلْكَ الْمِحْنَةِ كَانَتْ حَاصِلَةً لِمُوسَى، ثُمَّ ذَكَرَ عَقِبَهَا قِصَّةَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِيَعْرِفَ مُحَمَّدٌ أَيْضًا أَنَّ حُزْنَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِهَذَا السَّبَبِ كَانَ أَشَدَّ مِنْ حُزْنِهِ، لِأَنَّ مِنْ عَظِيمِ الْمِحْنَةِ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنْ يَرَى أَبَاهُ وَقَوْمَهُ فِي النَّارِ وَهُوَ لَا يَتَمَكَّنُ مِنْ إِنْقَاذِهِمْ إِلَّا بِقَدْرِ الدُّعَاءِ وَالتَّنْبِيهِ

Artinya, “Ketahuilah bahwa Allah menyebut di awal surah ini beratnya kesedihan Nabi Muhammad SAW akibat kekufuran kaumnya. Kemudian Allah menghadirkan kisah Nabi Musa AS agar Muhammad tahu bahwa cobaan semacam itu pernah juga menimpa Musa. Lalu setelahnya Allah menghadirkan kisah Nabi Ibrahim AS agar Muhammad juga tahu bahwa kesedihan Ibrahim atas sebab yang sama ternyata jauh lebih berat daripada kesedihannya sendiri. Karena termasuk ujian terbesar yang menimpa Ibrahim adalah menyaksikan ayah dan kaumnya sendiri berada di neraka, sementara ia tidak mampu menyelamatkan mereka selain sebatas doa dan peringatan.” (Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghayb [Tafsir al-Kabir], [Baerut, Lebanon, Dar Ihya at-Turats al-Arabi: 1420 H] juz 21, hlm. 541)

Sisi Emosional dalam Ujian Nabi Ibrahim

Analisis tajam dari ar-Razi mengonfirmasi betapa anggunnya metodologi Al-Qur’an dalam memulihkan kondisi psikologis manusia yang sedang terpuruk. Allah tidak sekadar melarang Nabi Muhammad SAW bersedih, melainkan menyajikan komparasi beban hidup dari tokoh-tokoh historis pendahulu. Jika Nabi Musa memberikan perspektif eksternal tentang penolakan publik, maka Nabi Ibrahim menyuguhkan duka personal yang jauh lebih mengiris hati. Kesedihan Nabi Ibrahim bernilai ganda karena penolakan tersebut justru lahir dari lingkaran inti keluarga dekatnya sendiri.

Menarik Relevansi untuk Kehidupan Kontemporer

Metode edukasi berbasis komparasi sejarah ini sejatinya memuat panduan universal yang sangat relevan bagi manusia modern saat menghadapi badai kehidupan. Al-Qur’an tidak pernah mendidik umatnya untuk melarikan diri dari realitas emosi atau menolak fakta adanya masalah. Kitab suci ini justru mendidik manusia untuk memperluas sudut pandang (framing) dalam melihat sebuah persoalan. Umat beriman diajak menyadari bahwa dinamika perjuangan, penolakan, rasa kehilangan, dan pengkhianatan merupakan paket lengkap kehidupan yang juga menimpa manusia-manusia terbaik pilihan Allah.

Melalui warisan kisah sejarah ini, umat Islam diajak memetik orientasi baru bahwa kesabaran sejati bukan berarti hilangnya rasa sedih. Sabar merupakan sebuah keteguhan sikap untuk tetap berpijak pada prinsip kebenaran meskipun kondisi hati sedang hancur lebam. Konsep ini menuntut manusia untuk terus mempersembahkan upaya terbaiknya seraya memasrahkan seluruh hasil akhir ke hadirat Allah SWT. Tatkala kegagalan atau penolakan datang menyapa, benteng pertahanan terbaik manusia adalah kesadaran bahwa para nabi pun pernah melewati jalan terjal yang serupa.(ust)

Berita Terkait

Keutamaan Surah Al-Fatihah, Surah Paling Agung dalam Alquran
Tafsir Az-Zumar Ayat 53: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah
Tafsir Haji Mabrur, Maqbul, dan Mardud Al-Baqarah 197
Empat Kelompok Manusia Pasca Ibadah Haji Menurut Tafsir
6 Bencana Alam dalam Al-Qur’an dan Kisahnya Lengkap
Politisasi Al-Qur’an dalam Sejarah Politik Islam
Cara Al-Qur’an Menguatkan Nabi Saat Dakwah Ditolak
Allah Selalu Melihat Hambanya: Tafsir QS. Al-‘Alaq 14
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 23:00 WIB

Keutamaan Surah Al-Fatihah, Surah Paling Agung dalam Alquran

Kamis, 9 Juli 2026 - 21:00 WIB

Tafsir Az-Zumar Ayat 53: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Kamis, 9 Juli 2026 - 03:00 WIB

Cara Al-Qur’an Menguatkan Hati Nabi Muhammad Saat Ditolak

Sabtu, 27 Juni 2026 - 05:00 WIB

Tafsir Haji Mabrur, Maqbul, dan Mardud Al-Baqarah 197

Sabtu, 27 Juni 2026 - 03:00 WIB

Empat Kelompok Manusia Pasca Ibadah Haji Menurut Tafsir

Berita Terbaru

Apakah telur harus di cuci dulu sebelumdi ebus,simak penjelasannya.( poto: nuonline).

Fiqih

Kajian Fiqih, Perlukah Mencuci Telur Sebelum Dimasak?

Sabtu, 11 Jul 2026 - 05:00 WIB