Pengertian Mad dan Jenisnya Lengkap Menurut Tajwid

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 21 Agustus 2026 - 09:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Macam-macam mad.(poto:  yatlunahu).

Macam-macam mad.(poto: yatlunahu).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Memahami pengertian mad dan jenisnya menjadi landasan utama bagi umat Islam saat mempelajari tata cara membaca Al-Qur’an secara benar. Ilmu tajwid mengatur hukum bacaan ini agar setiap ayat terpelihara keaslian pelafalannya.

Secara bahasa, mad memiliki arti المطّ والزّيادة yang berarti memanjangkan dan menambah. Para ulama tajwid menyusun kaidah ini untuk menjaga ketepatan intonasi ayat suci.

Secara istilah, mad berarti اطالة الصّوت بحرف من حرف المدّ yang artinya memanjangkan suara dengan salah satu huruf dari huruf-huruf mad (asli). Panjang bacaan ini bergantung pada jenis hukum yang berlaku.

Huruf dasar mad terdiri dari tiga jenis, yaitu alif (أ), wawu (و), dan ya’ (ي). Ketiga huruf tersebut menjadi penanda utama munculnya hukum bacaan panjang.

Klasifikasi Mad Ashli dan Mad Far’i

Para ulama membagi hukum mad menjadi dua kategori besar, yakni Mad Ashli dan Mad Far’i. Pembagian ini membedakan hukum asal dengan hukum turunan.

  1. Mad Ashli (Mad Thobi’i) Mad Ashli berdiri sendiri karena zat huruf mad itu sendiri tanpa pengaruh sebab luar. Pembaca menyuarakan bacaan ini secara murni sepanjang 1 alif atau 2 harakat saat washal maupun waqaf.

  • Contoh: نُوحِيهَا (Nuhiha) yang menggabungkan tiga syarat mad ashli.

  1. Mad Far’i Mad Far’i secara bahasa berarti cabang, sedangkan secara istilah merupakan hukum tambahan dari Mad Ashli akibat pengaruh hamzah atau sukun. Pembacaan kategori ini terbagi ke dalam beberapa cabang khusus.

Rincian Pembagian Hukum Mad Far’i

  1. Mad Wajib Muttashil Hukum ini terjadi saat Mad Ashli bertemu hamzah dalam satu kata, sehingga Pembaca wajib memanjangkannya hingga 5 harakat atau 2 setengah alif.

  • Contoh: جَاءَ (Ja’a)

  1. Mad Jaiz Munfashil Hukum ini berlaku ketika Mad Ashli bertemu hamzah pada kata berbeda. Cara membacanya berkisar antara 2 sampai 5 harakat (1, 2, dan 2 setengah alif).

  • Contoh: بِمَا أُنْزِلَ (Bima unzila)

  1. Mad Lazim Harfi Musyba’ Hukum ini muncul khusus pada awal surat Al-Qur’an yang memuat huruf نقص عسلكم yakni ( ن، ق، ص، ع، س، ل، ك، م) dengan panjang 6 harakat atau 3 alif. Kategori ini terbagi menjadi dua bagian:

  • Mad Lazim Harfi Musyba’ Mutsaqqal: Terjadi proses idghom seperti QS. al-Baqarah ayat 1, QS. asy-Syu’ara’ ayat 1, dan QS. al-A’raf ayat 1 ( المّص, المّ ,طسمّ ).

  • Mad Lazim Harfi Musyba’ Mukhaffaf: Tanpa proses idghom seperti QS. Maryam ayat 1 dan QS. asy-Syura ayat 1 ( كهيعص ,عسق ).

  1. Mad Lazim Harfi Mukhaffaf Hukum ini menghiasi permulaan surat melalui huruf حَيٌّ طَهُرَ yakni ( ح، ي، ط، ه، ر) yang terbaca 2 harakat atau 1 alif.

  • Contoh: طه (Tha Ha)

  1. Mad Lazim Kalimi Mutsaqqal Hukum ini terjadi apabila huruf bertasydid mengikuti huruf mad dalam satu kalimat, sehingga Pembaca memanjangkannya 6 harakat atau 3 alif.

  • Contoh: الضَّالِّينَ (Adh-Dhollin)

  1. Mad Lazim Kalimi Mukhaffaf Hukum ini mensyaratkan huruf bersukun tanpa idghom setelah huruf mad dan terbaca sepanjang 6 harakat atau 3 alif.

  • Contoh: آلْآنَ (Al-Ana) pada QS. Yunus ayat 51 dan 91.

  1. Mad Badal Hukum ini hadir saat posisi hamzah mendahului huruf mad dalam satu kata dengan panjang bacaan 2 harakat atau 1 alif.

