Jakarta, dorlanhikmah.com – Orang terakhir masuk surga menjadi salah satu kisah yang paling menyentuh dalam khazanah hadis Islam.
Rasulullah SAW menceritakan perjalanan seorang lelaki yang keluar dari neraka dengan penuh kesulitan hingga akhirnya memperoleh karunia besar dari Allah SWT.
Kisah ini tidak hanya menggambarkan dahsyatnya siksa neraka, tetapi juga menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-Nya.
Dalam ajaran Islam, kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara sebelum manusia memasuki kehidupan akhirat yang kekal.
Setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi hisab dan menerima balasan atas amal yang telah dilakukan selama hidup di dunia.
Bagi orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah, surga menjadi tempat kembali yang penuh kenikmatan.
Sebaliknya, neraka menjadi tempat hukuman bagi mereka yang mengingkari perintah Allah dan melakukan berbagai kemaksiatan tanpa bertobat.
Karena itu, umat Islam selalu diajarkan untuk menjaga keseimbangan antara rasa takut terhadap azab Allah dan harapan terhadap rahmat-Nya.
Salah satu gambaran nyata mengenai keluasan rahmat Allah dapat ditemukan dalam kisah orang terakhir yang masuk surga.
Riwayat Tentang Juhainah
Sejumlah ulama hadis pernah meriwayatkan kisah mengenai orang terakhir yang memasuki surga. Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Jami’ul Ahadits mencantumkan sebuah riwayat yang menyebut nama lelaki tersebut.
Riwayat itu berbunyi:
آخِرُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ مِنْ جُهَيْنَة يُقَالُ لَهُ جُهَيْنَة
Artinya:
“Orang terakhir yang masuk surga adalah seorang laki-laki dari suku Juhainah yang bernama Juhainah.”
Namun para ulama hadis memberikan catatan terhadap riwayat tersebut. Imam ad-Daruquthni menilai hadis itu tidak dapat dijadikan pegangan karena terdapat kelemahan pada sanad maupun matannya.
Meskipun demikian, substansi mengenai orang terakhir yang masuk surga tetap memiliki dasar yang kuat. Para ulama merujuk kepada hadis lain yang diriwayatkan dalam kitab Shahih Muslim dan dinilai sahih oleh para ahli hadis.
Riwayat yang sahih tersebut berasal dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud RA. Melalui hadis inilah Rasulullah SAW menjelaskan secara rinci perjalanan seorang hamba yang menjadi penghuni terakhir yang masuk ke dalam surga.
Perjalanan Keluar dari Neraka
Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menggambarkan kondisi seorang laki-laki yang menjadi orang terakhir keluar dari neraka.
Keadaannya sangat memprihatinkan. Ia berjalan dengan susah payah karena tubuhnya telah melemah akibat siksa yang panjang. Kadang-kadang ia mampu melangkah beberapa langkah, lalu tersungkur kembali. Pada kesempatan lain, panas api neraka masih menyambar tubuhnya.
Perjalanan itu berlangsung penuh penderitaan.
Setelah berhasil melewati neraka, ia berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang. Pada saat itulah ia mengucapkan kalimat syukur yang menunjukkan kebahagiaan luar biasa karena berhasil selamat dari tempat yang paling mengerikan.
Ia berkata:
تَبَارَكَ الَّذِى نَجَّانِى مِنْكِ لَقَدْ أَعْطَانِىَ اللَّهُ شَيْئًا مَا أَعْطَاهُ أَحَدًا مِنَ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ
Artinya:
“Maha Melimpah Anugerah Zat yang telah menyelamatkanku darimu. Sungguh Allah telah memberiku sesuatu yang tidak pernah Dia berikan kepada seorang pun dari umat terdahulu maupun yang akan datang.”
Ucapan tersebut menunjukkan betapa besarnya nikmat keselamatan dari neraka. Bagi orang yang pernah merasakan dahsyatnya azab, terbebas dari neraka sudah menjadi karunia yang tidak ternilai.
Pohon Pertama yang Menyejukkan
Setelah meninggalkan neraka, lelaki itu melihat sebuah pohon yang sangat rindang.
Di bawah pohon tersebut mengalir air yang jernih. Pemandangan itu begitu menenangkan setelah sebelumnya ia menyaksikan kobaran api dan merasakan panas yang menyiksa.
Rasa haus yang luar biasa mendorongnya untuk mendekat.
Ia kemudian berdoa kepada Allah SWT:
“Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku kepada pohon itu agar aku dapat berteduh di bawah naungannya dan meminum airnya.”
Allah SWT lalu berfirman kepadanya:
“Wahai anak Adam, jika Aku mengabulkan permintaanmu, apakah engkau akan meminta yang lain lagi?”
Lelaki itu segera menjawab bahwa dirinya tidak akan meminta apa pun lagi. Ia bahkan berjanji untuk tidak mengajukan permintaan tambahan setelah keinginannya terpenuhi.
Allah SWT yang Maha Pengasih kemudian mengabulkan permintaannya.
Ia pun mendekat ke pohon tersebut, menikmati keteduhan yang menenangkan dan meminum air yang menghilangkan dahaganya.
Muncul Keinginan Baru
Setelah beberapa waktu, lelaki itu melihat pohon lain yang jauh lebih indah.
Naungannya lebih luas, pemandangannya lebih menawan, dan air yang mengalir di bawahnya tampak lebih jernih daripada sebelumnya.
Keinginan baru pun muncul dalam dirinya.
