Jakarta, dorlanhikmah.com – Kaum kafir Quraisy mengkhianati Perjanjian Hudaibiyah yang dilanggar secara sepihak setelah mengaturnya selama dua tahun. Pengkhianatan ini memicu aksi tegas Rasulullah SAW untuk memimpin pembebasan Kota Makkah secara damai.
Ketegangan awal bermula saat Rasulullah SAW dan ribuan umat Islam berniat menunaikan ibadah haji pada tahun 6 Hijriah. Pihak Quraisy menghadang rombongan di pintu masuk kota, lalu memicu perundingan diplomatis di area Hudaibiyah.
Rasulullah SAW memimpin langsung delegasi kaum muslimin dalam negosiasi penting tersebut. Pihak Quraisy mengutus Suhayl bin Amr untuk mewakili kepentingan kelompok mereka.
Kedua belah pihak menyepakati aturan tertulis dalam perundingan tersebut. Hasil kesepakatan ini memuat beberapa klausul utama yang mengikat seluruh aliansi.
Poin Utama Kesepakatan Hudaibiyah
Poin pertama mewajibkan rombongan muslimin pulang tahun ini dan boleh beribadah tahun depan. Pihak Quraisy juga menyetujui gencatan senjata total selama sepuluh tahun ke depan.
Perjanjian ini memberi kebebasan bagi setiap kabilah Arab untuk memilih sekutu mereka. Kabilah Khuza’ah memilih beraliansi dengan Rasulullah SAW, sedangkan Kabilah Bakr merapat ke pihak Quraisy.
Aturan suaka mewajibkan kaum muslimin mengembalikan orang Quraisy yang kabur tanpa izin wali. Sebaliknya, pihak Quraisy tidak akan mengembalikan warga muslim yang membelot ke Makkah.
Setiap pihak menganggap serangan terhadap kabilah sekutu sebagai serangan langsung ke pusat aliansi. Ketentuan inilah yang memicu perselisihan baru antar kedua kelompok.
Serangan Diam-Diam Aliansi Quraisy
Kaum Quraisy merusak kesepakatan damai tersebut setelah menjaga perdamaian selama dua tahun. Mereka mengirimkan bantuan pasukan secara rahasia kepada Kabilah Bakr untuk menyerang Kabilah Khuza’ah.
Kabar pengkhianatan sepihak itu langsung sampai ke telinga Rasulullah SAW di Madinah. Beliau segera menyiapkan langkah balasan sesuai dengan klausul keamanan yang berlaku.
Rasulullah SAW mengerahkan 10.000 pasukan muslim menuju Makkah untuk membalas serangan tersebut. Barisan tentara Islam bergerak secara teratur menuju pusat pertahanan musuh.
Pihak Quraisy memilih tidak melancarkan perlawanan karena melihat besarnya jumlah pasukan muslim. Mereka menyadari ketimpangan kekuatan yang sangat jauh dari armada tempur Rasulullah SAW.
Kemenangan Mutlak Tanpa Pertumpahan Darah
Pasukan muslim hanya menghadapi sedikit perlawanan dari kelompok Ikrimah bin Abu Jahal di daerah Khandamah. Pihak muslim berhasil menguasai seluruh penjuru Kota Makkah tanpa menumpahkan darah.
Rasulullah SAW menginjakkan kaki di kota kelahirannya dengan penuh rasa tawadhu. Beliau menghancurkan seluruh berhala yang mengotori area dalam Ka’bah.
Peristiwa pembebasan Makkah atau Fathu Makkah ini tertuang dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 81:
وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖاِ نَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا
Artinya: “Katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.”
Kejadian ini menutup riwayat pengkhianatan Quraisy sekaligus mengukuhkan kejayaan Islam di Makkah. Pembebasan ini menegaskan kemenangan mutlak kebenaran atas seluruh bentuk kebatilan.(ust)







Komentar