  • Contoh: آمَنَ (Aamana)

  1. Mad ‘Aridl lis Sukun Hukum ini berlaku ketika Pembaca mematikan (waqaf) huruf akhir kata yang didahului huruf mad ashli dengan durasi 2 sampai 6 harakat (1-3 alif).

  • Contoh: الْعَالَمِينَ (Al-‘Alamin)

Baca Juga :  Mengenal Hukum Tafkhim dan Tarqiq Ilmu Tajwid

Hukum Mad Khusus dan Cara Bacanya

  1. Mad ‘Iwadl Hukum ini terbentuk saat bacaan berhenti pada tanwin fathah di akhir kalimat sebagai pengganti bunyi tanwin dengan panjang 2 harakat atau 1 alif.

  • Contoh: عَلِيمًا حَكِيمًا (‘Aliman Hakima) yang dibaca ‘Aliman Hakimaa saat waqaf.

  1. Mad Lin Hukum ini terjadi ketika wawu mati atau ya mati yang didahului fathah bertemu huruf hidup yang diwaqafkan, sehingga terbaca 2 sampai 6 harakat (1-3 alif).

  • Contoh: خَوْفٍ (Khauf) saat di-waqafkan.

  1. Mad Shilah Hukum ini mengacu pada mad tambahan akibat ha’ dhamir (kata ganti orang ketiga tunggal) dan terbagi menjadi dua:

  • Mad Shilah Qashirah: Terbaca 2 harakat (1 alif) jika sebelum ha’ dhamir berupa huruf berharakat tanpa bertemu hamzah. Contoh: إِنَّهُ كَانَ (Innahu kana).

  • Mad Shilah Thawilah: Terbaca 5 harakat (2 setengah alif) karena bertemu hamzah qath’i. Contoh: عِنْدَهُ إِلَّا (‘Indahu illa).

  1. Mad Tamkin Hukum ini terbentuk dari pertemuan dua huruf ya dalam satu kata, di mana ya pertama berharakat kasrah serta bertasydid dan ya kedua berharakat sukun, dengan panjang 2 sampai 6 harakat (1-3 alif).

  • Contoh: النَّبِيِّينَ (An-Nabiyyin)

  1. Mad Farq Hukum ini berfungsi membedakan kalimat istifham (pertanyaan) dan khabar (keterangan) agar hamzah istifham tidak keliru sebagai kalimat biasa. Pembaca melafalkan hukum ini sepanjang 6 harakat atau 3 alif, seperti pada QS. al-An’am ayat 143 dan 144 serta QS. an-Naml ayat 59.

  • Contoh: آلذَّكَرَيْنِ (Aaldzakaraini).(ust)

Baca Juga :  Dampak Buruk Maksiat Menurut Ibnul Qayyim dan Ulama Salaf

Berita Terkait

Hukum Tajwid dan Seni Baca Al-Qur’an: Mana Lebih Utama?
Mengapa Surat Yasin Disebut Jantung Alquran?
Alasan Mengapa Manusia Membutuhkan Kitab Allah SWT
Rahasia Surat Al-Falaq: Kisah Ujian Sihir Rasulullah SAW
Tiga Makna Iqra dalam Pendidikan Karakter di Pesantren
Peran Manusia sebagai Khalifah Menjaga Ekosistem Laut
Tafsir Surah Al Qadr Syekh Utsaimin Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Mengenal Tafsir Surat Al-Ikhlas: Asbabun Nuzul dan Keutamaan
Berita ini 15 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:13 WIB

Hukum Tajwid dan Seni Baca Al-Qur’an: Mana Lebih Utama?

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Mengapa Surat Yasin Disebut Jantung Alquran?

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:37 WIB

Alasan Mengapa Manusia Membutuhkan Kitab Allah SWT

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:00 WIB

Rahasia Surat Al-Falaq: Kisah Ujian Sihir Rasulullah SAW

Jumat, 25 September 2026 - 14:15 WIB

Tiga Makna Iqra dalam Pendidikan Karakter di Pesantren

Berita Terbaru

Ilustrasi: Kiai mengajar kitab fikih klasik tentang istibra dan menjaga nasab kepada para santri di pesantren tradisional.(poto: AI).

Fiqih

Hukum Istibra Matan Taqrib: Aturan Menjaga Nasab

Selasa, 13 Okt 2026 - 15:53 WIB

Wali Kota Padang, Fadly Amran memimpin rapat Pembentukan Tim Fasilitasi Sertifikasi Keamanan Pangan dan Sertifikasi Halal Kota Padang.(poto: padangkita.com).

Berita Islam

Lindungi Konsumen, Pemko Padang Bentuk Tim Sertifikasi Pangan Halal

Selasa, 13 Okt 2026 - 15:45 WIB