Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada: Fi’il Mudhari dan Nun Taukid

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 9 Juni 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

macam-macam kalam ( poto : istimewa ).

macam-macam kalam ( poto : istimewa ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Pembahasan fi’il mudhari dalam Kitab Ta’jilun Nada menguraikan cara kerja fi’il mudhari ketika menerima tambahan nun taukid.

Kitab ini tidak hanya menjelaskan perubahan bentuk kata, tetapi juga menerangkan pengaruh perubahan tersebut terhadap i’rab dan kedudukan huruf dalam susunan bahasa Arab.

Para ulama nahwu menjelaskan bahwa fi’il mudhari dapat tetap mempertahankan status mu‘rab meskipun bentuk katanya berubah. Penentuan hukumnya bergantung pada hubungan antara fi’il mudhari dengan nun taukid, apakah keduanya bertemu secara langsung atau terpisah oleh huruf lain.

Pembahasan ini termasuk materi penting dalam ilmu nahwu karena menjadi dasar untuk memahami struktur ayat Al-Qur’an dan teks klasik berbahasa Arab.

Fi’il Mudhari yang Tetap Marfu’ karena Tsubutun Nun

Kitab memberikan contoh berikut:

تَقُوْمُوْنَ

Kata tersebut termasuk fi’il mudhari marfu’ dengan tanda tsubutun nun atau tetapnya huruf nun. Keadaan itu terjadi karena fi’il bersambung dengan wawu jama‘ah yang menunjukkan pelaku laki-laki jamak.

Ketika nun taukid masuk ke dalam bentuk tersebut, susunannya berubah menjadi:

هَلْ تَقُوْمُنَّ بِوَاجِبِكُمْ ؟

Bentuk ini menunjukkan bahwa nun taukid tidak menempel langsung pada fi’il mudhari. Ulama menyebut keadaan seperti ini sebagai nun taukid ghair mubasyirah.

Secara asal, bentuk katanya adalah:

تَقُوْمُوْنَنَّ

Pertama, kaidah nahwu menghapus nun rafa’ karena dua huruf nun bertemu secara berurutan.

Kata itu kemudian berubah menjadi:

تَقُوْمُوْنَّ

Setelah itu muncul dua huruf sukun secara berdekatan, yaitu wawu jama‘ah dan nun pertama dari nun taukid.

Untuk memudahkan pengucapan, ulama menghilangkan huruf wawu jama‘ah.

Hasil akhirnya menjadi:

تَقُوْمُنَّ

Harakat dhammah sebelum posisi huruf yang hilang tetap menunjukkan keberadaan wawu jama‘ah secara makna.

Karena alasan tersebut, kata itu tetap berstatus fi’il mudhari marfu’ dengan tanda tsubutun nun secara muqaddar.

Contoh dalam Al-Qur’an dan Penjelasan I’rab

Allah berfirman:

Baca Juga :  Ciri-Ciri Isim dalam Bahasa Arab Lengkap dengan Contohnya

لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرً

“Kamu pasti akan diuji dalam urusan hartamu dan dirimu. Kamu pun pasti akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik.”
(QS. Ali Imran: 186)

Ayat tersebut menghadirkan dua contoh penting:

لَتُبْلَوُنَّ
لَتَسْمَعُنَّ

Kitab menjelaskan bahwa kedua fi’il tersebut tetap berada pada hukum marfu’.

Nun taukid dalam dua kata itu tidak menempel langsung pada huruf terakhir asli fi’il. Wawu jama‘ah tetap hadir secara makna meskipun bentuk tulisannya mengalami perubahan.

Mengapa Bentuk لَتُبْلَوُنَّ Mengalami Perubahan?

Kitab memulai penjelasan dari bentuk asal:

تُبْلَوُوْنَنَّ

Pada tahap awal, perubahan harakat mengubah salah satu huruf wawu menjadi alif agar selaras dengan harakat sebelumnya.

Bentuknya kemudian menjadi:

تُبْلَوْنَنَّ

Langkah berikutnya menghapus nun rafa’.

Setelah itu muncul dua huruf sukun yang saling bertemu.

Dalam kondisi ini, ulama tidak menghapus wawu jama‘ah karena penghapusannya akan menghilangkan petunjuk keberadaan pelaku.

Atas dasar itu, bentuk akhirnya tetap mempertahankan unsur wawu.

Kapan Wawu Jama‘ah Tetap Ditulis?

Kitab membagi keadaan wawu jama‘ah menjadi dua.

Wawu Jama‘ah Harus Tetap Ada

Penulis mempertahankan huruf wawu jika tidak tersedia tanda lain yang dapat menunjukkan keberadaannya.

Contohnya:

لَتُبْلَوُنَّ

Keberadaan wawu tetap penting untuk menjaga struktur makna.

Wawu Jama‘ah Boleh Hilang dalam Tulisan

Sebaliknya, ulama membolehkan penghapusan jika harakat dhammah sudah cukup menjadi penanda.

Contohnya:

تَقُوْمُنَّ

Dalam bentuk ini, dhammah sudah menunjukkan adanya huruf yang tidak lagi ditulis.

Ya’ Mukhathabah dan Pengaruh Nun Taukid

Kitab juga membahas bentuk fi’il yang memakai ya’ mukhathabah.

