Kritik Penafsiran “Ayat MBG” dalam Surah Quraisy

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Surat Al-Quraisy( poto : tarbiyah )

Surat Al-Quraisy( poto : tarbiyah )

Jakarta, dorlanhikmah.com – Fenomena kritik penafsiran ayat MBG muncul setelah sebagian pihak mengaitkan Surah Quraisy ayat 4 dengan program Makan Bergizi Gratis.

Mereka menggunakan penggalan ayat tentang Allah yang memberi makan manusia untuk mendukung narasi kebijakan publik tersebut.

Sebagian kalangan kemudian menilai langkah itu tidak tepat karena mereka melihat adanya pemaksaan makna terhadap teks Al-Qur’an.

Mereka menekankan bahwa penafsiran ayat tidak boleh lepas dari konteks turunnya wahyu dan penjelasan para ulama.

Klaim “Ayat MBG” dan Respons Publik

Sebagian tokoh mengutip Surah Quraisy ayat 4:

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ

Artinya: “(Tuhan) yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar.” (QS. Quraisy: 4)

Mereka lalu mengaitkan ayat itu dengan program Makan Bergizi Gratis. Mereka menyebut ayat tersebut seolah mendukung kebijakan pemerintah dalam pemenuhan gizi masyarakat.

Namun, banyak pengamat tafsir menilai langkah itu tidak sesuai dengan kaidah ilmiah dalam ilmu tafsir. Mereka menegaskan bahwa seseorang tidak boleh menarik kesimpulan langsung tanpa memahami konteks sejarah dan maksud ayat.

Tafsir Ulama tentang Surah Quraisy

Para mufasir menjelaskan bahwa Surah Quraisy berbicara tentang nikmat Allah kepada suku Quraisy, bukan tentang program pangan modern.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa Allah mengingatkan dua nikmat utama kepada Quraisy, yaitu keamanan perjalanan dagang dan kecukupan rezeki di Makkah. Ia menegaskan bahwa Allah memberikan semua itu sebagai karunia, bukan hasil usaha manusia semata.

Al-Qurthubi juga mengutip riwayat Ibnu Abbas yang menjelaskan bahwa nikmat tersebut berhubungan dengan doa Nabi Ibrahim:

Baca Juga :  Prinsip Imam Syafi'i Memahami Nas

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَراتِ

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman dan berikan rezeki kepada penduduknya.” (QS. Al-Baqarah: 126)

Riwayat ini menunjukkan bahwa keamanan dan rezeki Quraisy memiliki akar spiritual yang kuat.

Penegasan Ar-Razi tentang Makna Tauhid

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa Surah Quraisy memiliki hubungan langsung antara nikmat dan perintah ibadah.

Allah terlebih dahulu memerintahkan:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ

Kemudian Allah menjelaskan alasan perintah itu, yaitu karena Dia telah memberi makan dan rasa aman kepada mereka.

Ar-Razi menjelaskan bahwa manusia wajib membalas nikmat dengan syukur, dan syukur tertinggi muncul dalam bentuk ibadah kepada Allah. Ia menekankan bahwa ayat tersebut berfungsi sebagai penguat tauhid, bukan penjelasan program sosial.

Sebagian pihak mengaitkan ayat tersebut dengan program Makan Bergizi Gratis karena melihat kata “memberi makan”. Namun pendekatan ini mengabaikan perbedaan konteks.

Dalam Surah Quraisy, Allah berbicara tentang nikmat universal yang mengatur kehidupan manusia secara keseluruhan. Sementara itu, program MBG merupakan kebijakan teknis yang bergantung pada sistem pemerintahan dan anggaran negara.

Ketika seseorang menyamakan keduanya, ia berisiko mengaburkan batas antara wahyu ilahi dan kebijakan manusia.

Pentingnya Konteks dalam Tafsir Al-Qur’an

Ilmu tafsir menempatkan konteks sebagai elemen utama dalam memahami makna ayat. Tanpa konteks, seseorang dapat menafsirkan ayat sesuai keinginan pribadi.

Baca Juga :  Menjaga Kemurnian Dalil: Cara Benar Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah untuk Membuktikan Keberadaan Allah ( Bag.3 )

Imam Jalaluddin as-Suyuthi menegaskan dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul:

لا يمكن معرفة تفسير الأية دون الوقوف على قصتها وبيان نزولها

Artinya: “Tidak mungkin seseorang memahami tafsir ayat tanpa mengetahui sebab turunnya.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa tafsir harus mengikuti metodologi ilmiah, bukan asumsi bebas.

