Jakarta, dorlanhikmah.com – Umat Islam di berbagai negara menganut Mazhab Syafi’i sebagai salah satu dari empat mazhab fiqih utama saat ini. Kaum muslimin menjalankan ajaran mazhab ini bersanding dengan tiga mazhab lainnya, yaitu Hanafi, Maliki, dan Hanbali.
Masyarakat muslim di Yaman, pesisir pantai timur Afrika, dan negara-negara Asia Tenggara memeluk mazhab ini secara meluas. Sebagian penduduk di negara Mesir dan Syiria juga menerapkan hukum fiqih dari ajaran Syafi’iyyah tersebut.
Nasab dan Kelahiran Sang Tokoh Ulama
Sejarah mencatat pendiri mazhab syafi’i lahir pada tahun 150 Hijriah di wilayah Gaza, Palestina. Sosok ulama besar ini memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Muththalib bin Abdi Manaf.
Garis nasab beliau bertemu secara langsung dengan silsilah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sosok Abdi Manaf. Tak lama setelah kelahirannya, ayah beliau yang bernama Idris bin Abbas meninggal dunia.
Keistimewaan dan Kecerdasan Imam Syafi’i
Sang ibu membawa beliau pindah ke kota Makkah saat beliau memasuki usia dua tahun. Kepindahan tersebut bertujuan agar beliau tinggal berdekatan bersama sanak kerabat dari keluarga ayahnya.
Daya ingat luar biasa memampukan beliau menghafal berbagai teks keagamaan sejak usia yang sangat muda. Al Hafidz Ibnu Hajar menukilkan riwayat dari Al Khatib Al Baghdadi mengenai pengakuan masa kecil sang imam.
“Aku telah menghafal Al Quran ketika aku berumur 7 tahun, dan aku telah menghafal kitab Al Muwaththa (karangan Imam Malik bin Anas) ketika aku berumur sepuluh tahun” [1].
Kefasihan berbahasa Arab turut melengkapi kelebihan beliau sejak masa pertumbuhan awal. Penguasaan bahasa tersebut memudahkan beliau dalam memahami firman Allah subhanahu wa ta’ala, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta atsar para sahabat dan tabi’in.
Perjalanan Menuntut Ilmu di Madinah dan Baghdad
Langkah rihlah ilmiah membawa beliau menuju Madinah untuk menimba ilmu secara langsung dari Imam Malik bin Anas [2]. Pengetahuan mendalam juga beliau serap dari para ulama Madinah yang memegang teguh tradisi madrasah ahli hadits.
Ulama Madinah mempelajari agama secara langsung dari para tabi’in serta anak cucu sahabat yang menetap di sana. Penduduk Madinah menjaga tradisi Islam seperti lafaz adzan serta ukuran mud dan sha’ secara turun-temurun.
Kondisi tradisi yang terjaga tersebut makin memudahkan beliau dalam memahami berbagai riwayat hadits Nabi. Setelah menuntaskan studi di Madinah, beliau melanjutkan perjalanan menuju kota Baghdad akibat timbulnya sebuah fitnah.
Khalifah Harun Ar Rasyid memanggil beliau untuk datang dan memenuhi panggilan ke Baghdad. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan beliau bertemu dengan sosok Imam Muhammad bin Hasan [3].
Penggabungan Fiqih Ahli Hadits dan Ahli Ra’yi
Imam Muhammad bin Hasan merupakan murid senior Imam Abu Hanifah [4] sekaligus penerus madrasah ahli ra’yi. Beliau menimba ilmu fiqih ahli ra’yi secara mendalam dari murid senior tersebut.
Proses belajar tersebut menyatukan pandangan fiqih ahli hadits dan fiqih ahli ra’yi di dalam diri beliau. Penggabungan dua pemikiran besar ini menandai fase penting pembentukan ajaran baru dalam kehidupannya.
