Ummu Aiman: Pengasuh Rasulullah dan Sosok Ibu Sepanjang Hidup Nabi

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi sosok ummu Aiman Pengasuk Rasulullah SAW ( Poto : istimewa )

Ilustrasi sosok ummu Aiman Pengasuk Rasulullah SAW ( Poto : istimewa )

Jakarta, dorlanhikmah.com – Perjalanan hidup Rasulullah ﷺ tidak terpisahkan dari peran Ummu Aiman pengasuh Nabi sejak kecil hingga dewasa yang dikenal dengan Ummu Aiman pengasuh Nabi setia.

Sosok Barakah binti Tsa’labah bin Hishn bin Malik al-Habasyiyah ini membentuk kedekatan emosional dengan Rasulullah ﷺ sejak masa kanak-kanak, mendampingi hijrah, hingga ikut dalam perjalanan dakwah dan peperangan Islam.

Ia juga menjadi bagian penting dalam sejarah keluarga Nabi melalui pernikahan dan keturunannya yang terhubung dengan para sahabat besar.

Asal Usul Ummu Aiman dan Statusnya

Ummu Aiman yang memiliki nama asli Barakah binti Tsa’labah bin Hishn bin Malik al-Habasyiyah berasal dari kalangan budak yang kemudian mendapat kemuliaan dalam Islam. Ia awalnya menjadi hamba sahaya milik Abdullah bin Abdul Muthalib.

Sebagian riwayat lain menyebutkan bahwa ia pernah berada dalam kepemilikan Aminah binti Wahb, sebelum akhirnya berpindah kepada Rasulullah ﷺ setelah wafatnya Abdullah. Perbedaan riwayat ini menunjukkan kuatnya posisi Ummu Aiman dalam lingkup keluarga Nabi sejak awal.

Dalam karya klasik Kaukabul Wahhaj fi Syarah Shahih Muslim, Muhammad Amin al-Harari menjelaskan bahwa status Ummu Aiman selalu terhubung dengan keluarga Nabi dan ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh keberkahan. (Darul Minhaj, 2009, jilid XXIII, hlm. 615).

Pengasuhan Rasulullah Sejak Kecil

Sejak masa kecil, Ummu Aiman langsung mengambil peran besar dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Ia mengasuh, merawat, dan mendampingi beliau dalam berbagai perjalanan keluarga.

Ia ikut menemani Aminah binti Wahb saat bepergian ke Madinah untuk mengunjungi kerabat. Namun perjalanan itu berubah menjadi peristiwa duka ketika Aminah wafat di Abwa.

Sejak saat itu, Ummu Aiman mengambil tanggung jawab penuh dalam mengasuh Rasulullah ﷺ dan menyerahkan pengasuhan beliau kepada Abdul Muthalib bin Hasyim sebagai wali.

Setiap kali Abdul Muthalib bepergian, ia mempercayakan Rasulullah kepada Ummu Aiman. Kepercayaan itu memperlihatkan betapa besar peran dan integritasnya dalam keluarga Nabi.

Baca Juga :  Mengenal Sistem Iqtha Dinasti Ayyubiyah Masa Salahuddin

Kedekatan Emosional dengan Rasulullah

Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Ummu Aiman tidak hanya sebatas pengasuh dan anak asuh. Rasulullah memperlakukan Ummu Aiman seperti ibu kandungnya sendiri.

Dalam riwayat sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

أم أيمن أمي بعد أمي
“Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku (Aminah).”
(HR. Ibnu Asakir dan Ibn Atsir)

Hadis ini menegaskan posisi istimewa Ummu Aiman dalam kehidupan Rasulullah ﷺ.

Imam Anas bin Malik juga meriwayatkan sebuah peristiwa ketika Rasulullah ﷺ datang ke rumah Ummu Aiman. Ia memberikan minuman kepada Nabi, lalu terjadi dialog kecil yang menunjukkan kedekatan emosional mereka.

Riwayat itu menggambarkan bahwa Ummu Aiman berbicara kepada Rasulullah dengan nada keibuan, sementara Rasulullah tetap menghormatinya dengan penuh kasih.

Keimanan dan Hijrah Ummu Aiman

Setelah Rasulullah ﷺ menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, Ummu Aiman mendapatkan kemerdekaannya. Namun ia tetap memilih untuk tetap dekat dengan Rasulullah.

Ia kemudian berhijrah ke Madinah seorang diri dalam kondisi panas yang sangat menyengat. Dalam perjalanan hijrah itu, ia mengalami peristiwa luar biasa yang diriwayatkan dalam beberapa kitab klasik.

