Jakarta, dorlanhikmah.com – Kaum ‘Ad menjadi suku kuno tertua setelah peradaban masa Nabi Nuh AS. Kisah kaum ‘Ad Nabi Hud AS mengulas kehancuran bangsa bertubuh besar ini.
Ma’ful Hidayatulloh menuliskan kehidupan mewah masyarakat ini dalam buku Nabi Hud a.s.. Mereka mendirikan istana megah serta benteng tinggi untuk memamerkan kekayaan.
Allah SWT mengaruniai tempat tinggal mereka dengan tanah subur. Sumber air mengalir deras dari berbagai penjuru untuk melancarkan pertanian.
Mengabaikan Kehancuran Kaum Nabi Nuh AS
Kemewahan hidup justru membuat bangsa kuno ini melupakan Sang Pencipta. Mereka menyekutukan Allah SWT tanpa memedulikan musibah kaum Nabi Nuh AS.
Masyarakat ini mengukir patung berhala sebagai tuhan yang mereka sembah. Mereka percaya patung tersebut mendatangkan keberuntungan serta menolak bencana.
Allah SWT Mengutus Nabi Hud AS
Postur tubuh tinggi besar memicu rasa takabur di hati kaum ‘Ad. Namun, Allah SWT tidak langsung menghancurkan mereka yang bersikap sombong.
Sang Pencipta menunjuk Nabi Hud AS untuk meluruskan akhlak masyarakatnya. Malaikat Jibril mendatangi beliau saat menginjak usia 40 tahun.
Jibril membawa wahyu agar Nabi Hud AS mengajak kaumnya bertobat. Beliau mengingatkan nikmat umur panjang, kekuatan fisik, serta limpahan harta.
Perjuangan Dakwah dan Tuduhan Gila
Perjuangan dakwah Nabi Hud AS menghadapi perlawanan berat dari kaumnya. Banyak warga kerap mengejek, mencela, hingga meragukan kenabian beliau.
Raja Khaljan pernah mengumpulkan rakyatnya di lapangan pada hari besar. Nabi Hud AS hadir menyampaikan ajaran tauhid di hadapan kerumunan.
Masyarakat ‘Ad menolak ajaran tersebut dan mengabaikan seruan bertobat. Mereka bahkan menuduh sang nabi mengalami gangguan jiwa akibat kutukan berhala.
Nabi Hud AS mengingatkan datangnya azab jika mereka tetap ingkar. Beliau menegaskan komitmennya untuk terus menyampaikan risalah Allah SWT sepanjang hayat.
Peringatan tegas tersebut menyentuh hati sebagian kecil masyarakat ‘Ad. Kelompok kecil ini menyambut petunjuk Allah SWT dan menjadi pengikut setia.
Azab Kemarau dan Angin Dahsyat
Allah SWT mengabulkan doa Nabi Hud AS dengan menurunkan tanda kemurkaan. Para wanita mengalami kemandulan dan kemarau membakar wilayah mereka selama tiga tahun.
Nabi Hud AS menjelaskan bahwa krisis air tersebut merupakan permulaan siksaan. Beliau menjanjikan hujan segera turun jika masyarakat mau bertobat.
Masyarakat pembangkang ini tetap mengabaikan peringatan dan terus menyembah berhala. Allah SWT akhirnya mengirimkan azab dingin yang sangat pedih.
Angin kencang menghempaskan kaum ‘Ad selama tujuh malam delapan hari. Udara dingin merusak kulit mereka hingga seluruh peradaban hancur.
Al-Qur’an mengabadikan peristiwa kehancuran tersebut dalam Surah Al-Ahqaf ayat 24:
فَلَمَّا رَاَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ اَوْدِيَتِهِمْ قَالُوْا هٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۗبَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهٖ ۗرِيْحٌ فِيْهَا عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ٢٤
Artinya: “Maka, ketika melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.’ (Bukan,) tetapi itu azab yang kamu minta agar disegerakan kedatangannya, (yaitu) angin yang mengandung azab yang sangat pedih.”(ust)










Komentar