Jakarta, dorlanhikmah.com – Susunan surat di dalam mushaf Utsmani diawali oleh Surat Al-Fatihah dan ditutup dengan Surat An-Nas. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa urutan penataan mushaf tersebut berbeda dengan kronologi waktu penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Oleh karena itu, umat Islam memahami secara umum bahwa Surat Al-Alaq menjadi wahyu pertama yang turun di Gua Hira. Selanjutnya, proses penurunan wahyu berikutnya secara bertahap menyimpan sistematika pendidikan ilahi yang sangat krusial bagi pembentukan generasi Muslim awal.
Sayangnya, tidak adanya riwayat mutawatir mengenai urutan kronologis wahyu memicu para cendekiawan untuk melakukan penelusuran sejarah. Akibatnya, keadaan ini melahirkan beberapa versi urutan nuzululqur’an dari hasil ijtihad para mufasir serta akademisi.
Versi Muhammad Abid Al-Jabiri
Pemikir Islam asal Maroko, Muhammad Abid Al-Jabiri, menyusun urutan nuzul berdasarkan metode tafsir kronologisnya. Selain itu, tokoh yang lahir pada 27 Desember 1935 dan wafat pada 3 Mei 2010 ini mengelompokkan wahyu untuk merekam tahap pembentukan nalar Islam.
Secara spesifik, Al-Jabiri menempatkan Surat Al-Alaq pada posisi pertama, lalu menempatkan Surat At-Taubah dan Surat An-Nashr di bagian akhir. Kemudian, metode ini ia tuangkan dalam karya monumentalnya yang berfokus pada pendekatan epistemologi bayani, irfani, dan burhani.
Berikut sistematika penataan wahyu menurut Al-Jabiri:
-
Al-Alaq, Al-Muddatsir, Al-Masad, At-Takwir, Al-A’la, Al-Lail, Al-Fajr, Adh-Dhuha, Al-Insyirah, Al-Asr.
-
Al-Adiyat, Al-Kautsar, At-Takatsur, Al-Ma’un, Al-Kafirun, Al-Fil, Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlas, Al-Fatihah.
-
Ar-Rahman, An-Najm, Abasa, Asy-Syams, Al-Buruj, At-Tin, Al-Quraisy, Al-Qari’ah, Al-Zalzalah, Al-Qiyamah.
-
Al-Humazah, Al-Mursalat, Qaf, Al-Balad, Al-Qalam, Ath-Thariq, Al-Qamar, Shad, Al-A’raf, Al-Jinn.
-
Yasin, Al-Furqan, Fathir, Maryam, Thaha, Al-Waqiah, Asy-Syu’ara, An-Naml, Al-Qashash, Yunus.
-
Hud, Yusuf, Al-Hijr, Al-An’am, Ash-Shaffat, Luqman, Saba’, Az-Zumar, Ghafir, Fushilat.
-
Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf, Nuh, Adz-Dzariyat, Al-Ghasiyah, Al-Insan, Al-Kahfi.
-
An-Nahl, Ibrahim, Al-Anbiya’, Al-Mu’minun, As-Sajdah, Ath-Thur, Al-Mulk, Al-Haqqah, Al-Ma’arij, An-Naba’.
-
An-Naziat, Al-Infithar, Al-Insyiqaq, Al-Muzammil, Ar-Ra’du, Al-Isra’, Ar-Rum, Al-Ankabut, Al-Muthaffifin, Al-Hajj.
-
Al-Baqarah, Al-Qadar, Al-Anfal, Ali Imran, Al-Ahzab, Al-Mumtahanah, An-Nisa’, Al-Hadid, Muhammad, Ath-Thalaq.
-
Al-Bayyinah, Al-Hasyr, An-Nur, Al-Munafiqun, Al-Mujadalah, Al-Hujurat, At-Tahrim, At-Taghabun, Ash-Shaf, Al-Jumu’ah.
-
Al-Fath, Al-Maidah, At-Taubah, An-Nashr.
Versi Muhammad Izzat Darwazah
Sementara itu, sejarawan dan mufasir asal Palestina, Muhammad Izzat Darwazah (1887–1984), menawarkan pandangan lain melalui kitab al-Tafsir al-Hadis. Berbeda dari Al-Jabiri, ia menempatkan Surat Al-Fatihah sebagai pembuka wahyu karena memperhitungkan kebutuhan bacaan shalat pada fase awal dakwah.
Melalui pendekatan sosiologis ini, ia menempatkan wahyu-wahyu pendek di fase awal sebelum masuk ke pembahasan hukum. Selanjutnya, Darwazah mengakhiri urutan penurunannya dengan Surat An-Nashr sebagai penutup rangkaian wahyu.