Ia mendengar suara dari langit, lalu melihat timba air turun di hadapannya. Ia meminum air tersebut dan sejak saat itu tidak pernah merasakan haus seperti manusia biasa.

Dalam Dalilul Falihin, Ibn Allan as-Shiddiqi menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan kemuliaan spiritual yang Allah berikan kepada Ummu Aiman sebagai bentuk penghormatan atas pengabdiannya kepada Rasulullah ﷺ. (Beirut: Darul Ma’rifah, 2004, jilid III, hlm. 222).

Peran dalam Keluarga Rasulullah

Ummu Aiman tidak hanya berperan sebagai pengasuh, tetapi juga menjadi bagian dari keluarga besar Nabi melalui pernikahan.

Setelah wafatnya suami pertamanya, Rasulullah ﷺ menganjurkan para sahabat untuk menikahinya. Dalam riwayat disebutkan:

من سره أن يتزوج امرأة من أهل الجنة فليتزوج أم أيمن بركة
“Barang siapa ingin menikahi perempuan dari اهل surga, maka menikahlah dengan Ummu Aiman.”

Baca Juga :  Kisah Ashabul Kahfi: Doa Rahmat dan Pertolongan Allah

Akhirnya ia menikah dengan Zaid bin Haritsah, yang sebelumnya merupakan anak angkat Rasulullah.

Dari pernikahan itu lahirlah Usamah bin Zaid, yang kemudian menjadi salah satu panglima perang termuda dalam sejarah Islam.

Kehidupan di Masa Peperangan

Ummu Aiman juga aktif dalam berbagai peristiwa besar Islam. Ia ikut hadir di medan perang untuk membantu merawat para pejuang yang terluka.

Ia tidak turun sebagai prajurit, tetapi ia memainkan peran penting sebagai perawat dan pendukung logistik kemanusiaan di medan perang.

Suaminya Zaid bin Haritsah gugur dalam Perang Mu’tah. Putranya Aiman juga gugur dalam Perang Hunain, sementara Usamah terus melanjutkan perjuangan Islam di masa Rasulullah ﷺ.

Hubungan Hangat dengan Rasulullah

Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah ﷺ dan Ummu Aiman sering menunjukkan interaksi yang hangat dan penuh humor. Salah satu riwayat menyebutkan percakapan ringan antara keduanya yang menunjukkan kedekatan emosional yang kuat.

Meskipun demikian, Rasulullah ﷺ tetap menjaga adab dan kehormatan Ummu Aiman sebagai sosok ibu dalam kehidupannya.

Kedekatan ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai peran perempuan yang berkontribusi dalam pembentukan generasi dan dakwah.

Wafatnya Ummu Aiman

Ummu Aiman hidup cukup lama setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Ia tetap menjadi sosok yang dihormati oleh para sahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar yang rutin mengunjunginya.

Para sahabat melanjutkan tradisi Rasulullah ﷺ yang selalu memuliakan Ummu Aiman semasa hidup beliau.

Sebagian riwayat menyebutkan ia wafat pada awal masa kekhalifahan Utsman bin Affan, sementara riwayat lain menyebutkan ia wafat sekitar lima bulan setelah wafatnya Nabi ﷺ.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mencatat perbedaan riwayat tersebut namun menegaskan bahwa Ummu Aiman termasuk sosok yang sangat dekat dengan Rasulullah sejak kecil hingga akhir hayat beliau. (Beirut: Darul Fikr, 1985, jilid V, hlm. 326).(ust)

Berita Terkait

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri
Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan
Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara
Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Berita ini 44 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Berita Terbaru

Ilustrasi Tafsir AL-qur'an.(poto: dorlanhikmah.com).

Al-Qur'an

Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 3

Rabu, 4 Nov 2026 - 06:18 WIB

Tafsir Al-Quran.(poto: istimewa).

Al-Qur'an

Rahasia Huruf Muqatta’ah Pembuka Surah Al-Baqarah Ayat 1

Rabu, 4 Nov 2026 - 06:05 WIB

Pemerintah Provinsi Jambi resmi membuka gelaran Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadits (MTQH) ke-55 Tingkat Provinsi Jambi pada Minggu (1/11/2026).(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Pembukaan MTQH ke-55 Jambi: Dorong Lahirnya Generasi Qurani

Rabu, 4 Nov 2026 - 05:56 WIB

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi, Mahbub Daryanto, membuka Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadits (MTQH) ke-55 Tingkat Provinsi Jambi di lapangan Kantor Wali Kota Jambi pada Minggu (1/11/2026).(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

MTQH Jambi 2026: Kakanwil Kemenag Dorong Ekoteologi dan Wakaf

Rabu, 4 Nov 2026 - 05:52 WIB