Jakarta, dorlanhikmah.com – Para penempuh jalan dakwah selalu berhadapan dengan terjalnya ujian dan beratnya badai fitnah. Kondisi tersebut menjadi sunnatullah bagi siapapun yang memilih hidup sebagai pewaris perjuangan para nabi.
Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengalami perjalanan hidup yang penuh dengan ujian sangat berat. Bahkan, sejarah mencatat tidak sembarang ulama mampu memikul serta menghadapi cobaan sebesar milik beliau.
قد تداول الإمام أحمد أربع خلفاء, بعضهم بالتهديد والوعيد وبعضهم بالضرب والحبس وبعضهم بالنفي والتشريد وبعضهم بالترغيب في الرياسة و المال, ولا يزداد الإمام الا ثقة و إيمانا ويقينا
“Imam Ahmad telah melewati pergantian empat orang khalifah, di antara mereka ada yang melakukan intimidasi dan ancaman, ada yang mencambuk dan memenjara, ada yang menolak dan mengusirnya, ada pula yang merayunya dengan jabatan. Namun, tidaklah menambah apa-apa bagi Imam Ahmad kecuali kepercayaan, keimanan, dan keyakinan.”[1]
Imam Ahmad hidup pada era Kekhalifahan Abbasiyah di bawah pemerintahan Al Ma’mun, Al Mu’tashim, Al Watsiq, dan Al Mutawakkil. Keempat khalifah tersebut memberi ujian hidup yang amat berat bagi sang imam.
Tiga khalifah menekan serta menyiksa sang imam secara fisik maupun mental. Sebaliknya, satu khalifah justru berusaha membujuk dan menawari dunia karena rasa cinta serta kagumnya.
Keteguhan iman dan kesabaran membuat Imam Ahmad mampu melewati seluruh ujian tersebut. Beliau menjalani perjalanan hidupnya hingga akhir hayat dengan penuh keteguhan serta istiqamah.
Ancaman Pemahaman Penyimpang Akidah
Tokoh pemerintahan dan khalifah terjangkiti paham Mu’tazilah yang bermula pada masa pemerintahan Al Ma’mun. Sekte ini meyakini Al-Qur’an yang bersifat qadim sebagai sesuatu yang baharu atau makhluk.[2]
ولم يكن في الخلفاء قبله من بنى أمية وبنى العباس خليفة الأعلى مذهب السلف ومنهاجهم
Berkata Al Imam Baihaqi rahimahullah: “Belum pernah terjadi sebelumnya adanya pemahaman seperti ini baik di masa Umawiyah ataupun Abasiyah, karena para khalifah semuanya berpegang kepada madzhab salaf.”[3]
Para ulama menentang keras pemahaman menyimpang yang sangat berbahaya bagi akidah ini. Meyakini Al-Qur’an sebagai makhluk dapat memicu anggapan bahwa isi Al-Qur’an mengandung kesalahan serta hukumnya bisa diubah.
Aparat penguasa mulai memberikan tekanan fisik demi membendung suara kebenaran para ahli ilmu. Tindakan keras tersebut menyebabkan banyak ulama ditangkap, dipenjara, hingga mengalami siksaan berat.
Sebagian ulama berguguran dan lainnya terpaksa diam demi menjaga keselamatan diri beserta keluarga. Beberapa ulama juga memilih hijrah ke wilayah terpencil yang tidak terdampak fitnah tersebut.
Imam Ahmad menunjukkan ketegaran luar biasa dengan menghadapi penjara serta tribulasi sepanjang tiga rezim penguasa. Beliau secara konsisten bertahan pada prinsip kebenaran di tengah himpitan Al Ma’mun, Al Mu’tashim, dan Al Watsiq.
Bahaya Besar Penyimpangan Pemikiran
Para ulama menyepakati fitnah Al-Qur’an makhluk sebagai salah satu peristiwa terkelam dalam sejarah Islam. Fitnah ini merusak fondasi akidah umat dan bukan sekadar masalah fiqih atau muamalah.
Sokongan penuh para khalifah memperkuat penyebaran paham sesat ini ke seluruh penjuru negeri. Penguasa memakai kekuatan negara untuk memaksa seluruh ulama Ahlussunnah agar menerima pemikiran tersebut.
