Jakarta, dorlanhikmah.com – Rasa cemas menghadapi masa depan dan kecukupan hidup kerap menghinggapi pikiran banyak orang. Oleh karena itu, pemahaman tentang ayat rezeki tidak tertukar memberikan jaminan ketenangan jiwa di tengah persaingan hidup.
Masyarakat sering kali mempertanyakan keberhasilan orang lain dan mengkhawatirkan nasib kebutuhan harian mereka. Meskipun demikian, agama Islam mengajarkan bahwa Allah SWT telah menetapkan porsi rezeki setiap hamba tanpa ada yang tertukar.
Prinsip tersebut bukan sekadar kata-kata penenang, melainkan memiliki landasan kuat di dalam Alquran. Dengan demikian, pemahaman terhadap ayat-ayat ini mendorong umat Muslim untuk tetap berikhtiar sekaligus berserah diri atas hasilnya.
Ketetapan Takdir Dan Jaminan Rezeki Manusia Menurut Islam
Allah SWT menentukan takdir dan ukuran rezeki setiap makhluk sejak awal penciptaan. Selain itu, ketetapan tersebut menjamin bahwa tidak ada satu pun hak hamba yang berpindah tangan tanpa kehendak-Nya.
Namun demikian, keyakinan atas takdir ini tidak lantas membuat seorang hamba berhenti berusaha. Sebab, setiap Muslim tetap wajib bekerja keras dan mencari nafkah melalui jalan yang halal.
Pada hakikatnya, hasil dari setiap ikhtiar merupakan wujud nyata ketetapan Allah SWT bagi hamba-Nya. Oleh sebab itu, konsep ini mengajarkan setiap orang untuk tidak bersikap iri atas pencapaian atau keberhasilan orang lain.
Sebab itu, porsi yang sudah menjadi takdir kita tidak akan pernah terlewat. Begitu pula sebaliknya, rezeki orang lain tidak akan pernah menjadi milik kita.
Deretan Ayat Alquran Tentang Jaminan Rezeki Setiap Manusia
Alquran menegaskan jaminan Allah SWT mengenai pemenuhan kebutuhan seluruh makhluk bumi. Bahkan, berbagai surah menyampaikan pesan tegas mengenai jaminan hidup dan keberkahan dari-Nya.
Sebagai contoh, Surat Hud ayat 6 menjelaskan jaminan pemeliharaan Allah bagi seluruh makhluk yang bergerak di bumi. Dalam hal ini, Allah mengetahui tempat kediaman serta tempat penyimpanan rezeki makhluk-Nya dalam Lauh Mahfuzh.
QS. Hud: 6
۞ وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
Wa maa min daaabbatin fil ardi illaa ‘alal laahi rizquhaa wa ya’lamu mustaqarrahaa wa mustawda’ahaa; kullun fee Kitaabim Mubeen
Artinya: “Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
Selanjutnya, Surat At-Talaq ayat 3 menjanjikan karunia yang datang dari arah tidak terduga bagi orang yang bertawakal. Dengan kata lain, Allah pasti mencukupkan kebutuhan dan melaksanakan seluruh urusan hamba yang berserah diri kepada-Nya.
QS. At-Talaq: 3
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Wa yarzuqhu min haisu laa yahtasib; wa many yatawakkal ‘alal laahi fahuwa husbuh; innal laaha baalighu amrih; qad ja’alal laahu likulli shai’in qadraa
Artinya: “dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”
Sementara itu, Surat Al-Ankabut ayat 60 memberi kabar gembira bagi makhluk lemah yang tidak bisa mengurus kebutuhannya sendiri. Melalui ayat tersebut, Allah SWT memberi makan makhluk tersebut sekaligus menjamin pemenuhan kebutuhan manusia.
QS. Al-’Ankabut: 60
كَأَيِّن مِّن دَابَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Wa ka ayyim min daaabbatil laa tahmilu riqqahaa; al laahu yarzuquhaa wa iyyaakum; wa Huwas Samee’ul Aleem
Artinya: “Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Di samping itu, Surat Al-Isra ayat 30 menegaskan wewenang Allah dalam melapangkan atau membatasi rezeki seseorang. Hal ini karena Allah Maha Mengetahui serta Maha Melihat kondisi dan kebutuhan hamba-hamba-Nya.
QS. Al-Isra: 30
إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
Inna Rabbaka yabsuturrizqa limai yashaaa’u wa yaqdir; innahoo kaana bi’ibaadihee Khabeeram Baseera
Artinya: “Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki); sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”
Terakhir, Surat Al-Baqarah ayat 212 mengingatkan bahwa Allah memberikan karunia tanpa batas kepada siapa yang Dia kehendaki. Meskipun orang kafir memandang indah dunia dan menghina orang beriman, kedudukan orang bertakwa tetap lebih tinggi pada hari Kiamat.
QS. Al-Baqarah: 212
زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Zuyyina lillazeena kafarul hayaatud dunyaa wa yaskharoona minal lazeena aamanoo; wallazeenat taqaw fawqahum yawmal Qiyaamah; wallaahu yarzuqu mai yashaaa’u bighairi hisaab
Artinya: “Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kafir, dan mereka menghina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari Kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”(ust)










Komentar