Berikut sistematika penataan wahyu menurut Muhammad Izzat Darwazah:
-
Al-Fatihah, Al-Alaq, Al-Qalam, Al-Muzammil, Al-Muddatsir, Al-Masad, At-Takwir, Al-A’la, Al-Lail, Al-Fajr.
-
Adh-Dhuha, Al-Insyirah, Al-Ashr, Al-Adiyat, Al-Kautsar, At-Takatsur, Al-Maun, Al-Kafirun, Al-Fil, Al-Falaq.
-
An-Nas, Al-Ikhlas, An-Najm, Abasa, Al-Qadr, Asy-Syams, Al-Buruj, At-Tin, Quraisy, Al-Qariah.
-
Al-Qiyamah, Al-Humazah, Al-Mursalat, Qaf, Al-Balad, Ath-Thariq, Al-Qamar, Shad, Al-A’raf, Al-Jinn.
-
Yasin, Al-Furqon, Fathir, Maryam, Thaha, Al-Waqiah, Asy-Syuara, An-Naml, Al-Qashash, Al-Isra’.
-
Yunus, Hud, Yusuf, Al-Hijr, Al-An’am, Ash-Shaffat, Luqman, Saba’, Az-Zumar, Ghafir.
-
Fushilat, Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf, Adz-Dzariyat, Al-Ghasiyah, Al-Kahfi, An-Nahl.
-
Nuh, Ibrahim, Al-Anbiya’, Al-Mu’minun, As-Sajdah, Ath-Thur, Al-Mulk, Al-Haqqah, Al-Ma’arij, An-Naba’.
-
An-Naziat, Al-Infithar, Al-Insyiqaq, Ar-Rum, Al-Ankabut, Al-Muthaffifin, Ar-Ra’du, Ar-Rahman, Al-Insan, Al-Zalzalah.
-
Al-Baqarah, Al-Anfal, Ali Imran, Al-Ahzab, Al-Mumtahanah, An-Nisa’, Al-Hadid, Muhammad, Ath-Thalaq, Al-Bayyinah.
-
Al-Hasyr, An-Nur, Al-Hajj, Al-Munafiqun, Al-Mujadalah, Al-Hujurat, At-Tahrim, At-Taghabun, Ash-Shaff, Al-Jumu’ah.
-
Al-Fath, Al-Maidah, At-Taubah, An-Nashr.
Versi Ibnu Qarnas
Di samping itu, pemikir kontemporer Suriah, Ibnu Qarnas, menyusun urutan wahyu secara kritis melalui karyanya Al-Ahsan al-Tafasir. Bahkan, ia merombak susunan konvensional berdasarkan analisis tekstual mendalam terhadap isi setiap surat.
Dengan demikian, Ibnu Qarnas menempatkan Surat Al-Fatihah dan Al-A’la di posisi awal rangkaian nuzul. Setelah itu, ia mengakhiri kronologi penurunan Al-Qur’an dengan Surat An-Nasr.
Berikut sistematika penataan wahyu menurut Ibnu Qarnas:
-
Al-Fatihah, Al-A’la, Al-Alaq, Al-Fil, Quraisy, Al-Ashr, At-Tin, At-Takatsur, Al-Adiyat, Al-Muzammil.
-
Al-Muddatsir, Al-Qari’ah, Al-Zalzalah, Al-Infithar, Al-Insyiqaq, At-Takwir, Asy-Syams, Al-Lail, Ath-Thariq, Al-Fajr.
-
Al-Balad, Al-Qiyamah, An-Naba’, Qaf, Al-Waqiah, Al-Ghasiyah, Al-Haqqah, Al-Muthaffifin, Abasa, Al-Mursalat.
-
Al-Jinn, Al-Falaq, An-Nas, Al-Insan, Al-Mulk, Yasin, Ar-Rahman, An-Najm, Al-Qalam, Ath-Thur.
-
Nuh, Al-Qamar, Adh-Dhuha, Al-Insyirah, Al-Humazah, Al-Qadr, Shad, Ash-Shaffat, An-Naziat, Adz-Dzariyat.
-
Al-Ahqaf, Al-Jatsiyah, Fathir, Fushilat, Ad-Dukhan, Az-Zukhruf, Ghafir, Maryam, Al-Ikhlas, Al-Kahfi.
-
Saba’, Al-Kafirun, Luqman, An-Naml, Al-Hijr, Thaha, As-Sajdah, Al-Mu’minun, Al-Ma’arij, Al-Furqan.
-
Az-Zumar, Al-A’raf, Yunus, Yusuf, Al-Kaustar, Ibrahim, Al-Anbiya’, Asy-Syura, Asy-Syu’ara, Hud.