Kepindahan dari kota Baghdad terjadi pada tahun 189 Hijriah setelah gurunya yang bernama Muhammad bin Hasan Asy Syaibani meninggal dunia. Langkah berikutnya membawa beliau kembali ke kota Makkah guna mengajarkan hasil pemikiran dari dua madrasah tersebut.
Aktivitas mengajar fiqih dan penyampaian fatwa beliau lakukan secara terbuka di serambi Ka’bah. Berbagai fatwa baru lahir berdasarkan kedalaman ilmu, pembuktian dalil, serta kaidah ushul fiqih yang tepat.
Merumuskan Mazhab Fase Qaul Qadim di Baghdad
Kedatangan kedua ke kota Baghdad berlangsung pada tahun 195 Hijriah dengan status sebagai ulama besar. Kurun waktu di Baghdad beliau manfaatkan untuk merumuskan pondasi mazhabnya [1].
Penyusunan kaidah dasar (ushul) maupun rincian hukum (furu’) tertuang di dalam beberapa karya tulisnya. Salah satunya adalah Kitab Al Hujjah yang diriwayatkan oleh muridnya bernama Hasan Az Za’farani (wafat: 260 Hijriah).
Karya Al Hujjah memuat bantahan ilmiah terhadap sebagian pendapat fuqaha Irak yang bermadzhab Hanafi. Di samping itu, beliau merampungkan Kitab Ar Risalah versi Baghdad sebagai pelopor ilmu ushul fiqih.
Pelaksanaan ta’lim rutin berlangsung di masjid besar bentukan Khalifah Abu Ja’far Al Manshur. Majelis ilmu tersebut menghimpun ulama dari berbagai negeri hingga memicu debat ilmiah yang dinamis.
Daftar murid terkemuka lahir dari majelis ini, seperti Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi (wafat: 240 Hijriah). Beliau juga membimbing Abu Ali Husain bin Ali Al Karabisi (wafat: 248 Hijriah) serta Abu Ali Hasan bin Muhammad Az Za’farani (wafat: 260 Hijriah).
Pembaharuan Mazhab Fase Qaul Jadid di Mesir
Keputusan pindah ke Mesir beliau ambil pada tahun 199 Hijriah dan beliau menetap di sana hingga wafat pada tahun 204 Hijriah. Selama di Mesir, beliau memperbarui ajaran hukumnya yang kemudian terkenal dengan sebutan qaul jadid.
Al Hafidz Al Baihaqi [2] meriwayatkan perkataan Rabi’ bin Sulaiman Al Muradi mengenai aktivitas beliau selama di Mesir. Murid terpercaya tersebut menyaksikan keaktifan mengajar sang guru melalui penuturan resminya.
“Imam Syafi’i tinggal di sini (Mesir) selama 4 tahun, beliau mengimlakkan ilmunya sebanyak 1500 lembar tulisan, dan menyelesaikan kitab Al umm sebanyak 2000 lembar tulisan” [3].
Penyusunan Kitab Al Umm menjadi rujukan utama dalam disiplin ilmu fiqih. Langkah merevisi Kitab Ar Risalah turut beliau lakukan guna menyempurnakan kaidah ushul fiqih yang telah dibuat sebelumnya.
Perkembangan mazhab di Mesir mencetak murid-murid hebat seperti Yusuf bin Yahya Al Buwaythi (wafat: 231 Hijriah). Murid senior ini meneruskan majelis ilmu ketika beliau jatuh sakit hingga setelah beliau meninggal dunia.
Ismail bin Yahya Al Muzani (wafat: 264 Hijriah) menjadi murid yang paling gigih menyebarkan mazhab ini. Beliau memuji peran muridnya tersebut melalui sebuah pernyataan resmi.
“Al Muzani adalah penolong madzhabku” [4].
Rabi’ bin Sulaiman Al Muradi (wafat: 270 Hijriah) juga mencatatkan jasa besar bagi perkembangan ajaran ini. Sosok murid tersebut meriwayatkan seluruh kitab-kitab karya qaul jadid hingga sampai ke generasi berikutnya.(ust)










Komentar