Jakarta, dorlanhikmah.com – Tafsir Surah At-Takwir menguraikan berbagai peristiwa luar biasa yang akan terjadi pada hari kiamat. Surah ke-81 dalam Al-Qur’an ini tergolong sebagai surat Makiyah yang menampilkan gambaran kehancuran alam semesta, kebangkitan manusia, hingga dimulainya hari pembalasan.
Setelah menjelaskan tanda-tanda kiamat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan kemuliaan Al-Qur’an yang dibawa Malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Selanjutnya, ayat-ayat dalam surah ini juga menyinggung sikap kaum musyrikin yang tetap menolak kebenaran wahyu.
Salah satu keistimewaan Surah At-Takwir ialah penjelasannya yang sangat rinci mengenai peristiwa kiamat. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan menganjurkan siapa pun yang ingin mengetahui gambaran hari kiamat agar membaca dan merenungkan kandungan surah tersebut.
Matahari Digulung hingga Gunung Dihancurkan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwīr [81]: 1)
Allah membuka rangkaian ayat dengan kata “idza” yang berarti ketika atau apabila. Kata tersebut diulang sebanyak 12 kali sebagai bentuk tasywiq, yakni menarik perhatian pembaca agar benar-benar menyimak peristiwa besar yang akan dipaparkan.
Ayat pertama menjelaskan bahwa cahaya matahari akan lenyap, padahal selama ribuan tahun benda langit itu menjadi sumber penerangan bagi bumi.
Kata “kuwwirat” atau “takwir” memiliki makna digulung. Para ulama menjelaskan dua penafsiran terhadap kata tersebut.
Makna pertama menggambarkan matahari di gulung layaknya sorban sehingga seluruh cahayanya sirna. Penafsiran ini menunjukkan bahwa matahari akan hancur beserta seluruh eksistensinya.
Sementara itu, makna kedua mengibaratkan matahari seperti pakaian yang di lipat setelah selesai digunakan. Dalam penafsiran ini, matahari masih tetap ada, tetapi tidak lagi memancarkan cahaya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْ
“Apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwīr [81]: 2)
Ayat ini menjelaskan bahwa bintang-bintang akan kehilangan cahayanya, kemudian berguguran. Sebagian ulama memaknai peristiwa tersebut sebagai redupnya sinar bintang secara bertahap, sedangkan pendapat lain menyebutkan bintang akan hancur dan jatuh dengan cepat.
Jika di tinjau dari ilmu fisika, bintang merupakan benda langit berukuran sangat besar. Namun, karena letaknya sangat jauh, manusia melihatnya hanya sebagai titik-titik cahaya di langit malam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ
“Apabila gunung-gunung di hancurkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 3)
Pada hari kiamat, Allah mencabut gunung-gunung dari tempatnya, menggerakkannya, lalu menghancurkannya hingga berubah menjadi debu yang beterbangan.
Peristiwa itu dapat menjadi bahan renungan ketika manusia melihat letusan gunung berapi. Gunung yang tampak kokoh mampu berubah menjadi abu vulkanis yang mudah di terbangkan angin.
Manusia Tinggalkan Harta dan Hewan Ketakutan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ
“Apabila unta-unta yang bunting di tinggalkan (tidak terurus).” (QS. At-Takwīr [81]: 4)
Kengerian hari kiamat membuat manusia meninggalkan seluruh harta bendanya demi menyelamatkan diri. Pada masa Arab dahulu, unta bunting termasuk harta paling berharga.
Karena rasa takut yang luar biasa, pemiliknya tidak lagi memedulikan hewan tersebut. Gambaran ini menjadi cara Al-Qur’an mendekatkan makna kepada masyarakat Arab saat wahyu di turunkan.
Pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an tidak terbatas pada satu zaman. Kandungannya tetap relevan sepanjang masa bagi siapa saja yang mentadabburi ayat-ayatnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْ
“Apabila binatang-binatang liar di kumpulkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 5)
Peristiwa kiamat juga membuat hewan-hewan liar di liputi ketakutan. Mereka berkumpul di satu tempat, bahkan hewan buas dan mangsanya berada bersama tanpa saling menyerang.
Sebagian ulama menafsirkan bahwa kata di kumpulkan juga dapat bermakna seluruh binatang liar mati secara bersamaan akibat kedahsyatan hari kiamat.
Lautan Menjadi Api dan Manusia Dibangkitkan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ
“Apabila lautan dipanaskan.” (QS. At-Takwīr [81]: 6)
Pada hari kiamat, lautan berubah menjadi lautan api. Retakan besar akan membuka dasar samudra sehingga panas dari perut bumi memanaskan air hingga menguap.
Setelah seluruh air menghilang, bumi menjadi hamparan luas yang di persiapkan sebagai padang mahsyar. Sebagian ulama menafsirkan bahwa tempat berkumpul manusia berada di bumi yang sama setelah Allah mengubah seluruh bentuknya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْ
“Apabila roh-roh di pertemukan (dengan tubuh).” (QS. At-Takwīr [81]:7)
Allah membangkitkan seluruh jasad manusia dari kuburnya. Setelah itu, Allah mengembalikan setiap ruh ke jasad masing-masing tanpa tertukar sedikit pun.
Semua manusia kemudian berdiri untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal yang mereka kerjakan selama hidup di dunia.
Bayi Perempuan yang Dikubur Hidup-Hidup Menjadi Saksi
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ ، بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْ
“Apabila bayi-bayi perempuan yang di kubur hidup-hidup di tanya, ‘Karena dosa apa dia di bunuh?'” (QS. At-Takwīr [81]: 8-9)
Ibnu Juzay dalam kitab At-Tashil menjelaskan bahwa sebagian suku Arab pada masa jahiliah memiliki tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Mereka menganggap anak perempuan sebagai beban dan tidak berguna dalam peperangan.
Islam kemudian menghapus tradisi tersebut. Syariat memuliakan perempuan dengan menetapkan tanggung jawab kepada laki-laki untuk menjaga mereka, baik sebagai anak, istri, maupun saudara perempuan.
Catatan Amal Dibuka hingga Surga Didekatkan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ
“Apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah di buka lebar-lebar.” (QS. At-Takwīr [81]:10)
Pada saat hisab di mulai, setiap manusia menerima catatan amalnya sebagai bukti seluruh perbuatannya selama hidup di dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْ
“Apabila langit di lenyapkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 11)
Ayat ini kembali mengingatkan tentang dahsyatnya hari kiamat. Langit akan di cabut sebagaimana kulit hewan yang di lepaskan setelah di sembelih.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْ
“Apabila (neraka) Jahim di nyalakan.” (QS. At-Takwīr [81]: 12)
Allah menyalakan neraka Jahim dengan kobaran api yang sangat dahsyat sebagai tempat azab bagi orang-orang kafir dan para pendosa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْ
“Dan apabila surga di dekatkan.” (QS. At-Takwīr [81]: 13)
Sebaliknya, Allah mendekatkan surga kepada orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan senantiasa menaati-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْ
“Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah di kerjakannya.” (QS. At-Takwīr [81]: 14)
Pada saat itulah setiap manusia mengingat seluruh amalnya tanpa ada yang terlupakan. Mereka mengetahui asal-usul harta yang di peroleh, bagaimana waktu di habiskan, serta seluruh kebaikan dan keburukan yang pernah di lakukan selama hidup di dunia.(ust)
bersambung….










Komentar