Mengapa Lombok Menyandang Predikat Pulau Seribu Masjid?

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Masdjid Agung Praya- Lombok Tengah.(poto: istimewa).

Masdjid Agung Praya- Lombok Tengah.(poto: istimewa).

Mataram, Dorlanhikmah.com – Masyarakat Indonesia mengenal julukan Pulau Seribu Masjid Lombok sebagai identitas khas Nusa Tenggara Barat. Data resmi mencatat pulau ini memiliki lebih dari 9.000 bangunan masjid berukuran besar maupun kecil.

Keberadaan rumah ibadah tersebut tersebar merata hingga ke pelosok perkampungan warga. Keunikan arsitektur dan kuantitas bangunan ibadah ini mengundang rasa kagum banyak wisatawan.

Asal Mula Munculnya Julukan Pulau Seribu Masjid

Dosen FSRD Institut Teknologi Nasional Bandung asal Suku Sasak, Taufan Hidjaz, membeberkan asal-usul sebutan legendaris tersebut. Beliau menjelaskan bahwa sebutan ini bermula dari kunjungan kerja Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Effendi Zarkasih, pada 1970 silam.

Pejabat kementerian tersebut melontarkan pujian saat meresmikan Masjid Jami’ Cakranegara secara langsung. Beliau mengaku sangat terkesan melihat pemandangan tempat ibadah yang menjamur di seluruh penjuru wilayah.

Taufan menegaskan fakta tersebut dalam agenda Seminar Wisata Halal di Islamic Center Mataram. Menurut catatannya, Lombok kini menampung 3.767 masjid berukuran besar serta 5.184 masjid berukuran kecil.

Seluruh bangunan ibadah umat Islam tersebut berdiri kokoh melintasi 518 desa administratif. Taufan menyebut jumlah fantastis tersebut menjadi pembeda utama Lombok dengan daerah lain di Indonesia.

Baca Juga :  Satgas TMMD Ke 129 Kodim 0416 Bute Sholat Berjamaah Bersama Warga Tanjung Agung

Masjid memegang peran sentral sebagai representasi nyata dari kebudayaan suku Sasak. Kehadiran rumah ibadah menjadi simbol eksistensi kolektif masyarakat Sasak di tingkat dusun hingga kota.

Masyarakat lokal menganggap masjid sebagai pusat orientasi ruang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tanpa keberadaan masjid, warga merasa seluruh aktivitas komunal kehilangan arah rujukan dan makna spiritual.

Taufan juga menceritakan bagaimana sejarah Islam mulai meresap ke dalam sendi kehidupan warga lokal. Komunitas Sasak Lebung menerima ajaran Islam karena selaras dengan nilai lurus atau Lomboq.

Ajaran Islam juga memenuhi pencarian nilai kebenaran mutlak yang warga kenal sebagai Sak Sha. Transformasi keyakinan spiritual masyarakat berlangsung secara damai lewat tahapan kebudayaan yang panjang.

Sebelum memeluk Islam, masyarakat suku Sasak zaman dahulu menganut kepercayaan mistis dan tradisi animisme. Warga masa lampau membangun mitos Dewi Anjani dengan menjadikan Gunung Rinjani pusat kiblat kehidupan.

Ketika ajaran Islam masuk ke pulau, masyarakat setempat langsung menyambut hangat nilai tauhid baru tersebut. Penduduk lokal merasa ajaran Islam menawarkan pencerahan rohani yang jauh lebih memikat hati mereka.

Baca Juga :  Politisasi Al-Qur’an dalam Politik dan Sejarahnya

Rahasia Semangat Gotong Royong Warga Membangun Masjid

Ketua BPD PHRI NTB, H Lalu Abdul Hadi Faishal, membongkar rahasia di balik megahnya ribuan masjid. Beliau menyoroti antusiasme tinggi warga yang rela berkorban materi demi mendirikan tempat ibadah di desanya.

Penduduk lokal rela menyisihkan separuh dari pendapatan pribadi mereka untuk membiayai konstruksi masjid. Warga tidak mempermasalahkan kondisi rumah pribadi yang sederhana asalkan bangunan masjid desa berdiri megah.

Solidaritas masyarakat menghasilkan dana swadaya yang melimpah dan menggerakkan proses pembangunan secara mandiri. Tingginya partisipasi warga membuat proyek rumah ibadah swadaya tuntas jauh lebih cepat daripada proyek pemerintah.

Faishal bahkan membandingkan kecepatan kerja masyarakat dengan proyek rumah ibadah yang mengandalkan anggaran negara. Beliau menyebut beberapa proyek masjid yang memakai dana pemerintah justru kerap mandek dan tertunda penyelesaiannya.

Dukungan finansial dan tenaga dari warga membuktikan ikatan batin masyarakat Sasak dengan agamanya sangat mendalam. Keberadaan ribuan masjid indah ini terus memperkuat reputasi Lombok sebagai pusat wisata religi unggulan.(ust)

Berita Terkait

Kemenag Latih Pendamping Santri Cegah Kekerasan di Pesantren
Jadwal Salat Kota Sungai Penuh Hari Ini Kamis 22 Oktober 2026
Kanwil Kemenag Jambi Kawal Rapor Dua Tahun Asta Cita demi Manfaat Umat
Dua Tahun Kawal Asta Cita, Kemenag Perkuat Pengawasan Internal Bersih Melayani
Siswa MAN IC Pekalongan Borong Tiga Medali Ajang FIKSI 2026 di Bali
Kemenag Bekukan Aktivitas Ponpes Dar Et Tauhid Bekasi Usai Kasus Asusila Terkuak
Masjid Megah dan Terbesar di Jambi Menjadi Destinasi Wisata Religi Bersejarah
Jadwal Sholat Kota Sungai Penuh Hari Ini Senin 19 Oktober 2026 Lengkap
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Jadwal Salat Kota Sungai Penuh Hari Ini Kamis 22 Oktober 2026

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:07 WIB

Kanwil Kemenag Jambi Kawal Rapor Dua Tahun Asta Cita demi Manfaat Umat

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:11 WIB

Dua Tahun Kawal Asta Cita, Kemenag Perkuat Pengawasan Internal Bersih Melayani

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:42 WIB

Siswa MAN IC Pekalongan Borong Tiga Medali Ajang FIKSI 2026 di Bali

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:38 WIB

Kemenag Bekukan Aktivitas Ponpes Dar Et Tauhid Bekasi Usai Kasus Asusila Terkuak

Berita Terbaru

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:38 WIB

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:33 WIB

Pusat Studi Al-Qur'an menggelar diskusi keagamaan memperingati Hari Santri 2026 di Tangerang Selatan.(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Nilai Pesantren Jadi Kompas Hadapi Era AI

Kamis, 22 Okt 2026 - 14:57 WIB