Kisah Perang Uhud: Pemicu, Taktik, dan Titik Balik Pertempuran

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 10 Agustus 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jabal Uhud di Madinah.(poto: detikhikmah).

Jabal Uhud di Madinah.(poto: detikhikmah).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Sekitar 1.400 tahun silam, pertempuran dahsyat Perang Uhud pecah di kawasan gunung yang amat dicintai Rasulullah SAW. Peristiwa berdarah tersebut menggugurkan sekitar 70 sahabat Nabi di medan laga.

Prof Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Sirah Nabawiyah menjelaskan pemicu utama bentrokan tersebut. Kafir Quraisy berambisi menghalangi manusia dari jalan Allah SWT serta menumpas dakwah Islam.

Dendam Badar dan Motif Pasukan Quraisy

Kekalahan telak pada Perang Badar turut membakar amarah para pembesar Quraisy. Mereka mengumpulkan harta benda demi membalas dendam sekaligus membersihkan noda kehinaan tersebut.

Selain faktor agama, ambisi ekonomi dan politik mendorong pergerakan musuh. Musyrikin Quraisy berusaha keras mengembalikan pengaruh politik mereka yang sempat hancur.

Mobilisasi Pasukan dan Laporan Intelijen

Pasukan Quraisy menghimpun kekuatan hingga mencapai 3.000 personel bersenjata lengkap. Mereka memboyong perempuan serta hamba sahaya saat bergerak dari Makkah menuju Madinah.

Al-Abbas bin Abdul Muthalib memantau ketat pergerakan musuh dari Makkah. Intelijen Rasulullah SAW ini lantas mengirimkan surat informasi berkala ke Masjid Quba.

Baca Juga :  Doa Abdul Muthalib di Ka'bah Saat Kelahiran Nabi Muhammad

Pembagian Barisan dan Strategi Bukit Ainain

Rasulullah SAW segera menggelar musyawarah bersama para sahabat di Madinah. Beliau kemudian menetapkan kondisi darurat perang dan memboyong pasukan keluar kota.

Beliau membagi pasukan muslim ke dalam tiga panji utama. Mus’ab bin Umair memimpin Muhajirin, Usaid bin Hudhair memimpin Aus, dan Hubab bin Al-Mudzir memimpin Khazraj.

Pasukan muslim sengaja membelakangi Bukit Uhud dan menghadap ke arah Kota Madinah. Beliau menempatkan 50 pemanah di Bukit Ainain untuk menghadang serangan mendadak musuh.

Nabi SAW mewanti-wanti para pemanah agar tidak bergeming dari posisi mereka. Beliau melarang pasukan membunuh musuh sebelum keluar perintah resmi.

Titik Balik Pertempuran akibat Kelalaian

Pertempuran diawali duel sengit antara Ali bin Abi Thalib melawan Thalhah bin Utsman. Pasukan muslim sempat mendominasi medan laga dengan semangat jihad yang membara.

Sayangnya, potensi harta rampasan perang menggoyahkan fokus para pemanah. Mayoritas pasukan pemanah nekat meninggalkan pos karena mengira pertempuran telah usai.

Baca Juga :  Zuhud Ali bin Abi Thalib: Ketegasan Menolak Dunia dan Memilih Akhirat

Abdullah bin Jubair selaku pimpinan pos telah mengingatkan pesan tegas Rasulullah SAW. Namun, imbauan tersebut terabaikan saat pasukan merangsek mengumpulkan harta rampasan.

Khalid bin Al-Walid memanfaatkan celah kosong tersebut untuk melancarkan serangan balasan. Pasukan musyrik langsung mengepung kaum muslimin dari dua arah berbeda.

Hoaks Gugurnya Rasulullah SAW

Kondisi tersebut memicu kepanikan luar biasa hingga barisan muslim terpecah belah. Ketiadaan komunikasi membuat rumor palsu terkait gugurnya Rasulullah SAW menyebar luas.

Sebagian pasukan memilih bertahan hingga syahid demi membela keyakinan mereka. Satu per satu pejuang gugur hingga pertempuran dua fase ini berakhir.

Pertempuran ini mengabadikan kemuliaan Gunung Uhud di mata umat Islam. Rasulullah SAW menegaskan kecintaan beliau terhadap gunung tersebut melalui sabda beliau:

إِنَّ أُحُدًا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ

Artinya: “Sesungguhnya Uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” (Shahih Muslim, dari Anas bin Malik).(ust)

Berita Terkait

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan
Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara
Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Sejarah Panjang Penurunan Kitab Suci Al-Qur’an
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Minggu, 20 September 2026 - 16:05 WIB

Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah

Berita Terbaru

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:38 WIB

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:33 WIB

Pusat Studi Al-Qur'an menggelar diskusi keagamaan memperingati Hari Santri 2026 di Tangerang Selatan.(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Nilai Pesantren Jadi Kompas Hadapi Era AI

Kamis, 22 Okt 2026 - 14:57 WIB