Jakarta, dorlanhikmah.com – Para mufassir mengelompokkan Surat Ad-Dhuha sebagai urutan ke-93 dalam alur penulisan Al-Qur’an golongan Makkiyah. Kehadiran peristiwa asbabun nuzul turunnya surat Ad-Dhuha ini sekaligus menjawab keraguan kaum Quraisy di Mekkah saat wahyu terhenti sementara waktu.
Penghentian wahyu pada masa awal kenabian Muhammad SAW tersebut memicu berbagai spekulasi dan pertanyaan warga. Masyarakat Quraisy yang ragu langsung memanfaatkan jeda waktu penantian itu untuk menyebarkan narasi menyesatkan.
Sebab Turunnya Surat Ad-Dhuha Dan Respon Quraisy
Sahabat Jundab bin Abdullah menceritakan bahwa Malaikat Jibril sempat tidak berkunjung membawa kabar langit selama beberapa hari. Kejadian tersebut mendorong seorang perempuan Quraisy melontarkan sindiran tajam yang menyudutkan posisi Rasulullah.
Wanita itu melayangkan tuduhan bahwa tuhan atau setan pendamping telah meninggalkan serta membenci Nabi Muhammad. Allah SWT langsung menurunkan firman-Nya untuk membantah ejekan kejam dan tidak berdasar dari wanita tersebut.
Para ahli tafsir mencatat perbedaan pendapat mengenai lamanya masa jeda penantian wahyu dari langit itu. Tokoh mufassir As-Suddy bersama Muqaatil menyebutkan rentang waktu penghentian wahyu berlangsung selama 40 hari.
Sementara itu Ibnu ‘Abbas memproyeksikan jeda waktu tersebut bertahan dalam durasi penantian selama 25 hari. Pendapat lain dari al-Kalaby mencatat masa 15 hari, sedangkan pakar Ibnu Juraij memperkirakan 12 hari.
LPMQ (2017) menegaskan bahwa ayat satu sampai tiga turun secara khusus demi merespons ejekan wanita tersebut. Cendekiawan M. Quraish Shihab menambah analisis bahwa surat ini hadir sebagai hiburan penenteram batin Rasulullah.
Kandungan Janji Allah Dan Pengangkatan Derajat Nabi
Kemenag RI menjelaskan bahwasanya Allah bersumpah menggunakan tanda kebesaran berupa waktu dhuha dan keheningan malam. Sumpah agung tersebut menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan ataupun memarahi Rasul utusan-Nya.
Allah melayangkan janji bahwa kehidupan dakwah Nabi di hari mendatang akan jauh melampaui masa lalu. Nama Rasulullah kian mendunia, sementara kedudukannya terus menguat sebagai rahmat dan cahaya bagi seluruh alam.
Ayat kelima membawa berita gembira berupa limpahan anugerah yang terus mengalir demi membahagiakan batin Nabi. Allah menjamin kemenangan agama Islam atas seluruh ajaran lain melalui petunjuk wahyu yang turun berkesinambungan.
Allah turut mengingatkan rekam jejak perlindungan-Nya saat memelihara Nabi Muhammad yang tumbuh sebagai anak yatim. Kehidupan masa kecil yang miskin pun berganti keberkahan berkat sukses dagang dan dukungan penuh Khadijah.
Perintah Menjaga Anak Yatim Dan Mengingat Nikmat
Melalui ayat kesembilan, Allah melarang keras tindakan menghina atau memangkas hak anak-anak yatim secara sewenang-wenang. Umat Islam memikul kewajiban mendidik anak yatim dengan pijakan adab serta karakter akhlak mulia.
Ayat kesepuluh memerintahkan Rasulullah dan umatnya agar melayani setiap pemohon bantuan tanpa bentakan kasar. Muslim hendaknya merespons pemohon petunjuk keagamaan maupun orang miskin dengan sikap lembut ramah.
Ayat pamungkas menegaskan agar setiap muslim senantiasa menyebut dan mengingat limpahan nikmat Allah sebagai wujud syukur. Tindakan menyebarkan kabar nikmat ini bertujuan membangun kesadaran bersama, bukan untuk ajang pamer kemewahan.
Sikap dermawan senantiasa mendorong seseorang menampilkan pengorbanan harta atas dasar rasa terima kasih kepada Sang Pencipta. Berseberangan dengan itu, kaum kikir selalu menyembunyikan harta serta mengeluhkan kekurangan demi menghindar dari sedekah.(ust)










Komentar