Bahaya Memaksakan Makna Ayat

Ketika seseorang memaksakan ayat untuk mendukung agenda tertentu, ia menggeser fungsi Al-Qur’an dari petunjuk menjadi alat legitimasi.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa sebagian orang menggunakan ayat atau hadis untuk mendukung pendapat yang sebenarnya tidak dimaksudkan oleh teks.

Ia mencontohkan orang yang mengubah makna “sahur” dalam hadis menjadi zikir, padahal Nabi bermaksud makan sahur. Menurut Al-Ghazali, tindakan seperti ini termasuk kesalahan dalam metode penafsiran.

Ketika tafsir tidak mengikuti kaidah, masyarakat dapat mengalami kebingungan. Mereka sulit membedakan antara makna agama dan kepentingan politik.

Selain itu, penggunaan ayat secara tidak tepat dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap diskursus keagamaan yang ilmiah. Al-Qur’an pun berisiko dipahami secara sempit hanya untuk membenarkan kebijakan tertentu.

Menghadirkan nilai agama dalam kebijakan publik tetap dapat dilakukan. Namun, para pembuat wacana perlu menjaga batas antara teks suci dan kebijakan teknis.

Para ulama menekankan bahwa Al-Qur’an memiliki makna yang luas dan mendalam. Oleh karena itu, setiap upaya interpretasi harus mengikuti kaidah tafsir yang benar agar tidak terjadi penyimpangan makna.(ust)

Berita Terkait

Tafsir Al-Baqarah Ayat 5: Kunci Meraih Keberuntungan Abadi
Makna Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 4
Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 3
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 2: Kebenaran Mutlak dan Petunjuk Hidup
Rahasia Huruf Muqatta’ah Pembuka Surah Al-Baqarah Ayat 1
Tafsir Surah An-Naas Menurut Penjelasan Kitab Jalalain
Membedah Standar Kebenaran Tafsir Alquran Lewat Timbangan Filsafat
Rahasia Balaghah Al-Qur’an: Mengapa Perintah Disampaikan Lewat Kalimat Berita?
Berita ini 25 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 05:52 WIB

Tafsir Al-Baqarah Ayat 5: Kunci Meraih Keberuntungan Abadi

Kamis, 5 November 2026 - 11:22 WIB

Makna Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 4

Rabu, 4 November 2026 - 06:18 WIB

Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 3

Rabu, 4 November 2026 - 06:08 WIB

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 2: Kebenaran Mutlak dan Petunjuk Hidup

Rabu, 4 November 2026 - 06:05 WIB

Rahasia Huruf Muqatta’ah Pembuka Surah Al-Baqarah Ayat 1

Berita Terbaru

Ilustrasi Tafsir AL-qur'an.(poto: dorlanhikmah.com).

Al-Qur'an

Tafsir Al-Baqarah Ayat 5: Kunci Meraih Keberuntungan Abadi

Sabtu, 7 Nov 2026 - 05:52 WIB

Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, hadir langsung di lokasi acara untuk menyaksikan jalannya kompetisi.(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Persaingan Sengit Final KTIQ dan KTIH MTQH Ke-55 Provinsi Jambi

Sabtu, 7 Nov 2026 - 05:47 WIB

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyambut langsung kedatangan seluruh ketua delegasi negara anggota pada Minggu (1/11/2026).(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Menag Ajak Negara MABIMS Bangun Peradaban Islam dari Asia Tenggara

Sabtu, 7 Nov 2026 - 05:43 WIB

Direktur Jenderal Pesantren Kemenag, Basnang Said.(poto: jemabi.kemenag.go.id).

Pendidikan

Kemenag Rilis Juknis Himayatu Thalabah untuk Lindungi Santri

Sabtu, 7 Nov 2026 - 05:40 WIB

Arena Musabaqah Al-Hadis MTQH Ke-55 Tingkat Provinsi Jambi Tahun 2026 resmi memasuki babak puncak pada Kamis (5/11/2026).(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Peserta Finalis Beradu Hafalan di Musabaqah Al-Hadis MTQH Jambi

Sabtu, 7 Nov 2026 - 05:36 WIB