Jakarta, dorlanhikmah.com – Argumentasi keberadaan Tuhan menjadi salah satu pembahasan penting di tengah derasnya arus pemikiran modern yang sering menggugat keyakinan manusia terhadap agama.
Dalam Islam, Al-Quran dan As-Sunah hadir sebagai sumber petunjuk yang lengkap untuk menjawab berbagai persoalan hidup, termasuk tentang bukti keberadaan Allah ﷻ.
Namun, para ulama mengingatkan bahwa penggunaan dalil tidak boleh dilakukan secara sembarangan, apalagi sampai menyelewengkan makna ayat demi menyesuaikan dengan opini pribadi atau fenomena tertentu.
Karena itu, memahami kaidah menggunakan Al-Quran dan As-Sunah menjadi hal yang sangat penting. Selain menjaga kemurnian agama, langkah ini juga membantu umat Islam terhindar dari penafsiran liar yang dapat menyesatkan masyarakat.
Al-Quran Menjadi Petunjuk yang Terjaga
Sejak awal diturunkan, Allah ﷻ menjaga kemurnian Al-Quran dengan sangat ketat. Riwayat bacaan, susunan ayat, hingga variasi qiraah tercatat jelas dan diwariskan secara mutawatir dari generasi ke generasi.
Keistimewaan ini membuat Al-Quran memiliki tingkat validitas yang sangat tinggi dibandingkan kitab-kitab agama lainnya. Karena itu, para ulama menegaskan bahwa tidak seorang pun boleh mengubah teks maupun makna Al-Quran.
Fenomena penyelewengan semacam ini ternyata sudah muncul sejak zaman dahulu. Ibnu Khuzaimah rahimahullah pernah menjelaskan adanya kelompok ahli bid’ah yang mengubah ayat:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah adalah cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35)
Mereka mengubahnya menjadi:
اللَّهُ نَوَّرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Allah menerangi langit dan bumi.”
Sekilas perubahan itu terlihat kecil. Namun, dalam bahasa Arab, penambahan tasydid berarti tambahan huruf yang otomatis mengubah makna ayat. Para ulama memandang tindakan tersebut sebagai bentuk penyelewengan terhadap wahyu Allah.
Al-Quran Tidak Boleh Diubah Sesuka Hati
Allah ﷻ telah memperingatkan perilaku ahli kitab yang memutarbalikkan isi kitab suci demi kepentingan tertentu.
Dalam Surah Ali Imran ayat 78, Allah berfirman:
“Di antara mereka ada segolongan orang yang memutar-mutar lisannya membaca Al-Kitab supaya kamu mengira itu bagian dari kitab, padahal itu bukan bagian dari kitab.”
Selain itu, Allah juga berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 46:
“Orang-orang Yahudi mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.”
Ayat-ayat tersebut menjadi peringatan keras agar umat Islam tidak mengikuti cara serupa dalam memahami Al-Quran.
Al-Qadhi Iyadh rahimahullah bahkan menjelaskan konsekuensi berat bagi orang yang sengaja mengubah Al-Quran.
Ia berkata:
“Barangsiapa dengan sengaja mengurangi satu huruf, mengganti satu huruf, atau menambahkan huruf yang bukan bagian dari Al-Quran, maka ia telah kafir.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa menjaga keaslian Al-Quran bukan sekadar kewajiban ilmiah, melainkan bagian dari menjaga akidah umat.
Bahaya Cocokologi dalam Menafsirkan Ayat
Selain mengubah teks, sebagian orang juga menyelewengkan makna ayat melalui praktik cocokologi. Mereka memaksakan tafsir tertentu agar terlihat sesuai dengan teori ilmiah, fenomena alam, atau isu yang sedang viral.
Padahal, para ulama menegaskan bahwa Al-Quran bukan kitab sains yang menjelaskan seluruh fenomena secara detail. Al-Quran merupakan kitab petunjuk yang mengarahkan manusia untuk mengenal kebesaran Allah.
Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Ayat tersebut menegaskan bahwa alam semesta adalah tanda kekuasaan Allah. Namun, bukan berarti semua rincian ilmu pengetahuan harus dicocokkan secara paksa dengan ayat Al-Quran.
Karena itu, sebagian pendakwah menyampaikan kaidah populer:
“Al-Quran bukan kitab science, tetapi kitab signs.”
Artinya, Al-Quran mengandung petunjuk dan tanda-tanda kebesaran Allah, bukan ensiklopedia ilmiah yang membahas seluruh teori modern secara rinci.
Islam Larang Bicara Agama Tanpa Ilmu
Fenomena cocokologi sering muncul karena seseorang berbicara tentang agama tanpa dasar ilmu yang kuat. Islam sangat melarang sikap seperti ini karena dapat menyesatkan masyarakat.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barangsiapa berbicara tentang Al-Quran menurut pendapatnya sendiri, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2951)
Hadits ini menjadi peringatan keras agar umat Islam tidak sembarangan menafsirkan ayat tanpa memahami ilmu tafsir, ulumul Quran, dan penjelasan ulama.
Pentingnya Mengikuti Pemahaman Ulama
Para ulama salaf selalu menekankan pentingnya belajar agama melalui guru dan sanad keilmuan yang jelas.
Sebab, pemahaman agama tidak cukup hanya mengandalkan terjemahan ayat atau kemampuan membaca hadis.
Ibnu Wahb rahimahullah berkata:
“Siapa pun penghafal hadis yang tidak memiliki imam dalam fikih, maka ia akan tersesat.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa seseorang tetap membutuhkan bimbingan ulama agar tidak salah memahami dalil.
Dalam Tafsir Al-Qurthubi juga dijelaskan:
“Barangsiapa berbicara tentang Al-Quran dengan pendapat yang tidak dikenal oleh para sahabat dan tabi’in, maka ia sedang menuju kemurkaan Allah.”
Karena itu, para ulama mengingatkan agar umat Islam tidak merasa paling benar sebelum benar-benar mendalami ilmu agama secara menyeluruh.
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bahkan berkata:
“Barangsiapa mengklaim dirinya mencapai derajat yang belum ia capai, maka Allah akan membuka kedoknya.”
Mengapa Pembahasan Eksistensi Tuhan Semakin Penting?
Perkembangan media sosial membuat berbagai pemikiran ateisme dan skeptisisme menyebar dengan sangat cepat.
Banyak orang akhirnya mempertanyakan keberadaan Tuhan karena terpengaruh narasi yang tidak memiliki dasar ilmiah maupun agama.
Dalam kondisi seperti ini, umat Islam perlu memahami argumentasi keberadaan Tuhan secara benar dan proporsional.
Islam sendiri mengajarkan bahwa manusia telah lahir membawa fitrah untuk mengenal Sang Pencipta.
Karena itu, pembahasan tentang eksistensi Allah bukan sekadar diskusi filsafat, tetapi bagian dari menjaga keimanan di tengah gempuran syubhat modern.
Selain memperkuat akidah pribadi, pemahaman yang benar juga membantu masyarakat lebih bijak dalam menerima informasi agama di internet.
Dengan begitu, umat tidak mudah percaya pada tafsir viral yang belum jelas dasar ilmunya.
Menjaga Dalil Berarti Menjaga Akidah
Menggunakan Al-Quran dan As-Sunah sebagai dalil membutuhkan ilmu, adab, dan tanggung jawab besar.
Umat Islam tidak boleh mengubah teks wahyu, memaksakan tafsir, atau membuat cocokologi tanpa dasar ilmu yang jelas.
Sebaliknya, setiap Muslim perlu merujuk kepada penjelasan ulama yang memiliki otoritas dan sanad keilmuan yang terpercaya.
Dengan cara itulah Al-Quran benar-benar menjadi petunjuk hidup yang menerangi manusia, sekaligus menjaga kemurnian akidah dari berbagai penyimpangan.(ust)
wallahu a’lam
Selesai










Komentar