Jakarta, dorlanhikmah.com – Keyakinan nama dan sifat Allah merupakan bagian mendasar dalam akidah Islam yang harus dipahami setiap muslim dengan benar.
Seorang mukmin wajib meyakini seluruh nama dan sifat Allah sebagaimana yang Allah tetapkan dalam Al-Qur’an dan sebagaimana yang Rasulullah ﷺ jelaskan, tanpa mengubah makna, tanpa menolak, tanpa membayangkan bentuknya, dan tanpa menyerupakannya dengan makhluk.
Para ulama menjelaskan bahwa pembahasan ini termasuk dalam pembahasan tauhid al-asma’ wa ash-shifat. Pemahaman yang benar akan menjaga seorang muslim dari penyimpangan dalam mengenal Rabb-nya sekaligus menguatkan keimanan.
Dalam kitab Al-‘Aqidah Al-Waasithiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan:
“Termasuk keimanan kepada Allah adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya sendiri dan juga yang Rasulullah tetapkan untuk Allah tanpa melakukan tahrif, ta’thil, tamtsil, dan takyif.”
Penjelasan ini menjadi landasan penting dalam memahami nama dan sifat Allah.
Menetapkan Nama dan Sifat Allah Tanpa Tahrif
Tahrif berarti mengubah sesuatu dari makna atau bentuk asalnya. Dalam pembahasan akidah, tahrif berarti mengubah lafaz atau makna dalil yang berbicara tentang nama dan sifat Allah.
Ulama membagi tahrif menjadi dua bentuk.
Tahrif Lafdzi
Tahrif lafdzi terjadi ketika seseorang mengubah susunan lafaz dengan menambah, mengurangi, atau mengganti huruf sehingga maknanya berubah.
Contoh yang sering disebut para ulama adalah perubahan pada firman Allah:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Sebagian pihak mengubah kata اسْتَوَى menjadi اسْتَوَلى dengan tujuan menghilangkan makna istiwa’.
Contoh lain adalah menambah lafaz pada ayat:
وَجَاء رَبُّكَ
lalu diubah menjadi:
وَجَاء أَمْرُ رَبِّكَ
Penambahan itu dilakukan untuk mengalihkan makna yang dipahami dari nash.
Tahrif Maknawi
Tahrif maknawi terjadi ketika seseorang tetap mempertahankan lafaz tetapi mengalihkan maknanya dari makna asal.
Sebagai contoh, ada yang menafsirkan rahmat hanya sebagai kehendak memberi nikmat atau menafsirkan murka Allah sekadar kehendak menghukum.
Ahlussunnah menetapkan bahwa Allah memiliki sifat sebagaimana disebutkan dalam dalil, tanpa mengubah makna yang telah ditunjukkan oleh nash.
Ta’thil: Menolak Nama dan Sifat Allah
Setelah tahrif, bentuk penyimpangan berikutnya adalah ta’thil.
Ta’thil secara bahasa berarti mengosongkan atau meninggalkan. Dalam pembahasan akidah, ta’thil berarti menolak nama atau sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya.
Penolakan itu bisa terjadi secara total maupun sebagian.
Sebagian orang menolak dengan cara mengubah makna. Sebagian lain tidak mengganti makna, tetapi menganggap makna tersebut tidak diketahui sama sekali.
Karena itu para ulama membedakan antara tahrif dan ta’thil.
Tahrif menolak makna yang benar lalu menggantinya dengan makna lain.
Sedangkan ta’thil menolak makna yang benar tanpa menetapkan pengganti.
Dari sini muncul kaidah:
Setiap muharrif adalah mu’atthil, tetapi tidak setiap mu’atthil merupakan muharrif.
Pemahaman ini menunjukkan bahwa menjaga akidah tidak cukup hanya mempertahankan lafaz, tetapi juga menjaga makna sesuai petunjuk wahyu.
Larangan Menanyakan Bagaimana Sifat Allah (Takyif)
Takyif berarti menjelaskan atau menentukan bagaimana hakikat suatu sifat.
Dengan kata lain, takyif muncul ketika seseorang bertanya:
“Bagaimana sifat Allah itu?”
Ahlussunnah menetapkan bahwa sifat Allah itu nyata, tetapi manusia tidak mengetahui hakikat dan bentuknya.
Larangan ini memiliki dasar dari Al-Qur’an.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan berkata tentang Allah tanpa ilmu.”
(QS. Al-A’raf: 33)
Ayat ini menjadi peringatan agar manusia tidak berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu.
