Jakarta, dorlanhikmah.com – Perjalanan ujian dakwah Rasulullah SAW yang panjang memicu penolakan keras dari kaum kafir Quraisy. Mereka melontarkan ejekan hingga melancarkan serangan fisik tanpa rasa belas kasihan.
Tekanan hebat tersebut bermula tatkala Rasulullah SAW menyiarkan ajaran Islam secara terbuka. Selama sepuluh tahun penuh, beliau mengarungi berbagai cobaan hidup yang teramat berat.
Kejahatan Abu Lahab dan Ummu Jamil
Nabi Muhammad SAW mengawali dakwah terbuka pada tahun keempat kenabian. Sejak saat itu, kaum Quraisy terus mengintai dan menyiksa beliau agar menghentikan siar Islam.
Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyah mencatat aksi brutal pimpinan Abu Lahab. Pentolan Quraisy itu melempari Rasulullah SAW dengan batu tatkala beliau berada di Shafa.
Abu Lahab bahkan menguntit langkah beliau sepanjang musim haji. Lemparan batunya mengenai sasaran hingga membuat kedua tumit Nabi Muhammad SAW mengalirkan darah.
Tak mau kalah, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah menyusun perbuatan keji. Istri Abu Lahab ini sengaja menebar duri tajam di sepanjang jalan dan pintu rumah tempat Rasulullah SAW melintas.
Perempuan berkuasa tersebut terus merangkai bualan serta memprovokasi kemarahan publik. Ia gencar menyebarkan fitnah demi menyalakan api permusuhan terhadap Nabi Muhammad SAW.
Tatkala Surah Al-Lahab turun mengancam nasibnya, Abu Lahab langsung bergegas mencari Nabi. Beliau saat itu tengah duduk menenangkan diri bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq di area dekat Ka’bah.
Musuh Islam tersebut menggenggam batu besar untuk menghantam tubuh Nabi. Namun, Allah SWT melindunginya dengan menutup penglihatan Abu Lahab hingga ia hanya mampu melihat Abu Bakar.
Ibnu Ishaq menerangkan sejumlah nama tetangga dekat yang sering merintangi perjuangan Nabi. Kelompok penentang ini mencakup Abu Lahab, Al-Hakam bin Abul Ash bin Umayyah, Uqbah bin Abu Mu’ith, Adi bin Hamra’ Ats-Tsaqafi, dan Ibnul Ashda’ Al-Hudzali.
Para tetangga tersebut nekat melemparkan kotoran serta isi perut domba tatkala Rasulullah SAW sedang khusyuk beribadah salat. Mereka bahkan berani meludahi wajah mulia Nabi sewaktu beliau melantunkan ayat suci Al-Qur’an.
Ujian Berat Pasca Duka Mendalam
Buku Cekal dan Tabah: Kisah-kisah Dakwah Nabi Muhammad di Mekah karya Arrief Salleh Rosman mengungkap titik terberat perjalanan Nabi. Paman beliau, Abu Talib, mengembuskan napas terakhir pada bulan Rajab tahun ke-10 kenabian.
Duka beliau semakin bertambah tatkala sang istri tercinta, Khadijah, berpulang pada bulan Ramadan di tahun yang sama. Kepergian dua pelindung utama tersebut membuat kaum Quraisy makin leluasa melancarkan aksi kejam.
Seorang pria Quraisy bahkan tega melemparkan tanah lumpur ke arah muka Rasulullah SAW. Putri beliau mengusap wajah sang ayah sambil meneteskan air mata haru menyaksikan kezaliman musuh.
Tekad bulat membawa Nabi Muhammad SAW melangkah menuju Kota Taif pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian. Sahabat setia sekaligus anak angkat beliau, Zaid bin Harisah, turut mendampingi perjalanan spiritual tersebut.
Setibanya di lokasi, beliau menemui tiga tokoh terpandang bernama Abdu Yalil bin Amru, Habib bin Amru, dan Mas’ud bin Amru. Sayangnya, ketiga pemimpin Taif tersebut menolak ajakan kebaikan dan menghasut warga setempat.
Karena mendapat penolakan mentah-mentah, Rasulullah SAW akhirnya memilih angkat kaki untuk kembali ke Makkah. Namun, warga Taif justru berbaris rapat menyusuri sepanjang sisi kiri dan kanan jalan.
Masyarakat setempat melontarkan celaan kasar sembari memukulkan batu ke tubuh Nabi. Hujan lemparan batu tersebut mengenai sasaran hingga mengakibatkan kaki beliau terluka dan mengeluarkan darah.(ust)










Komentar