في أيام المأمون ثم المعتصم ثم الواثق بسبب القرآن العظيم وما أصابه من الحبس الطويل والضرب الشديد والتهديد بالقتل بسوء العذاب وأليم العقاب، وقلة مبالاته بما كان منهم في ذلك إليه وصبره عليه وتمسكه بما كان عليه من الدين القويم والصراط المستقيم
Berkata Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah ta’ala: “Imam Ahmad bin Hanbal terus mengalami ujian selama tiga rezim berturut-turut, yaitu masa Khalifah al Ma’mun, al Mu’tashim, dan Khalifah al Watsiq karena membela al Qur’an. Selama itu pula, ia dijebloskan ke penjara dalam waktu yang cukup lama, mendapat siksaan yang berat, bahkan diancam untuk dibunuh. Namun, semuanya beliau jalani dengan sabar dan tetap berpegang teguh kepada tuntunan agama dan jalan yang lurus.”[4]
Tekanan Berat Era Al Ma’mun
Khalifah Al Ma’mun menunjuk tokoh-tokoh Mu’tazilah menjadi mufti serta qadhi dalam pemerintahan. Puncak tekanan terjadi pada 281 H saat negara menguji keyakinan seluruh ulama secara paksa.
Pemerintah mencabut tunjangan serta fasilitas ulama yang menolak mengakui Al-Qur’an sebagai makhluk. Aparat juga memenjarakan tokoh-tokoh yang bersikukuh mempertahankan akidah Ahlussunnah.
Imam Ahmad mendebat setiap ucapan Kepala Keamanan Negara, Ishaq bin Ibrahim, dengan sangat telak. Suara beliau menggelegar tegas hingga aparat terpaksa melepaskannya akibat tekanan gejolak masyarakat.
Pemerintah melakukan pengujian gelombang kedua saat Al Ma’mun berada di daerah Thurtus. Sanksi jauh lebih berat menanti siapapun yang menolak ajaran Mu’tazilah.
Empat ulama tetap teguh menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah qadim kalamullah secara terbuka. Mereka adalah Muhammad bin Nuh, Al Qawaririy, Sajadah, dan sang Imamus Sunnah Ahmad bin Hanbal rahimahumullah.
Keteguhan Di Tengah Pengasingan Penjara
Siksaan fisik serta mental menghantam keempat ulama di dalam sel pengasingan yang amat pengap. Al Qawaririy dan Sajadah akhirnya menyerah hingga tersisa Imam Ahmad serta Muhammad Nuh.
Al Ma’mun memuncak kemarahannya dan bersumpah akan memenggal sendiri kepala kedua ulama tersebut. Utusan menyampaikan pesan ancaman pembunuhan itu langsung ke hadapan sang imam.
يا أبا عبد الله أن المأمون قد سل سيفا لم يسله قبل ذلك، وأنه يقسم بقرابته من رسول الله صلى الله عليه وسلم لئن لم تجبه إلى القول بخلق القرآن ليقتلنك بذلك السيف
“Wahai Abu Abdillah (imam Ahmad) sesungguhnya al Makmun telah menghunus sebuah pedang, dan ia tidak akan pernah menyarungkannya sebelum tujuannya tercapai. Dia telah bersumpah dengan washilah kekerabatannya dengan Rasulullah, jika engkau tidak mau mengakui Qur’an sebagai makhluk, dia akan membunuhmu dengan pedang itu.”[5]
Wasiat Keteladanan Dan Doa Terkabul
Masyarakat terus mendoakan serta mengelu-elukan Imam Ahmad selama perjalanan menuju Thurtus. Seseorang bahkan menyerukan agar beliau tidak takut mati demi meraih pahala syahid.
يا أحمد إن يقتلك الحق مت شهيدًا، وإن عشت عشت حميدًا، وما عليك أن تقتل هاهنا وتدخل الجنة
“Wahai Ahmad, jika engkau terbunuh dalam membela kebenaran, maka matimu adalah mati syahid. Jika engkau masih bisa hidup, hidupmu akan mulia. Dan tidaklah engkau dibunuh saat ini juga kecuali engkau akan masuk ke dalam Syurga.”
Sahabat bernama Abu Ja’far mengingatkan peran vital sang imam sebagai teladan utama umat. Peringatan tersebut membuat Imam Ahmad menangis tersedu seraya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
يا هذا أنت اليوم رأس، والناس يقتدون بك، فوالله لئن أجبت إلى خلق القرآن ليجيبن خلق، وإن أنت لم تجب ليمتنعن خلق من الناس كثير، ومع هذا فإن الرجل إن لم يقتلك فإنك تموت، لابد من الموت، فاتق الله ولا تجب!
