Tanda Hati Jauh dari Allah SWT dan Bahayanya bagi Muslim

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tanda hati mulai jauh dari Allah.(poto: istimewa).

Tanda hati mulai jauh dari Allah.(poto: istimewa).

Jakarta, dorlanhikmah.com  – Hati memiliki peran penting dalam kehidupan seorang Muslim. Karena itu, tanda hati jauh dari Allah perlu dikenali agar seseorang dapat segera melakukan introspeksi dan kembali mendekatkan diri kepada-Nya.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa hati memengaruhi seluruh perilaku manusia. Ketika hati baik, anggota tubuh akan mengikuti kebaikan tersebut. Sebaliknya, kerusakan hati dapat mendorong seseorang melakukan berbagai keburukan.

1. Malas Menjalankan Ibadah

Rasa malas ketika menjalankan ibadah menjadi salah satu tanda yang patut diwaspadai. Kondisi tersebut dapat terlihat ketika seseorang merasa berat melaksanakan salat atau semakin jarang mengingat Allah SWT.

Al-Qur’an menggambarkan sikap orang yang menjalankan salat dengan malas melalui firman Allah SWT:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah SWT, tetapi Allah SWT membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah SWT, kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)

Ayat tersebut menjadi peringatan agar seorang Muslim tidak membiarkan kemalasan menguasai ibadah. Sebaliknya, ia perlu menjaga salat dan memperbanyak amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2. Terlalu Mengutamakan Kehidupan Dunia

Hati yang mulai jauh dari Allah SWT juga dapat terlihat ketika seseorang terlalu mengejar kehidupan dunia. Harta, jabatan, dan kesenangan dunia akhirnya menjadi perhatian utama hingga kehidupan akhirat terabaikan.

Rasulullah SAW menjelaskan perbedaan antara orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan dan orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan. Hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik menyebutkan:

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ صَبِيحٍ، عَنْ يَزِيدِ بْنِ أَبَانَ، وَهُوَ الرَّقَاشِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ” مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

Artinya: “Siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah menjadikan kekayaannya dalam hatinya, dan mengatur urusannya, dan dunia datang kepadanya meskipun ia tidak menginginkannya. Dan siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah menempatkan kemiskinannya di depan matanya, dan mengacaukan urusannya, dan dunia tidak datang kepadanya, kecuali apa yang telah ditentukan untuknya.” (HR. Tirmidzi No. 2465)

Baca Juga :  Surah At-Takwir dan Gambaran Dahsyat Hari Kiamat

Hadis tersebut tidak berarti seorang Muslim harus meninggalkan urusan dunia. Namun, seorang Muslim perlu menempatkan kehidupan dunia sebagai sarana untuk mempersiapkan kehidupan akhirat.

3. Tidak Lagi Merasa Gelisah Saat Berbuat Dosa

Hati yang sehat semestinya memberikan dorongan untuk menjauhi perbuatan dosa. Karena itu, seseorang perlu waspada ketika ia mulai melakukan maksiat tanpa merasa bersalah, gelisah, atau malu jika orang lain mengetahuinya.

Rasulullah SAW menjelaskan makna kebaikan dan dosa dalam hadis yang diriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam’an:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ، عَنْ مُعَاوِيَةِ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ

عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ الأَنْصَارِيِّ، قَالَ سَأَلْتُ

رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنِ الْبِرِّ وَالإِثْمِ فَقَالَ ” الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ

فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ ” .

Artinya: “Kebaikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa yang mengganggu dalam hatimu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim No. 2553)

Oleh sebab itu, hilangnya rasa bersalah setelah melakukan dosa patut menjadi bahan evaluasi diri. Seorang Muslim perlu segera bertobat dan memohon ampun ketika menyadari kesalahan tersebut.

4. Terus Mengulangi Perbuatan Dosa

Kebiasaan mengulangi dosa juga menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dosa dapat meninggalkan noda pada hati seseorang.

Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah menerangkan kondisi tersebut:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ، عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ : ( كلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ) ” . قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ .

Artinya: “Sesungguhnya, ketika seorang hamba (Allah) melakukan dosa, maka akan muncul titik hitam di hatinya. Ketika ia menahan diri, memohon ampun, dan bertobat, hatinya akan bersih kembali. Namun jika ia kembali, maka titik tersebut akan bertambah hingga menutupi seluruh hatinya. Dan itulah ‘Ran’ yang disebutkan Allah: ‘Sekali-kali tidak, tetapi pada hati mereka ada Ran yang mereka peroleh.” (HR. Tirmidzi No. 3334)

Baca Juga :  Dampak Buruk Maksiat Menurut Ibnul Qayyim dan Ulama Salaf

Hadis tersebut menunjukkan pentingnya segera meninggalkan dosa dan memohon ampun kepada Allah SWT. Sebab, kebiasaan mengulangi maksiat dapat semakin menutupi hati dari menerima kebenaran.

