Jakarta, dorlanhikmah.com – Pencipta merancang rahasia ketenangan jiwa manusia melalui perpaduan unsur fisik dan spiritual secara seimbang. Keagungan penciptaan ini terpancar dari keberagaman makhluk hidup di alam semesta.
Malaikat hadir dari pancaran cahaya, sedangkan jin tercipta dari kobaran api. Namun, manusia menempati derajat paling istimewa dibanding makhluk lainnya.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Kami ciptakan manusia sebaik baik bentuk. (QS. At-Tin, 95: 4)
Dua Unsur Utama Pembentuk Manusia
Pencipta merajut tubuh manusia dari gabungan jasmani serta rohani. Hubungan erat kedua unsur ini tercantum jelas dalam Al-Qur’an.
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن طِينٍ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.” (QS. Shad, 38: 71-72)
Ayat tersebut menautkan jasmani dengan tanah, sementara rohani terhubung langsung dengan Allah. Atas dasar itulah, para malaikat bersujud menghormati Nabi Adam alaihissalam.
Ibarat perangkat gawai, jasmani berperan sebagai hardware dan rohani menjadi software. Komponen fisik tentu kehilangan fungsi tanpa kehadiran sistem operasi di dalamnya.
Lagu Indonesia Raya bahkan menegaskan pentingnya membangun jiwa sebelum membina badan. Lirik tersebut berbunyi:
Bangunlah jiwanya ..
Bangunlah badannya ..
Ancaman Psikosomatik dan Porsi Rohani
Serangan virus corona secara langsung mengincar ketahanan jasmani manusia. Namun, dampak fisik dapat merambat menuju kerusakan rohani jika memicu stres, depresi, pikiran negatif, amarah, rasa takut, hingga kegalauan.
Kondisi ini memicu gangguan psikosomatik pada tubuh seseorang. Oleh karena itu, porsi jasmani hanya memegang 20 persen, sedangkan rohani menguasai 80 persen kehidupan.
Dzikir sebagai Benteng Ketenangan Hati
Setiap orang wajib merawat rohani agar tidak runtuh diterpa ujian. Mengingat Allah menjadi cara ampuh untuk menjaga kedamaian jiwa.
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Sungguh dengan berdzikir orang beriman itu akan merasa tentram. (QS. Ar-Ra’d, 13: 28)
Tujuh Bentuk Dzikir Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Baari (11/212) merinci tujuh tingkatan dzikir yang perlu diamalkan:
-
Dzikir dua mata: Menangis karena rasa takut dan tunduk kepada Allah.
-
Dzikir dua telinga: Mendengarkan berbagai kalimat kebenaran.
-
Dzikir lisan: Mengucapkan pujian kepada Sang Pencipta.
-
Dzikir tangan: Memberi bantuan dan bersedekah karena Allah.
-
Dzikir anggota tubuh: Menggerakkan badan untuk taat kepada-Nya.
-
Dzikir qalbu: Menanamkan rasa takut, harap, dan cinta kepada Allah.
-
Dzikir ruh: Berserah diri secara total kepada penciptanya.
Peringatan Agar Tidak Melalaikan Dzikir
Allah mengingatkan kaum beriman agar tidak terlena oleh kesibukan harta dan anak. Kelalaian mengingat Tuhan akan membawa kerugian besar bagi manusia.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al-Munafiquun, 63: 9)
Rasulullah ﷺ turut menegaskan bahaya mengabaikan aspek spiritual dalam kehidupan duniawi.
أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلعون مَا فِيهَا، إِلاَّ ذِكْرَ اللَّه تَعَالَى
“Dunia dan seisinya dilaknat Allah selama tidak digunakan untuk mengingat Allah.” (HR. At-Turmudzi, Hasan)
Menjauhi Sifat Lupa dan Menggapai Husnul Khatimah
Setiap orang perlu memanfaatkan kesempatan hidup dengan terus berdzikir. Kejahatan manusia kerap bersumber dari kelalaian mengingat Sang Pencipta.
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. (QS. Al-Hasyr, 59: 19)
Manusia hendaknya melatih diri untuk terus mengagungkan nama-Nya hingga akhir hayat. Umat beriman berharap dapat mengucapkan kalimat tauhid saat menghembuskan napas terakhir.
لا إلهَ إلاَّ اللّهُ
LAA ILAAHA ILLALLAH.
Semoga Allah melimpahkan husnul khatimah kepada kita semua. Aamin.(ust)










Komentar