Kisah Nabi Musa dan Khidhir: Ilmu, Sabar, dan Rahasia Takdir Allah

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 7 Juni 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Kisah Nabi Musa dan Khaidir( poto : kompas Walimah Andalusia ).

Ilustrasi Kisah Nabi Musa dan Khaidir( poto : kompas Walimah Andalusia ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Kisah Nabi Musa dan Khidhir dalam Surah Al-Kahfi menjelaskan pelajaran sabar dalam takdir melalui rangkaian peristiwa yang tampak bertentangan dengan logika manusia.

Namun demikian, Allah justru memperlihatkan bahwa setiap kejadian memiliki hikmah yang tidak selalu bisa dipahami secara langsung.

Seiring berjalannya kisah, Nabi Musa ‘alaihis salam belajar bahwa ilmu manusia terbatas, sedangkan ilmu Allah mencakup segala sesuatu.

Oleh karena itu, manusia perlu menggabungkan iman, sabar, dan husnuzan ketika menghadapi ketetapan Allah.

Pertemuan Nabi Musa dengan Khidhir

Allah mempertemukan Nabi Musa dengan seorang hamba saleh bernama Khidhir setelah perjalanan panjang mencari ilmu. Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Khidhir menerima rahmat serta ilmu khusus dari sisi-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا
“Lalu mereka bertemu seorang hamba yang Kami berikan rahmat dan ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65)

Para ulama seperti Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan bahwa Khidhir memperoleh ilmu khusus yang tidak dimiliki Nabi Musa dalam sebagian perkara. Meskipun demikian, Nabi Musa tetap lebih utama dalam kedudukan kerasulan dan keimanan.

Selain itu, pertemuan ini menunjukkan bahwa Allah membagi ilmu sesuai kehendak-Nya. Karena itu, tidak semua ilmu berada pada satu orang saja, meskipun ia seorang nabi.

Adab Nabi Musa dalam Menuntut Ilmu

Dalam kisah ini, Nabi Musa menunjukkan adab yang sangat tinggi ketika meminta izin untuk belajar kepada Khidhir. Ia tidak datang dengan sikap merasa lebih tahu, melainkan dengan kerendahan hati.

Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
“Musa berkata: Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar?” (QS. Al-Kahfi: 66)

Selanjutnya, Khidhir memberikan peringatan bahwa Musa tidak akan mampu bersabar terhadap hal-hal yang belum ia pahami. Dengan demikian, sejak awal sudah tampak bahwa perjalanan ini bukan sekadar belajar, tetapi juga ujian kesabaran.

Baca Juga :  Kisah Lucu Abu Nawas: Penyair Cerdas, Jenaka, dan Penuh Hikmah

Kesepakatan dan Ujian Kesabaran

Setelah itu, Khidhir menetapkan syarat agar Nabi Musa tidak mengajukan pertanyaan sebelum penjelasan diberikan. Kesepakatan ini menjadi dasar perjalanan mereka.

Allah berfirman:

قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعْتَنِى فَلَا تَسْـَٔلْنِى عَن شَىْءٍ حَتَّىٰٓ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا
“Jika engkau mengikutiku, jangan bertanya sampai aku menjelaskannya.” (QS. Al-Kahfi: 70)

Dengan demikian, Nabi Musa diuji untuk menahan diri, sementara Khidhir menjalankan peristiwa-peristiwa yang hanya bisa dipahami dengan ilmu dari Allah.

Peristiwa Pertama: Kapal yang Dilubangi

Ketika keduanya menaiki kapal milik orang miskin, Khidhir melakukan tindakan yang mengejutkan: ia melubangi kapal tersebut.

Seketika itu juga, Nabi Musa bereaksi karena melihat tindakan tersebut berpotensi membahayakan penumpang.

Allah berfirman:

قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا
“Apakah engkau melubanginya untuk menenggelamkan penumpangnya?” (QS. Al-Kahfi: 71)

Namun, Khidhir mengingatkan bahwa Nabi Musa belum mampu bersabar. Setelah itu, Musa menyadari kesalahannya karena lupa terhadap perjanjian yang telah dibuat.

Peristiwa Kedua: Anak yang Dibunuh

Perjalanan kemudian berlanjut hingga Khidhir membunuh seorang anak kecil yang tidak berdosa. Tindakan ini membuat Nabi Musa semakin terkejut.

Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةًۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ
“Mengapa engkau membunuh jiwa yang suci tanpa alasan?” (QS. Al-Kahfi: 74)

Pada momen ini, Nabi Musa tidak lagi sekadar lupa, melainkan benar-benar belum mampu memahami hikmah di balik kejadian tersebut. Oleh karena itu, Khidhir kembali menegurnya dengan tegas.