Ia kembali memohon kepada Allah:
“Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku kepada pohon ini agar aku dapat minum dari airnya dan berteduh di bawah naungannya. Aku tidak akan meminta yang lain lagi.”
Allah SWT mengingatkan bahwa sebelumnya ia telah berjanji untuk tidak meminta apa-apa lagi.
Namun Allah mengetahui kelemahan manusia yang selalu berharap kepada sesuatu yang lebih baik ketika melihat kenikmatan baru.
Lelaki itu kembali mengulang janjinya.
Karena rahmat-Nya yang luas, Allah mengabulkan permintaan tersebut dan mendekatkannya ke pohon kedua.
Ia kembali menikmati keteduhan dan kesegaran yang tersedia di sana.
Pohon Ketiga di Dekat Surga
Perjalanan itu belum berakhir.
Tidak lama kemudian, lelaki tersebut melihat pohon ketiga yang letaknya berada sangat dekat dengan pintu surga.
Pohon ini memiliki keindahan yang jauh melampaui dua pohon sebelumnya.
Pemandangannya begitu memikat sehingga lelaki itu tidak mampu menahan keinginannya untuk mendekat.
Ia kembali berkata:
“Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku kepada pohon itu agar aku dapat berteduh di bawah naungannya dan meminum airnya. Aku tidak akan meminta apa-apa lagi setelah itu.”
Allah SWT kembali mengingatkan janji yang pernah diucapkannya.
Namun Allah tetap memperlakukannya dengan kasih sayang.
Akhirnya Allah mengabulkan permintaannya dan mendekatkannya ke pohon yang berada di dekat pintu surga tersebut.
Mendengar Suara Penduduk Surga
Saat berada di dekat pohon ketiga, lelaki itu mulai mendengar suara para penghuni surga.
Ia mendengar tawa kebahagiaan.
Ia mendengar percakapan yang penuh kegembiraan.Ia mendengar kenikmatan yang selama ini hanya bisa dibayangkan.
Suara-suara tersebut membangkitkan harapan besar dalam dirinya.
Setelah sekian lama merasakan kesengsaraan, ia kini berada begitu dekat dengan tempat penuh kebahagiaan.
Perasaannya tidak lagi mampu menahan keinginan untuk masuk ke dalam surga.
Permintaan Terakhir kepada Allah
Lelaki itu lalu memohon kepada Allah SWT:
“Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga.”
Permintaan itu menjadi permohonan terbesar dalam seluruh perjalanan hidupnya.
Allah SWT kemudian berfirman:
“Wahai anak Adam, apa yang dapat menghentikanmu untuk terus meminta kepada-Ku? Apakah engkau akan puas jika Aku memberikan dunia dan seluruh isinya kepadamu?”
Mendengar jawaban tersebut, lelaki itu merasa sangat heran.
Baginya, dunia dan seluruh isinya merupakan sesuatu yang sangat besar.
Ia bahkan tidak mampu membayangkan bagaimana mungkin dirinya yang baru saja keluar dari neraka memperoleh anugerah sebesar itu.
Karena keheranannya, ia berkata:
“Wahai Tuhanku, apakah Engkau mengejekku padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam?”
Rasulullah SAW Tersenyum dan Tertawa
Pada bagian inilah Rasulullah SAW tertawa ketika menceritakan hadis tersebut kepada para sahabat.
Para sahabat yang menyaksikan senyuman dan tawa Rasulullah segera bertanya mengenai alasannya.
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa Allah SWT tertawa ketika mendengar ucapan hamba tersebut.
Beliau bersabda:
مِنْ ضِحْكِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حِينَ قَالَ أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّى وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ فَيَقُولُ إِنِّى لاَ أَسْتَهْزِئُ مِنْكَ وَلَكِنِّى عَلَى مَا أَشَاءُ قَادِرٌ
Artinya:
“Karena Tuhan semesta alam tertawa ketika hamba itu berkata, ‘Apakah Engkau mengejekku, padahal Engkau Tuhan semesta alam?’ Maka Allah berfirman, ‘Aku tidak mengejekmu, tetapi Aku Mahakuasa atas apa pun yang Aku kehendaki.’”
Hadis ini menunjukkan betapa besar karunia Allah SWT.
Apa yang tampak mustahil bagi manusia menjadi sangat mudah bagi Allah.
Pelajaran Besar dari Kisah Ini
Kisah ini mengandung banyak pelajaran penting bagi umat Islam.
Pertama, rahmat Allah jauh lebih luas daripada yang mampu dibayangkan manusia. Bahkan seorang penghuni terakhir yang keluar dari neraka tetap mendapatkan kesempatan untuk menikmati surga.
Kedua, manusia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Selama masih memiliki iman dan kesempatan untuk bertobat, harapan selalu terbuka.
Ketiga, kisah ini mengajarkan bahwa Allah memahami kelemahan manusia. Lelaki dalam hadis tersebut berulang kali mengajukan permintaan baru, tetapi Allah tetap memperlakukannya dengan kasih sayang dan kelembutan.
Keempat, surga merupakan kenikmatan yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia. Ketika Allah menawarkan dunia dan seluruh isinya kepada hamba tersebut, hal itu hanya menjadi bagian kecil dari karunia yang akan diterimanya di surga.
Kelima, hadis ini menumbuhkan optimisme bagi setiap muslim agar terus memperbaiki diri. Kesalahan dan dosa tidak boleh membuat seseorang menyerah selama pintu tobat masih terbuka.(ust)









Komentar