Jakarta, dorlanhikmah.com – Ciri-ciri isim bahasa Arab menjadi pembahasan penting dalam ilmu nahwu dasar. Dalam kitab Al-Jurumiyah, isim memiliki tanda khusus seperti kasrah, tanwin, alif lam, dan huruf jar yang membedakannya dari fi’il serta huruf.
Para ulama nahwu meneliti bahasa Arab dari Al-Qur’an, hadits, serta ucapan orang Arab asli. Dari penelitian itu, mereka menyimpulkan bahwa seluruh kata dalam bahasa Arab terbagi menjadi tiga:
- Isim (kata benda)
- Fi’il (kata kerja)
- Huruf
Karena itu, setiap kata pasti masuk ke salah satu kategori tersebut. Untuk membedakannya, ulama kemudian menjelaskan ciri-ciri khusus yang dimiliki isim.
Ciri-Ciri Isim dalam Bahasa Arab
Secara umum, isim memiliki empat tanda utama, yaitu:
- Kasrah
- Tanwin
- Alif lam (ال)
- Dimasuki huruf jar atau huruf qasam
Berikut penjelasannya.
1. بِالخَفْضِ = Kasrah
Pertama, isim dapat di kenali dari harakat kasrah pada akhir katanya. Jadi, ketika menemukan lafadz yang berakhiran kasrah (ِ), besar kemungkinan kata tersebut adalah isim.
Contoh:
- بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
- بَيْتُ المُدِيرِ
Pada contoh di atas, kata المُدِيرِ termasuk isim karena huruf akhirnya berharakat kasrah.
Selain itu, tanda kasrah sering muncul setelah huruf jar atau dalam susunan idhafah.
2. التَّنْوِينِ = Tanwin
Selanjutnya, tanda isim yang kedua adalah tanwin. Tanwin terdiri dari:
- ً fathatain
- ٍ kasrahtain
- ٌ dhommatain
Apabila sebuah kata diakhiri tanwin, maka kata itu termasuk isim.
Contoh:
- زَيْدٌ
- زَيْدًا
- زَيْدٍ
Ketiga contoh tersebut di sebut isim karena masing-masing memiliki tanwin di akhir kata.
Dengan demikian, tanwin menjadi salah satu tanda paling mudah untuk mengenali isim.
3. دُخُولُ الأَلِفِ وَاللَّامِ = Dimasuki Alif Lam
Selain tanwin, isim juga bisa dikenali dari masuknya alif lam (ال) di awal kata.
Contoh:
- كِتَابٌ → الكِتَابُ
Artinya, ketika sebuah lafadz diawali ال, maka lafadz tersebut termasuk isim.
Namun, ada catatan penting. Alif lam dan tanwin tidak bisa berkumpul dalam satu kata. Oleh sebab itu, bentuk seperti:
- الكِتَابٌ
termasuk salah.
Singkatnya, jika ada ال maka tidak ada tanwin. Sebaliknya, jika tidak memakai ال, isim biasanya dapat menerima tanwin.
4. دُخُولُ حُرُوفِ الجَرِّ = Dimasuki Huruf Jar
Tanda berikutnya adalah masuknya huruf jar. Adapun huruf jar yang sering di gunakan antara lain:
- مِنْ
- إِلَى
- عَنْ
- عَلَى
- فِي
- رُبَّ
- بِ
- كَ
- لِ
Jika sebuah kata di masuki huruf jar, maka kata tersebut termasuk isim.
Contoh:
- جَاءَ زَيْدٌ مِنَ المَسْجِدِ
Pada kalimat ini, kata المَسْجِدِ merupakan isim karena:
- diawali ال
- berharakat kasrah
- di masuki huruf jar مِنْ
Contoh lain:
- زَيْدٌ فِي البَيْتِ
Kata البَيْتِ juga termasuk isim sebab di masuki huruf jar فِي.
Sementara itu, jika ال kita hilangkan, bentuknya berubah menjadi:
- زَيْدٌ فِي بَيْتٍ
Dalam kondisi tersebut, akhir katanya memakai tanwin kasrah (ٍ).
Huruf Qasam dalam Bahasa Arab
Selain huruf jar, ada pula huruf qasam atau huruf sumpah. Huruf qasam terdiri dari:
- وَ
- بِ
- تَ
Huruf-huruf ini gunanya ketika seseorang bersumpah.
Contoh:
- وَالْعَصْرِ
- وَاللهِ
Awalnya kata الْعَصْرُ berharakat dhammah. Akan tetapi, setelah masuk وَ qasam, harakat akhirnya berubah menjadi kasrah sehingga di baca:
- وَالْعَصْرِ
Begitu juga pada lafadz:
- وَاللهِ
Karena وَ di sini berfungsi sebagai huruf qasam, maka kata setelahnya menjadi majrur.
Di dalam Al-Qur’an, bentuk sumpah menggunakan huruf وَ cukup banyak kita temukan.(ust)










Komentar