Jika seseorang berkata bahwa Allah beristiwa dengan cara tertentu yang tidak dijelaskan wahyu, maka ia telah berbicara tanpa landasan.
Allah juga berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…”
(QS. Al-Isra’: 36)
Ayat ini mengajarkan kehati-hatian dalam perkara yang tidak diketahui.
Mengapa Manusia Tidak Bisa Menentukan Kaifiyah Sifat Allah?
Para ulama menjelaskan bahwa manusia hanya dapat mengetahui karakteristik sesuatu melalui tiga jalan.
Pertama, melihat secara langsung
Seseorang mengetahui bentuk sesuatu karena pernah melihatnya.
Kedua, melihat yang serupa
Seseorang mengenal sesuatu karena pernah melihat objek lain yang mirip.
Ketiga, mendapat informasi yang benar
Seseorang mengetahui karakteristik sesuatu karena ada berita yang sahih.
Dalam perkara sifat Allah, tiga jalan ini tidak tersedia.
Manusia tidak pernah melihat zat Allah.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah.
Dan Allah tidak menjelaskan kepada manusia tentang bagaimana hakikat sifat-Nya.
Karena itu manusia tidak dapat menentukan kaifiyah sifat Allah.
Namun penting dipahami, menolak takyif bukan berarti menolak adanya kaifiyah.
Setiap sifat pasti memiliki hakikat.
Allah memiliki kaifiyah yang sesuai dengan keagungan-Nya, hanya saja manusia tidak mengetahuinya.
Tamtsil: Menyerupakan Allah dengan Makhluk
Tamtsil berarti menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain.
Dalam pembahasan asma’ wa sifat, tamtsil berarti menyerupakan Allah dengan makhluk.
Sebagian ulama menyebut tamtsil sebagai bagian khusus dari takyif.
Perbedaannya terletak pada pembanding.
Takyif menjelaskan bentuk tanpa pembanding.
Tamtsil menyebut bentuk sekaligus menyamakan dengan yang lain.
Contohnya ketika seseorang mengatakan:
“Pendengaran Allah sama dengan pendengaran manusia.”
Pernyataan seperti ini termasuk tamtsil dan bertentangan dengan prinsip tauhid.
Allah telah menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.
Prinsip ini dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an seperti dalam surat Asy-Syura ayat 11, Maryam ayat 65, dan Al-Ikhlas ayat 4.
Secara akal pun tamtsil tidak dapat diterima.
Allah adalah Al-Khaliq sedangkan seluruh makhluk adalah ciptaan.
Keberadaan Allah bersifat wajib dan sempurna.
Sebaliknya, makhluk memiliki awal dan akhir.
Karena zat berbeda, maka sifat pun tidak mungkin sama.
Bahkan di antara sesama makhluk saja terdapat perbedaan kemampuan, bentuk, dan karakter.
Maka lebih tidak mungkin lagi menyamakan sifat Allah dengan ciptaan-Nya.
Dua Bentuk Tasybih yang Harus Dihindari
Para ulama juga menjelaskan bahwa tasybih memiliki dua bentuk.
Menyamakan Makhluk dengan Allah
Bentuk ini terjadi ketika seseorang memberikan kepada makhluk sesuatu yang menjadi kekhususan Allah.
Contohnya meyakini ada pencipta selain Allah.
Contoh lain adalah memberikan hak ibadah kepada selain Allah.
Termasuk juga memberikan pujian yang hanya layak untuk Allah kepada manusia.
Menyamakan Allah dengan Makhluk
Bentuk kedua terjadi ketika seseorang menyandarkan kepada Allah sifat yang menyerupai makhluk.
Misalnya mengatakan tangan Allah sama seperti tangan manusia atau sifat Allah identik dengan sifat makhluk.
Kedua bentuk ini termasuk penyimpangan dalam memahami tauhid.
Menjaga Akidah dengan Memahami Nama dan Sifat Allah
Pembahasan tentang nama dan sifat Allah bukan sekadar pembahasan ilmiah.
Pemahaman ini membentuk cara seorang muslim mengenal Rabb-nya.
Ketika seseorang menetapkan apa yang Allah tetapkan, menolak penyimpangan makna, tidak bertanya tentang hakikat yang tidak diketahui, dan tidak menyerupakan Allah dengan makhluk, maka ia menjaga kemurnian tauhid.
Karena itu para ulama terus mengingatkan pentingnya belajar akidah dari Al-Qur’an, sunnah, serta penjelasan ulama yang terpercaya.(ust)










Komentar