Hati yang Jauh dari Allah SWT dan Bahayanya

Hati yang keras dan lalai dapat menjadi penghalang seseorang dalam menerima petunjuk. Al-Qur’an menggambarkan kondisi tersebut dalam firman Allah SWT:

وَّجَعَلْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اَكِنَّةً اَنْ يَّفْقَهُوْهُ وَفِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرًاۗ وَاِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِى الْقُرْاٰنِ وَحْدَهٗ وَلَّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِهِمْ نُفُوْرًا

Artinya: “Kami jadikan di atas hati mereka penutup-penutup (sesuai dengan kehendak dan sikap mereka) sehingga mereka tidak memahaminya dan di telinga mereka ada penyumbat (sehingga tidak mendengarnya). Apabila engkau menyebut (nama) Tuhanmu saja dalam Al-Qur’an, mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena benci).” (QS. Al-Isra’: 46)

Berdasarkan tafsir Kementerian Agama RI yang tercantum dalam materi sumber, hati yang tertutup membuat pemiliknya sulit menerima kebenaran dan mengikutinya. Kondisi tersebut menjadi dampak dari perbuatan manusia yang mengikuti hawa nafsu dan menjauh dari petunjuk Allah SWT.

Selain itu, Rasulullah SAW juga mengingatkan umat Islam agar tidak berdoa dalam keadaan lalai. Beliau bersabda:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْجُمَحِيُّ، – وَهُوَ رَجُلٌ صَالِحٌ حَدَّثَنَا صَالِحٌ الْمُرِّيُّ، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ” ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ ” . قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ . سَمِعْتُ عَبَّاسًا الْعَنْبَرِيَّ يَقُولُ اكْتُبُوا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُعَاوِيَةَ الْجُمَحِيِّ فَإِنَّهُ ثِقَةٌ .

Artinya: “Berdoalah kepada Allah SWT dengan keyakinan akan di kabulkan, dan ketahuilah oleh kalian semua, sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengabulkan doa dari orang yang hatinya lalai dan sibuk dengan permainan.” (HR. Tirmidzi N0. 3479)

Segera Perbaiki Diri Ketika Hati Mulai Lalai

Empat tanda tersebut dapat menjadi bahan introspeksi bagi setiap Muslim. Rasa malas beribadah, terlalu mengutamakan dunia, hilangnya kegelisahan ketika berbuat dosa, serta kebiasaan mengulangi maksiat perlu mendapat perhatian.

Karena itu, seorang Muslim perlu terus menjaga hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah, zikir, membaca Al-Qur’an, istigfar, dan tobat. Dengan begitu, hati tetap terarah kepada kebaikan dan tidak mudah terseret oleh hawa nafsu.(ust)

Berita Terkait

Kemuliaan Sejati Menurut Islam Bukan Ditentukan Jabatan
Panduan Alquran Menghadapi Tekanan Hidup dan Ujian Modern
Rezeki Tidak Akan Tertukar: Memahami Jaminan Allah dalam Alquran
Makna dan Dalil Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW
Urutan Turun Surat Al-Qur’an Versi Ulama dan Orientalis
Asbabun Nuzul Turunnya Surat Ad-Dhuha Penenteram Jiwa
Matan Tuhfatul Athfal: Syair Hukum Nun Sukun dan Tanwin Teks Arab dan Artinya
Pengertian Mad dan Jenisnya Lengkap Menurut Tajwid
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 08:16 WIB

Kemuliaan Sejati Menurut Islam Bukan Ditentukan Jabatan

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:10 WIB

Panduan Alquran Menghadapi Tekanan Hidup dan Ujian Modern

Minggu, 30 Agustus 2026 - 09:03 WIB

Rezeki Tidak Akan Tertukar: Memahami Jaminan Allah dalam Alquran

Jumat, 28 Agustus 2026 - 14:16 WIB

Makna dan Dalil Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Selasa, 25 Agustus 2026 - 16:14 WIB

Urutan Turun Surat Al-Qur’an Versi Ulama dan Orientalis

Berita Terbaru

Ketua Umum PBNU terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz.(poto: detikhikmah).

Berita Islam

Gus Kikin Pimpin PBNU 2026–2031, Ajak NU Kembali ke Qanun Asasi

Selasa, 1 Sep 2026 - 14:53 WIB