Contohnya:

تَقُوْمِيْنَ

Bentuk tersebut termasuk amtsilatul khamsah sehingga tetap marfu’ dengan tanda tsubutun nun.

Ketika nun taukid masuk, bentuknya berubah menjadi:

Baca Juga :  Apa Risiko Memahami Agama Tanpa Bimbingan Ulama?

هَلْ تَقُوْمِنَّ بِوَاجِبِكُمْ ؟

Asalnya:

تَقُوْمِيْنَنَّ

Kaidah nahwu terlebih dahulu menghapus nun rafa’.

Sesudah itu, ya’ mukhathabah bertemu dengan nun sukun.

Ulama kemudian menghilangkan ya’ agar bacaan menjadi ringan.

Bentuk akhirnya menjadi:

تَقُوْمِنَّ

Walaupun tulisan tidak lagi menampilkan ya’, kedudukan ya’ sebagai fa’il tetap berlaku.

Contoh dalam Surah Maryam

Allah berfirman:

فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا

“Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih.’”
(QS. Maryam: 26)

Kata yang menjadi fokus pembahasan ialah:

تَرَيِنَّ

Kitab menelusuri bentuk asalnya:

تَرْأَيِيْنَنَّ

Proses perubahan berlangsung bertahap.

Ulama memindahkan harakat hamzah ke huruf sebelumnya.

Sesudah itu, mereka menghapus hamzah untuk mempermudah bacaan.

Tahap berikutnya menghilangkan nun rafa’ karena adanya alat jazm.

Perubahan lain menggeser bentuk ya’ hingga menghasilkan susunan akhir:

تَرَيِنَّ

Kata tersebut berstatus fi’il mudhari majzum dengan tanda hazfun nun.

Dua Kondisi Ya’ Mukhathabah

Kitab membedakan ya’ mukhathabah ke dalam dua keadaan.

Ya’ Harus Ditampilkan

Penulis mempertahankan ya’ apabila tidak ada indikator lain yang dapat menggantikannya.

Ya’ Boleh Tidak Ditulis

Sebaliknya, ulama memperbolehkan penghapusan jika kasrah sebelum huruf tersebut sudah cukup menunjukkan keberadaannya.

Makna ya’ tetap bertahan walaupun bentuk tulisannya hilang.

Kapan Fi’il Mudhari Tetap Mu‘rab?

Kitab menutup pembahasan dengan dua kondisi utama.

Tidak Bersambung dengan Nun Inats dan Nun Taukid

Contoh:

الْعَاقِلُ يَسْمَعُ النَّصِيْحَةَ

“Orang yang berakal adalah orang yang mau mendengarkan nasihat.”

Fi’il mudhari pada contoh tersebut tetap marfu’ dengan tanda dhammah.

Bersambung dengan Nun Taukid Ghair Mubasyirah

Contoh:

أَنْتُمْ لَا تَسْمَعُنَّ النَّصِيْحَةَ

“Kalian benar-benar tidak mendengarkan nasihat tersebut.”

Pada contoh ini, fi’il tetap mempertahankan sifat mu‘rab karena nun taukid tidak menyentuh huruf terakhir asli secara langsung.(ust)

Berita Terkait

Penjelasan Ta’jilun Nada: Macam-Macam Al-Kalimah( Bag.2 )
Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada: Memahami Metode Syarah Nahwu(Bag.1)
Tanda Kalimat Isim dalam Ilmu Nahwu: Jar hingga Musnad
Ciri-Ciri Isim dalam Bahasa Arab Lengkap dengan Contohnya
Bab Kalam Dalam Ilmu Nahwu: Pengertian, Pembagian, Dan Penjelasan Lengkap
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 11:00 WIB

Penjelasan Ta’jilun Nada: Macam-Macam Al-Kalimah( Bag.2 )

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:00 WIB

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada: Memahami Metode Syarah Nahwu(Bag.1)

Selasa, 9 Juni 2026 - 07:00 WIB

Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada: Fi’il Mudhari dan Nun Taukid

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:19 WIB

Tanda Kalimat Isim dalam Ilmu Nahwu: Jar hingga Musnad

Jumat, 22 Mei 2026 - 06:00 WIB

Ciri-Ciri Isim dalam Bahasa Arab Lengkap dengan Contohnya

Berita Terbaru

Metode berpikir logis untuk membangun kesimpulan yang benar di tengah derasnya opini media sosial menurut Imam Al-gazali( ilustrasi poto : surau.co )

Sejarah

Tiga Metode Berpikir Imam Al-Ghazali di Era Media Sosial

Rabu, 10 Jun 2026 - 11:00 WIB

Asal usul Bulan Hijriyah( poto : madaninews.id )

Sejarah

Asal Usul Nama Bulan Hijriah dari Tradisi Arab Kuno

Rabu, 10 Jun 2026 - 09:00 WIB

Delapan amalan yang mengundang do'a para Malaikat( poto :chatGPT ).

Al-Qur'an

8 Amalan yang Mengundang Doa Para Malaikat

Rabu, 10 Jun 2026 - 07:00 WIB

Al-Qur'an( poto : islami.co )

Al-Qur'an

Bergembira dengan Al-Qur’an, Karunia yang Tak Tertandingi

Rabu, 10 Jun 2026 - 05:22 WIB