Jakarta, dorlanhikmah.com – Kondisi Arab sebelum Islam menggambarkan kehidupan masyarakat yang penuh ketimpangan sosial, kerusakan moral, dan penyimpangan akidah.
Dalam kajian sirah nabawiyah, periode ini menjadi fondasi penting untuk memahami perubahan besar yang Rasulullah ﷺ bawa ke Jazirah Arab.
Masyarakat saat itu menjalani kehidupan tanpa aturan moral yang kokoh, sementara praktik jahiliyah menguasai hampir seluruh aspek kehidupan.
Rasulullah ﷺ hadir di tengah situasi tersebut untuk membangun masyarakat baru berbasis tauhid, keadilan, dan akhlak mulia.
Gambaran Al-Qur’an tentang Masyarakat Jahiliyah
Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan masyarakat Arab pra-Islam sebagai kaum yang hidup dalam dhalalun mubin atau kesesatan yang nyata. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah mengutus Rasulullah ﷺ untuk mengubah keadaan tersebut.
Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa masyarakat Arab melakukan berbagai penyimpangan seperti mengubur bayi perempuan hidup-hidup, menjalankan sistem riba yang menindas, menyembah berhala, dan terlibat perang antar kabilah.
Struktur Sosial Masyarakat Arab
Masyarakat Arab membangun kehidupan sosial berdasarkan sistem kabilah. Kelompok bangsawan menguasai perdagangan, kekuasaan politik, dan keputusan perang. Mereka juga memegang pengaruh besar dalam berbagai urusan masyarakat.
Perempuan bangsawan ikut memengaruhi keputusan kabilah dalam beberapa situasi, tetapi laki-laki tetap memegang kendali utama dalam kepemimpinan.
Ketimpangan sosial menciptakan jurang besar antara kelompok kaya dan miskin. Kondisi ini mendorong ketidakadilan yang terus berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
Praktik Pernikahan pada Masa Jahiliyah
1. Pernikahan spontan
Masyarakat Arab melangsungkan pernikahan setelah proses lamaran kepada wali perempuan. Mereka sering menyelesaikan pernikahan dalam waktu singkat tanpa persiapan matang.
2. Nikah istibdha’
Seorang suami meminta istrinya mendatangi laki-laki bangsawan untuk mendapatkan keturunan yang dianggap lebih baik. Praktik ini merusak kehormatan keluarga dan Islam melarangnya secara tegas.
3. Poliandri
Seorang perempuan menjalin hubungan dengan beberapa laki-laki sekaligus. Setelah melahirkan, ia menentukan sendiri ayah anak tersebut tanpa aturan yang jelas.
4. Pelacuran terbuka
Sebagian rumah di Makkah menandai tempat mereka dengan bendera khusus sebagai lokasi prostitusi. Masyarakat menganggap praktik ini sebagai hal biasa dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi Ekonomi yang Tidak Adil
Masyarakat Arab sebelum Islam menjalani sistem ekonomi yang timpang. Kelompok kaya menguasai perdagangan dan mengendalikan arus kekayaan, sementara kelompok miskin hidup dalam kesulitan.
Sistem riba memperburuk keadaan tersebut. Para pemilik modal memberikan pinjaman dengan bunga tinggi dan terus menambah beban hutang orang miskin.
Akibatnya, banyak keluarga terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sulit mereka lepaskan.
Akhlak Masyarakat Arab
Masyarakat Arab tetap mempertahankan beberapa nilai positif meskipun banyak kerusakan terjadi. Mereka menunjukkan sikap dermawan, menjaga janji, dan memiliki keberanian tinggi dalam menghadapi konflik.
Selain itu, mereka juga menjunjung harga diri dan membantu sesama dalam kondisi tertentu. Namun nilai-nilai ini tidak mampu menutupi dominasi perilaku menyimpang di masyarakat.
Keyakinan dan Sistem Kepercayaan
Awalnya, masyarakat Arab mengikuti ajaran tauhid Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun generasi berikutnya mengubah keyakinan tersebut secara bertahap.
Amr bin Luhay membawa berhala Hubal ke Ka’bah dan memperkenalkan penyembahan berhala secara luas di Makkah.
Masyarakat kemudian menyembah berbagai berhala seperti Hubal, Lata, Uzza, dan Manat. Mereka melakukan ritual seperti thawaf di sekitar berhala, menyembelih hewan untuk persembahan, dan meminta pertolongan kepada patung.
Selain itu, mereka menggunakan azlam untuk mengundi nasib serta mempercayai dukun dan peramal dalam kehidupan sehari-hari.
Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah menjelaskan bahwa masyarakat Arab hidup dalam kegelapan akidah dan moral sebelum Islam datang. Ia menegaskan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ untuk mengeluarkan manusia dari penyembahan makhluk menuju tauhid kepada Allah.
Sebagian kecil masyarakat Arab tetap menjalankan tradisi Nabi Ibrahim. Mereka memuliakan Ka’bah, melaksanakan haji, umrah, thawaf, dan wukuf di Arafah.
Namun mereka mencampurkan praktik tersebut dengan unsur syirik. Mereka mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi tetap menyembah berhala sebagai perantara.
Rasulullah ﷺ mengubah tatanan masyarakat Arab secara menyeluruh. Islam menghapus praktik riba, memperbaiki sistem pernikahan, dan menegakkan keadilan sosial.
Islam juga mengangkat derajat perempuan dan membangun sistem ekonomi yang lebih adil. Perubahan ini menciptakan masyarakat baru yang bersatu dalam akidah tauhid.(ust)









Komentar