Jakarta, Dorlanhikmah.com – Pusat Studi Al-Qur’an menggelar diskusi keagamaan memperingati Hari Santri 2026 di Tangerang Selatan. Forum ini membedah peran tradisi pesantren menyikapi pesatnya perkembangan kecerdasan buatan.
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Suwendi menilai pesantren memiliki fondasi moral yang kokoh. Nilai adab, musyawarah, kemandirian, dan sanad keilmuan menjaga arah masyarakat agar tidak tersesat di tengah perubahan teknologi.
Perkembangan kecerdasan buatan menyajikan informasi serbacepat dengan tingkat kepastian yang kerap semu. Oleh sebab itu, masyarakat membutuhkan pegangan nilai yang mampu menyaring kebenaran secara jernih.
Negara telah memberi pengakuan resmi terhadap tradisi pesantren lewat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019. Pengakuan kelembagaan tersebut menuntut dunia pesantren bergerak maju menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat global.
Pesantren selama ini membentuk tatanan sosial keagamaan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan. Jejaring alumni merawat nilai-nilai Islam melalui ruang pengajian, majelis taklim, dan kegiatan keagamaan warga.
Tradisi Sanad Jadi Penyaring Arus Informasi
Kehadiran kecerdasan buatan memudahkan pencarian data teknis maupun kajian keagamaan. Namun, teknologi canggih ini belum tentu menjamin ketepatan isi naskah yang tersaji.
Tradisi sanad melatih para santri melacak sumber informasi secara bertanggung jawab. Kebiasaan menguji keaslian rujukan mencegah penyebaran tafsir keliru di ruang digital.
Tantangan utama era internet bukan lagi soal kelangkaan informasi melainkan kecermatan memilah data valid. Masyarakat perlu mengembalikan urusan keagamaan kepada pakar yang memiliki otoritas keilmuan sahih.
Selain verifikasi teks, tradisi hidup bersama di pondok menanamkan adab menghargai guru dan sesama santri. Pengalaman komunal tersebut membentuk karakter pemuda yang santun saat mengemukakan pendapat di ruang publik.
Forum bahtsul masail juga melatih santri mengelola silang pendapat dengan kepala dingin. Perbedaan gagasan selalu bersandar pada dalil kuat, klarifikasi terbuka, dan penghormatan timbal balik.
Kemandirian Ekonomi Perkuat Posisi Pesantren
Pesantren juga terus mengembangkan fungsi pemberdayaan masyarakat melalui berbagai program ekonomi praktis. Lembaga pendidikan Islam kini aktif mendorong lahirnya santripreneur dan koperasi mandiri.
Gerakan usaha ini menopang ketahanan operasional pondok sekaligus menggerakkan perekonomian warga sekitar. Langkah tersebut membuktikan pesantren tanggap menjawab kebutuhan riil masyarakat sehari-hari.
Kajian Membumikan Al-Qur’an Edisi ke-38 ini turut menghadirkan Dr. M. Ulinnuha Husnan dan Muhammad Nuruddin. Para narasumber sepakat bahwa khazanah klasik tetap relevan memandu etika pemanfaatan teknologi modern.
Peserta dari kalangan santri pascatahfiz, mahasiswa, ustaz, dan pegiat literasi digital mengikuti forum ini secara antusias. Diskusi tersebut menegaskan kembali posisi pesantren sebagai benteng etika di era otomasi.(ust)







Komentar