-
Al-Isra’, Al-An’am, An-Nahl, Al-Qashash, Al-Masad, AL-Buruj, Al-Ankabut, Ar-Ra’du, Al-Hajj, Al-Mumtahanah.
-
Al-Hujurat, Al-Mujadalah, Al-Jumu’ah, Al-Baqarah, An-Nisa’, Al-Maun, Al-Maidah, Muhammad, Ash-Shaff, Al-Anfal.
-
Al-Hadid, At-Taghabun, Ath-Thalaq, Ali Imran, Al-Bayyinah, At-Tahrim, Al-Ahzab, An-Nur, Al-Munafiqun, Al-Fath.
-
Ar-Rum, At-Taubah, Al-Hasyr, An-Nasr.
Versi Theodor Nöldeke
Selain dari kalangan ulama Muslim, kajian kronologi Al-Qur’an juga datang dari orientalis asal Jerman, Theodor Nöldeke (1836–1930). Pada akhirnya, ia mempublikasikan urutan nuzul versinya dalam buku Geschichte des Qorans pada tahun 1860.
Dalam hal ini, Nöldeke mengurutkan penataan surat berdasarkan perubahan gaya bahasa dan struktur sastra teks Al-Qur’an. Oleh sebab itu, ia menguji pergeseran gaya puitis fase Makkiyah hingga gaya bahasa hukum pada fase Madaniyah.
Berikut sistematika penataan wahyu menurut Theodor Nöldeke:
-
Al-Alaq, Al-Muddatsir, Al-Masad, Quraisy, Al-Kautsar, Al-Humazah, Al-Maun, At-Takatsur, Al-Fil, Al-Lail.
-
Al-Balad, Al-Insyirah, Adh-Dhuha, Al-Qadr, Ath-Thariq, Asy-Syams, Abasa, Al-Qalam, Al-Al’a, At-Tin.
-
Al-Ashr, Al-Buruj, Al-Muzammil, Al-Qariah, Al-Zalzalah, Al-Infithar, At-Takwir, An-Najm, Al-Insyiqaq, Al-Adiyat.
-
An-Naziat, Al-Mursalat, An-Naba’, Al-Ghasiyah, Al-Fajr, Al-Qiyamah, Al-Muthaffifin, Al-Haqqah, Adz-Dzariyat, Ath-Thur.
-
Al-Waqiah, Al-Maarij, Ar-Rahman, Al-Ikhlas, Al-Kafirun, Al-Falaq, An-Nas, Al-Fatihah, Al-Qamar, Ash-Shaffat.
-
Nuh, Al-Insan, Ad-Dukhan, Qaf, Thaha, Asy-Syu’ara, Al-Hijr, Maryam, Shad, Yasin.
-
Az-Zukhruf, Al-Jinn, Al-Mulk, Al-Mu’minun, Al-Anbiya’, Al-Furqan, Al-Isra’, An-Naml, Al-Kahfi, As-Sajdah.
-
Fushilat, Al-Jatsiyah, An-Nahl, Ar-Rum, Hud, Ibrahim, Yusuf, Ghafir, Al-Qashash, Az-Zumar.
-
Al-Ankabut, Luqman, Asy-Syura, Yunus, Saba’, Fathir, Al-A’raf, Al-Ahqaf, Al-An’am, Ar-Ra’du.
-
Al-Baqarah, Al-Bayyinah, At-Taghabun, Al-Jumu’ah, Al-Anfal, Muhammad, Ali Imran, Ash-Shaff, An-Nisa’, Ath-Thalaq.
-
Al-Hasyr, Al-Ahzab, Al-Munafiqun, An-Nur, Al-Mujadalah, Al-Hajj, Al-Fath, At-Tahrim, Al-Mumthanah, An-Nashr.
-
Al-Hujurat, At-Taubah, Al-Maidah, Al-Hadid.
Kesimpulan dan Hikmah Tartib Nuzul
Pada akhirnya, perbedaan hasil ijtihad ini membuktikan bahwa belum ada kesepakatan tunggal mengenai urutan kronologis penurunan surat. Kendati demikian, kesepakatan mutlak umat Islam sejauh ini tetap berpijak pada susunan mushaf Utsmani.
Meskipun berbeda versi, seluruh peneliti memperlihatkan pola pembinaan yang serupa dalam wahyu. Ringkasnya, surat-surat awal berfokus pada penanaman akidah, sedangkan surat-surat akhir mengatur tatanan hukum masyarakat. Wallahu a’lam bish shawab.(ust)










Komentar