“Engkau hari ini menjadi kepala bagi umat ini. Orang-orang pasti akan mengikuti apa yang engkau lakukan. Maka demi Allah, jika engkau menerima paksaan untuk mengakui al Qur’an adalah makhluk, seluruh makhluk akan mengikuti apa yang engkau katakan. Dan jika engkau tetap tidak menerimanya, orang-orang juga akan mengikutimu dalam jumlah yang banyak. Dan engkau harus ingat, jika engkau tidak jadi dibunuh oleh laki-laki itu, engkau juga bakal akan mati. Kapanpun engkau pasti mati. Maka bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau penuhi permintaan mereka !”[6]
Imam Ahmad memperbanyak doa agar Allah menahan kezaliman penguasa dan tidak mempertemukannya dengan Al Ma’mun. Allah mengabulkan doa tersebut dengan mematikan Al Ma’mun secara mendadak pada malam itu juga.
سيدي غر حلمك هذا الفاجر حتى تجرأ على أوليائك بالضرب والقتل، اللهم فإن يكن القرآن كلامك غير مخلوق فاكفنا مؤنته
“Wahai Penolongku, Penjahat ini telah tertipu dengan kelembutanMu hingga berani menyiksa dan membunuh para ulama. Ya Allah, jika Qur’an itu memang benar ucapanMu bukan makhluk, maka sudahi kami dari bencana yang ditimbulkannya.”[7]
Penderitaan Pada Masa Al Mu’tashim
Kondisi semakin memburuk saat sahabat seperjuangan beliau, Muhammad Nuh, meninggal dunia di dalam sel. Imam Ahmad terbelenggu tangan dan kakinya di penjara yang sangat gelap selama 30 bulan.
Tokoh-tokoh Mu’tazilah memojokkan sang imam dalam perdebatan di istana selama tiga hari tiga malam. Kegagalan menaklukkan hujjah sang imam membuat Al Mu’tashim memerintahkan cambukan puluhan kali hingga beliau pingsan.[8]
Pemerintah membebaskan Imam Ahmad demi mencegah revolusi kemarahan rakyat yang kian memuncak. Sang imam secara mulia memaafkan pencambukan tersebut karena memahami Al Mu’tashim terprovokasi oleh bisikan jahat.
Doa sang imam mendampingi Al Mu’tashim hingga berhasil membebaskan seorang muslimah di Amuriyah pada 223 H. Peristiwa bersejarah tersebut mengabadikan kemenangan pasukan muslim atas tentara Romawi.
Pengasingan Di Era Al Watsiq
Khalifah Al Watsiq memberi wewenang penuh kepada Ahmad bin Abi Duad untuk menyebarkan kebid’ahan. Bahkan, pemerintah menolak menebus tawanan perang kecuali mereka mau mengakui paham Al-Qur’an makhluk.[9]
Al Watsiq membunuh Syaikh Ahmad bin Nashr Al Khuza’i serta memenjarakan para ulama lainnya.[10] Imam Ahmad melarang rencana pemberontakan masyarakat demi mencegah pertumpahan darah kaum muslimin.
Al Watsiq mengusir sang imam melalui surat resmi agar tidak tinggal di wilayah kekuasaannya. Pengusiran tersebut memaksa sang imam hidup bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain.
لا يجتمعن إليك أحد، ولا تساكنى بأرض، ولا مدينة أنا فيها.
“Jangan sampai engkau bertemu dengan siapapun, jangan engkau menetap di wilayahku dan jangan engkau tinggal di kotaku.”
Imam Ahmad mengungkapkan rahasia kesabarannya saat menjawab pertanyaan dari Imam Abu Hatim. Beliau menegaskan keutamaan kejujuran dalam menyembuhkan segala bentuk luka perjuangan.
كيف نجوت من سيف الواثق؟ وعصا المعتصم؟
“Bagaimana engkau bisa selamat dari pedangnya al Watsiq dan cambuknya al Mu’tashim ?”
يا أبا حاتم، لو وضع الصدق على جرح برأ
“Wahai Abu Hatim, seandainya kejujuran itu diletakkan di atas luka sekalipun, maka ia akan langsung sembuh.”[11]
Ujian Kelapangan Bersama Al Mutawakkil
Kematian Al Watsiq menandai naiknya Khalifah Al Mutawakkil billah yang beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Penguasa baru ini membebaskan para ulama serta memulihkan hak-hak mereka secara penuh.[12]
Pemerintah menyampaikan permohonan maaf resmi beserta kompensasi khusus kepada seluruh korban fitnah. Masa penderitaan fisik Imam Ahmad pun berganti menjadi ujian baru berupa kelapangan dunia.(ust)
Bersambung










Komentar