Mataram, dorlanhikmah.com – TGB Muhammad Zainul Majdi mengukir rekam jejak panjang sebagai seorang ulama sekaligus politisi yang memimpin Nusa Tenggara Barat (NTB) selama dua periode. Pria kelahiran 31 Mei 1972 ini sukses menorehkan pelbagai prestasi mentereng sepanjang masa kepemimpinannya dari tahun 2008 hingga 2018.
Perjalanan karier politik mantan Gubernur NTB ini bermula ketika ia berhasil menduduki kursi anggota DPR RI periode 2004–2009 melalui Partai Bulan Bintang. Tokoh ulama karismatik ini kemudian terus memperluas kiprah politiknya hingga tingkat nasional melalui berbagai posisi strategis di partai politik.
Kiprah Politik dan Karier Profesional Mantan Gubernur NTB
Partai politik mendukung kiprah kepemimpinan ulama muda ini secara konsisten sejak awal kemunculannya di kancah nasional. PKS dan PBB resmi mengusung pasangan Zainul Majdi dan Badrul Munir pada Pemilihan Gubernur NTB tahun 2008 silam.
Masyarakat NTB memberikan kepercayaan besar dengan memenangkan pasangan ini pada Pilkada 7 Juli 2008. Mahkamah Agung kemudian memperkuat kemenangan tersebut setelah menolak seluruh gugatan perselisihan hasil suara dari pihak rival.
Kepercayaan publik NTB makin menguat saat Pilkada 2013 mempertemukan kembali para kandidat terbaik daerah. Partai Demokrat mengusung pasangan TGB dan Muhammad Amin hingga berhasil meraih 1.038.642 suara atau setara 44,36 persen.
Mantan Gubernur NTB ini melanjutkan dinamika politiknya dengan berpindah ke Partai Golkar setelah menyelesaikan purna tugas. Ia lantas menambatkan karier politiknya di Partai Perindo dan resmi mengemban amanat sebagai Ketua Harian Nasional DPP.
Lembaga keuangan syariah nasional juga mempercayakan posisi strategis kepada ulama yang pernah masuk bursa calon presiden 2019 ini. Bank Syariah Indonesia menunjuknya sebagai Wakil Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen pada Agustus 2021.
Rekam Jejak Pendidikan Al Azhar Kairo serta Penghargaan
Pendidikan formal doktor lulusan Kairo ini bermula dari SDN 3 Mataram hingga lulus pada tahun 1986. Ia lalu menyelesaikan jenjang SLTP dan Aliyah di Madrasah Tsanawiyah serta Aliyah Mu’allimin Nahdlatul Wathan Pancor.
Penguatan keilmuan agama berlanjut saat ia mendalami hafalan Al-Qur’an di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits Nahdlatul Wathan Pancor. Ia kemudian berangkat menuju Kairo pada tahun 1992 untuk menempuh studi S1 di Universitas Al-Azhar.
Gelar Master of Art berhasil ia raih dari kampus yang sama lima tahun setelah kelulusan S1. Puncak pendidikan akademisnya berbuah manis saat meraih gelar Doktor predikat Summa Cumlaude pada 8 Januari 2011.
Latar belakang keluarga cucu pendiri Nahdlatul Wathan ini turut membentuk karakter kepemimpinannya yang kuat. Ayahnya H.M. Djalaluddin merupakan pensiunan birokrat, sementara sang kakak Sitti Rohmi Djalilah pernah menjabat Wakil Gubernur NTB.
Pemerintah pusat dan berbagai lembaga nasional memberikan banyak penghargaan atas keberhasilan pembangunan NTB di bawah kepemimpinannya. Presiden Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Utama pada tahun 2012 atas prestasi menonjol dalam pembangunan daerah.
Sektor pariwisata NTB juga menorehkan prestasi gemilang tingkat dunia dalam ajang The World Halal Travel Summit 2015. Abu Dhabi meresmikan Lombok sebagai penerima penghargaan World’s Best Halal Honeymoon Destination dan World’s Best Halal Tourism Destination.(ust)







Komentar