Jakarta, dorlanhikmah.com – Pada hakikatnya, setiap tindakan manusia sentiasa bermuara pada keridaan dan kemurkaan Allah. Oleh karena itu, Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad mengingatkan umat Islam mengenai hukum ketetapan Sang Pencipta tersebut.
Melalui kehendak mutlak-Nya, Pencipta meletakkan keridaan pada ketaatan hamba. Sebaliknya, perbuatan maksiat secara langsung menjadi pemicu timbulnya kemurkaan Ilahi.
Penjelasan Kitab Risalatul Mudzakarah
Selain itu, penjelasan rinci mengenai hukum ketetapan ini tertera dalam kitab Risalatul Mudzakarah Maal Ikhwanul Muhibbin Min Ahli Khair Wad Din. Di dalamnya menerangkan bahwa ketaatan menghantarkan manusia menuju keridaan Sang Khalik.
Sementara itu, perbuatan maksiat justru menyeret pelakunya ke dalam lingkaran murka Tuhan. Oleh sebab itu, Allah SWT menjanjikan surga bagi siapa saja yang mentaati-Nya melalui perantara rahmat-Nya.
Namun demikian, bagi penentang ajaran-Nya, ancaman neraka menanti sebagai bentuk keadilan serta kebijaksanaan-Nya. Selanjutnya, ketentuan tegas mengenai janji dan ancaman tersebut tersurat langsung dalam Al-Qur’an.
Dalil Al-Qur’an tentang Ketaatan dan Maksiat
Mengenai hal tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ ۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ يُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ وَذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Itu adalah batas-batas (ketentuan) Allah. Siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Mereka) kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS An-Nisa Ayat 13)
Bahkan, bagi siapa saja yang melanggar batas hukum-Nya, Allah SWT memberikan peringatan keras. Peringatan tersebut kemudian tersurat secara jelas dalam ayat berikutnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَتَعَدَّ حُدُوْدَهٗ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيْهَاۖ وَلَهٗ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ ࣖ
“Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar batas-batas ketentuan-Nya, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam api neraka. (Dia) kekal di dalamnya. Baginya azab yang menghinakan.” (QS An-Nisa Ayat 14)
Perintah Bersegera Meraih Ampunan dan Menjaga Keluarga
Oleh sebab itu, Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman agar segera menjemput ampunan dan surga-Nya. Langkah tersebut terlaksana dengan cara menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
Di samping itu, umat Islam juga mengemban kewajiban menjaga diri beserta keluarga dari siksa api neraka. Perintah membentangi diri dan keluarga ini pun termaktub jelas dalam firman-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS Ali Imran Ayat 133)
Akhirnya, seruan perlindungan keluarga dari siksa neraka dipertegas kembali pada surat lainnya. Sebab, penjagaan tersebut merupakan kewajiban utama setiap hamba yang beriman.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS At-Tahrim Ayat 6).(ust)










Komentar