Setelah itu, Nabi Musa berjanji bahwa jika ia bertanya lagi, maka ia siap berpisah.

Peristiwa Ketiga: Tembok yang Diperbaiki

Selanjutnya, keduanya tiba di sebuah negeri yang penduduknya tidak ramah dan tidak mau menjamu tamu. Meski demikian, Khidhir justru memperbaiki tembok yang hampir roboh.

Allah berfirman:

فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُۥ
“Lalu mereka mendapati dinding yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkannya.” (QS. Al-Kahfi: 77)

Kemudian Nabi Musa kembali mempertanyakan tindakan tersebut karena tidak melihat adanya imbalan atau manfaat yang tampak secara langsung.

Baca Juga :  Cara Rasulullah ﷺ Menenangkan Hati di Perang Hunain(Bag.5)

Akhirnya, Khidhir menyatakan bahwa inilah titik perpisahan mereka.

Penjelasan Hikmah di Balik Peristiwa

Setelah perpisahan, Khidhir menjelaskan bahwa setiap peristiwa memiliki hikmah besar.

Pertama, kapal yang di lubangi justru di selamatkan dari raja zalim yang merampas kapal-kapal bagus. Dengan kata lain, kerusakan kecil menyelamatkan pemiliknya dari kerugian besar.

Kedua, anak yang di bunuh memiliki takdir yang akan merusak iman kedua orang tuanya yang saleh. Karena itu, Allah menggantinya dengan keturunan yang lebih baik.

Ketiga, tembok yang di perbaiki menyimpan harta milik dua anak yatim. Allah menjaga harta tersebut hingga mereka dewasa agar tidak di ambil orang lain.

Allah berfirman:

وَأَمَّا ٱلْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى ٱلْمَدِينَةِ
“Adapun dinding itu milik dua anak yatim di kota itu.” (QS. Al-Kahfi: 82)

Pelajaran Penting dari Kisah Nabi Musa dan Khidhir

1. Ilmu manusia terbatas

Manusia tidak mampu memahami seluruh hikmah Allah secara langsung. Karena itu, di perlukan waktu untuk melihat gambaran besar.

2. Takdir Allah selalu mengandung kebaikan

Meskipun tampak buruk, setiap ketetapan Allah menyimpan kebaikan yang lebih besar.

3. Kesabaran menjadi kunci utama

Dalam banyak keadaan, kesabaran menentukan pemahaman seseorang terhadap ujian hidup.

4. Adab kepada guru sangat penting

Nabi Musa mencontohkan bagaimana seorang murid harus bersikap rendah hati dan menghormati guru.

5. Hikmah Allah tidak pernah salah

Setiap ketetapan Allah berjalan dengan ilmu, kasih sayang, dan kebijaksanaan yang sempurna.

6. Kesalehan orang tua berdampak pada anak

Allah menjaga anak-anak yatim karena kesalehan ayah mereka, sehingga amal saleh memberi dampak luas.(ust)

Berita Terkait

Kisah Pemuda Bertobat Usai Disadarkan Pertanyaan Sederhana
Sejarah Mazhab Syafi’i dari Gaza Hingga Perkembangan Qaul Jadid
Kisah Kasih Sayang Rasulullah Memeluk Yatim Hari Raya
Kisah Imam Ahmad Hadapi Ujian Fitnah Quran Makhluk
Mengenal Asy-Syifa binti Abdullah: Tokoh Literasi dan Pelopor Perempuan Islam
Kisah Fatimah binti Hubaisy: Teladan Muslimah dan Rujukan Hukum Istihadhah
Kisah Khalidah binti Qais, Shahabiyah Penguat Dakwah Nabi
Misteri Azab Kubur dan Kisah Ular Hitam Konstantinopel
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:00 WIB

Kisah Pemuda Bertobat Usai Disadarkan Pertanyaan Sederhana

Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:00 WIB

Sejarah Mazhab Syafi’i dari Gaza Hingga Perkembangan Qaul Jadid

Rabu, 22 Juli 2026 - 07:00 WIB

Kisah Kasih Sayang Rasulullah Memeluk Yatim Hari Raya

Rabu, 22 Juli 2026 - 05:00 WIB

Kisah Imam Ahmad Hadapi Ujian Fitnah Quran Makhluk

Rabu, 22 Juli 2026 - 01:00 WIB

Mengenal Asy-Syifa binti Abdullah: Tokoh Literasi dan Pelopor Perempuan Islam

Berita Terbaru

Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi) MUI berkolaborasi dengan Baznas RI untuk memperkuat literasi keislaman digital AI.(poto: hidayatullah.com).

Berita Islam

MUI dan Baznas Latih Mujahid Digital Kuasai Teknologi AI

Kamis, 30 Jul 2026 - 09:00 WIB