Sebab Perbedaan Bacaan Al-Qur’an dan Sejarah Ilmu Qira’at

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ibnu Mujahid (w. 324 H) menempati posisi yang sangat penting. Ia merupakan ulama perintis yang menyusun dan mempopulerkan konsep qira'at sab'ah.(ilustrasi poto: arina.id).

Ibnu Mujahid (w. 324 H) menempati posisi yang sangat penting. Ia merupakan ulama perintis yang menyusun dan mempopulerkan konsep qira'at sab'ah.(ilustrasi poto: arina.id).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Kajian mengenai keragaman bacaan Al-Qur’an merujuk pada dua peristiwa penting yang melibatkan para sahabat Rasulullah SAW. Peristiwa sejarah ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan cara membaca Al-Qur’an telah memperoleh legitimasi langsung dari Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa pertama bermula ketika Umar bin Khattab menyimak lantunan Surah Al-Furqan yang dibacakan oleh Hisyam bin Hakim. Umar merasa sangat terkejut karena mendengar beberapa ayat dibaca dengan cara yang berbeda dari ajaran Rasulullah SAW.

Umar menahan diri untuk tidak menegur Hisyam yang sedang menunaikan ibadah salat di masjid. Ia memilih menunggu dengan sabar hingga Hisyam menyelesaikan seluruh rangkaian salatnya.

Seusai salat, Umar langsung meminta penjelasan mengenai asal-usul bacaan Al-Qur’an tersebut. Hisyam secara tenang menegaskan bahwa ia menerima bacaan itu langsung dari Rasulullah SAW.

Umar sempat meragukan jawaban tersebut karena ia menganggap perubahan harakat dapat mengubah makna ayat secara mendasar. Demi mendapat kepastian hukum, Umar mengajak Hisyam untuk menghadap Nabi Muhammad SAW.

Di hadapan Rasulullah SAW, Umar menyampaikan rasa keberatannya atas perbedaan cara membaca Al-Qur’an tersebut. Beliau kemudian menenangkan emosi Umar dan meminta Hisyam mengulangi bacaannya.

Rasulullah SAW tersenyum setelah mendengar lantunan Hisyam dan membenarkan bacaan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an turun dengan tujuh huruf (sab’atu ahruf) sehingga umat bisa membaca bacaan yang paling mudah.

Baca Juga :  Politisasi Al-Qur’an dalam Politik dan Sejarahnya

Riwayat otentik peristiwa ini tercatat pada bagian awal kitab Jami’ al-Bayan fi al-Qira’at al-Sab’i karya al-Imam al-Hafizh Abi ‘Amr Al-Dani. Kitab klasik ini menjadi rujukan utama yang mendokumentasikan sanad serta sejarah perkembangan ilmu qira’at.

Pengalaman Ubay bin Ka’ab Menyimak Perbedaan Bacaan

Peristiwa penting kedua dialami oleh sahabat Ubay bin Ka’ab yang terkenal sebagai ahli Al-Qur’an di kalangan sahabat. Saat berada di masjid, Ubay mendengar seorang lelaki membaca Al-Qur’an dengan lafaz yang terasa ganjil.

Lelaki tersebut mengaku belajar membaca Al-Qur’an secara langsung dari petunjuk Rasulullah SAW. Tak lama kemudian, Ubay kembali mendengar lelaki lain membaca ayat dengan variasi yang berbeda lagi.

Kedua peristiwa yang terjadi berurutan tersebut membuat Ubay merasa bingung dan penuh tanda tanya. Ia mendapati tiga variasi bacaan yang saling berbeda, padahal ia meyakini kebenaran hafalan miliknya.

Ubay lantas membawa kedua lelaki tersebut menemui Nabi Muhammad SAW demi memperoleh kejelasan. Di depan beliau, kedua lelaki itu memperdengarkan bacaan masing-masing secara bergiliran.

Baca Juga :  Fatimah dan Ulama Hanafi: Jejak Ilmu Mazhab Klasik

Nabi Muhammad SAW membenarkan kedua bacaan tersebut dan memberikan pujian kepada mereka. Keputusan beliau membuat keraguan Ubay semakin bertambah besar karena perbedaan lantunan tersebut.

Rasulullah SAW memahami kebingungan Ubay lalu menepuk dadanya seraya memohonkan perlindungan dari rasa ragu. Beliau lantas menceritakan petunjuk Malaikat Jibril mengenai variasi bacaan Al-Qur’an.

Perkembangan Kodifikasi Ilmu Qira’at dalam Sejarah

Berabad-abad pasca-peristiwa tersebut, para ulama mulai mengumpulkan dan menyeleksi seluruh riwayat bacaan Al-Qur’an. Usaha sistematis ini melahirkan disiplin ilmu qira’at untuk menguji keabsahan sanad periwayatan.

Ulama terkemuka Ibnu Mujahid (w. 324 H) memegang peranan krusial dalam memelopori pembentukan konsep qira’at sab’ah. Beliau menetapkan tujuh imam qira’at yang memiliki sanad mutawatir serta mendapat pengakuan luas dari para ulama.

Masyarakat perlu memahami bahwa istilah sab’atu ahruf tidak sama dengan qira’at sab’ah. Sab’atu ahruf merupakan wahyu langsung dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW pada masa kerasulan.

Sementara itu, qira’at sab’ah merupakan hasil kodifikasi ilmiah para ulama berdasarkan penyeleksian sanad yang sahih. Memahami perbedaan kedua konsep ini membantu umat Islam menghargai kekayaan tradisi Al-Qur’an secara ilmiah.(ust)

Berita Terkait

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Sejarah Panjang Penurunan Kitab Suci Al-Qur’an
Sejarah Al Quran dan Perannya Sebagai Pedoman Hidup Umat Humanis
Mengenal Sistem Iqtha Dinasti Ayyubiyah Masa Salahuddin
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Minggu, 20 September 2026 - 16:05 WIB

Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah

Minggu, 13 September 2026 - 09:18 WIB

Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara

Minggu, 13 September 2026 - 09:13 WIB

Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan

Berita Terbaru

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khutbah Jumat: Ajakan Solidaritas Warga Hadapi Karhutla

Sabtu, 17 Okt 2026 - 09:08 WIB

Ilustrasi Laut mati.(poto: istimewa).

Fiqih

Hukum Produk Laut Mati dalam Tinjauan Fikih dan Tafsir

Sabtu, 17 Okt 2026 - 08:29 WIB

An ancient Quran manuscript with Arabic calligraphy and leather binding. The historic Islamic manuscript is displayed open against a black background.

Sejarah

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Sabtu, 17 Okt 2026 - 08:21 WIB

Ilustrasi: Seorang pria cemas memeriksa ponselnya saat kehabisan pulsa di sebuah warkop malam hari di pinggir jalan Jakarta.(poto: AI).

Fiqih

Hukum Utang Pulsa Darurat Menurut Syariat Islam

Sabtu, 17 Okt 2026 - 08:11 WIB

Ilustrasi pentingnya empati, bantuan medis, dan dukungan sosial masyarakat dalam mengatasi krisis kesehatan mental.(poto: AI).

Fiqih

Tragedi Steve dan Sorotan Kesehatan Mental dalam Islam

Sabtu, 17 Okt 2026 - 08:01 WIB