Jakarta, dorlanhikmah.com – Sekitar 1.400 tahun silam, pertempuran dahsyat Perang Uhud pecah di kawasan gunung yang amat dicintai Rasulullah SAW. Peristiwa berdarah tersebut menggugurkan sekitar 70 sahabat Nabi di medan laga.
Prof Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Sirah Nabawiyah menjelaskan pemicu utama bentrokan tersebut. Kafir Quraisy berambisi menghalangi manusia dari jalan Allah SWT serta menumpas dakwah Islam.
Dendam Badar dan Motif Pasukan Quraisy
Kekalahan telak pada Perang Badar turut membakar amarah para pembesar Quraisy. Mereka mengumpulkan harta benda demi membalas dendam sekaligus membersihkan noda kehinaan tersebut.
Selain faktor agama, ambisi ekonomi dan politik mendorong pergerakan musuh. Musyrikin Quraisy berusaha keras mengembalikan pengaruh politik mereka yang sempat hancur.
Mobilisasi Pasukan dan Laporan Intelijen
Pasukan Quraisy menghimpun kekuatan hingga mencapai 3.000 personel bersenjata lengkap. Mereka memboyong perempuan serta hamba sahaya saat bergerak dari Makkah menuju Madinah.
Al-Abbas bin Abdul Muthalib memantau ketat pergerakan musuh dari Makkah. Intelijen Rasulullah SAW ini lantas mengirimkan surat informasi berkala ke Masjid Quba.
Pembagian Barisan dan Strategi Bukit Ainain
Rasulullah SAW segera menggelar musyawarah bersama para sahabat di Madinah. Beliau kemudian menetapkan kondisi darurat perang dan memboyong pasukan keluar kota.
Beliau membagi pasukan muslim ke dalam tiga panji utama. Mus’ab bin Umair memimpin Muhajirin, Usaid bin Hudhair memimpin Aus, dan Hubab bin Al-Mudzir memimpin Khazraj.
Pasukan muslim sengaja membelakangi Bukit Uhud dan menghadap ke arah Kota Madinah. Beliau menempatkan 50 pemanah di Bukit Ainain untuk menghadang serangan mendadak musuh.
Nabi SAW mewanti-wanti para pemanah agar tidak bergeming dari posisi mereka. Beliau melarang pasukan membunuh musuh sebelum keluar perintah resmi.
Titik Balik Pertempuran akibat Kelalaian
Pertempuran diawali duel sengit antara Ali bin Abi Thalib melawan Thalhah bin Utsman. Pasukan muslim sempat mendominasi medan laga dengan semangat jihad yang membara.
Sayangnya, potensi harta rampasan perang menggoyahkan fokus para pemanah. Mayoritas pasukan pemanah nekat meninggalkan pos karena mengira pertempuran telah usai.
Abdullah bin Jubair selaku pimpinan pos telah mengingatkan pesan tegas Rasulullah SAW. Namun, imbauan tersebut terabaikan saat pasukan merangsek mengumpulkan harta rampasan.
Khalid bin Al-Walid memanfaatkan celah kosong tersebut untuk melancarkan serangan balasan. Pasukan musyrik langsung mengepung kaum muslimin dari dua arah berbeda.
Hoaks Gugurnya Rasulullah SAW
Kondisi tersebut memicu kepanikan luar biasa hingga barisan muslim terpecah belah. Ketiadaan komunikasi membuat rumor palsu terkait gugurnya Rasulullah SAW menyebar luas.
Sebagian pasukan memilih bertahan hingga syahid demi membela keyakinan mereka. Satu per satu pejuang gugur hingga pertempuran dua fase ini berakhir.
Pertempuran ini mengabadikan kemuliaan Gunung Uhud di mata umat Islam. Rasulullah SAW menegaskan kecintaan beliau terhadap gunung tersebut melalui sabda beliau:
إِنَّ أُحُدًا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ
Artinya: “Sesungguhnya Uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” (Shahih Muslim, dari Anas bin Malik).(ust)










Komentar