Jakarta, dorlanhikmah.com – Pengangkatan Yazid bin Mu’awiyah sebagai khalifah dalam sejarah awal Islam langsung memicu kontroversi pengangkatan Yazid bin yang meluas di kalangan umat.
Penunjukan ini terjadi ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengangkat putranya sebagai penerus pada 56 H/676 M, menggantikan dirinya yang wafat pada 60 H/680 M. Kebijakan tersebut menjadi titik balik penting dalam sistem kepemimpinan umat Islam.
Langkah ini menandai perubahan besar dari pola suksesi sebelumnya. Empat khalifah terdahulu dipilih melalui mekanisme musyawarah atau dewan syura terbatas. Namun, pengangkatan Yazid dinilai banyak pihak sebagai awal munculnya sistem monarki dalam pemerintahan Islam.
Awal Munculnya Sistem Suksesi Baru dalam Islam
Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengambil keputusan politik yang berani dengan menetapkan Yazid sebagai penerus kekuasaan. Ia mengubah pola kepemimpinan yang sebelumnya berbasis konsensus menjadi sistem pewarisan keluarga.
Sebagian ulama dan sejarawan mencatat bahwa model ini menyerupai sistem suksesi yang berkembang di Imperium Romawi dan Persia. Bahkan, An-Nasai dalam al-Sunan al-Kubra menyinggung adanya kemiripan pola kekuasaan tersebut dengan sistem kerajaan di luar tradisi Islam.
Perubahan ini memunculkan perdebatan panjang tentang legitimasi politik dalam Islam. Sebagian pihak menerima, namun banyak yang menolaknya karena dianggap tidak sesuai dengan praktik para khalifah sebelumnya.
Penolakan Tokoh-Tokoh Awal Islam
Penolakan terhadap Yazid bin Mu’awiyah muncul dari sejumlah tokoh penting. Di antaranya adalah Husain bin ‘Ali ra. (61 H/680 M) dan Abdullah bin Zubair (w. 73 H/692 M). Keduanya menolak memberikan baiat kepada Yazid.
Abdullah bin Zubair kemudian meninggalkan Madinah dan menuju Makkah. Ia membangun basis kekuatan politik di kota suci tersebut dan mulai mengonsolidasikan dukungan untuk melawan kekuasaan Umayyah di Damaskus.
Langkah ini menandai awal terbentuknya oposisi politik yang serius terhadap pemerintahan Yazid. Situasi tersebut memperuncing ketegangan antara pusat kekuasaan dan kelompok oposisi di wilayah Hijaz.
Mobilisasi Militer Yazid dan Konflik Madinah
Yazid bin Mu’awiyah tidak tinggal diam menghadapi perlawanan tersebut. Ia mengirim pasukan yang dipimpin Muslim bin ‘Uqbah untuk menumpas gerakan oposisi.
Pada 63 H, pecah pertempuran besar di al-Harrah, wilayah dekat Madinah. Dalam peristiwa ini, pasukan Madinah yang dipimpin Abdullah bin Handhalah tidak mampu menghadapi kekuatan militer Umayyah.
Pasukan Umayyah kemudian menguasai Madinah dan melanjutkan operasi militer ke arah Makkah. Tujuan mereka adalah menghancurkan basis kekuatan Abdullah bin Zubair yang semakin menguat.
Pengepungan Makkah dan Wafatnya Yazid
Pasukan Umayyah terus bergerak ke Makkah untuk mengepung posisi Abdullah bin Zubair. Namun, di tengah pengepungan tersebut, Yazid bin Mu’awiyah wafat.
Kematian Yazid mengubah arah konflik secara drastis. Pasukan Umayyah yang berada di medan perang kemudian menarik diri dan kembali ke Damaskus. Situasi ini membuka ruang kekosongan kekuasaan di tubuh Dinasti Umayyah.
Peristiwa tersebut juga memperlemah posisi politik pusat kekuasaan, sehingga konflik memasuki fase baru yang lebih kompleks.
Krisis Kepemimpinan Setelah Wafatnya Yazid
Setelah wafatnya Yazid, kekuasaan dilanjutkan oleh Mu’awiyah bin Yazid atau Mu’awiyah II (w. 64 H/684 M). Namun, ia tidak bertahan lama dan memilih mundur tanpa menunjuk pengganti.
Kondisi ini menciptakan kekosongan kepemimpinan di tubuh Umayyah. Tidak ada tokoh yang memiliki legitimasi kuat untuk memimpin seluruh wilayah Islam saat itu.
Dalam situasi tersebut, banyak wilayah umat Islam mulai memberikan baiat kepada Abdullah bin Zubair. Ia kemudian dipandang sebagai pemimpin de facto umat Islam pada periode tersebut.
Konsolidasi Kekuasaan Abdullah bin Zubair
Abdullah bin Zubair membangun kekuatan politiknya dari Makkah. Kota ini memberikan legitimasi religius yang kuat, tetapi secara geografis justru menyulitkan kontrol terhadap wilayah lain.
Meski demikian, ia tetap memperluas pengaruhnya dan menerima baiat dari berbagai wilayah. Ia kemudian menunjuk saudaranya, Mush’ab bin Zubair (w. 71 H), untuk mengelola wilayah Irak.
Langkah ini memperkuat struktur pemerintahannya, meski tantangan dari Dinasti Umayyah tetap menguat di wilayah Syam.
Kebangkitan Umayyah di Bawah Abdul Malik bin Marwan
Kebangkitan Dinasti Umayyah terjadi ketika Abdul Malik bin Marwan (w. 86 H/705 M) naik ke tampuk kekuasaan. Ia menggantikan ayahnya, Marwan bin al-Hakam (w. 65 H/685 M), dan mulai melakukan konsolidasi besar-besaran.
Abdul Malik berhasil menyatukan kembali kekuatan Umayyah yang sempat terpecah. Ia kemudian merebut wilayah strategis seperti Suriah dan Mesir.
Setelah itu, ia mengarahkan perhatian ke Irak dan berhasil mengalahkan Mush’ab bin Zubair pada 71 H/691 M. Kemenangan ini menjadi titik balik penting dalam konflik berkepanjangan tersebut.
Serangan Terakhir ke Makkah
Setelah memperkuat posisi, Abdul Malik mengirim pasukan besar yang dipimpin al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi (w. 95 H/714 M). Pasukan ini berjumlah sekitar 40.000 tentara dan bergerak menuju Makkah.
Pengepungan berlangsung sangat ketat dan memakan waktu sekitar tujuh bulan. Kota suci itu menjadi pusat pertempuran terakhir antara Umayyah dan pasukan Abdullah bin Zubair.
Selama pengepungan, dukungan terhadap Abdullah bin Zubair mulai melemah. Namun, ia tetap bertahan bersama kelompok kecil pendukungnya.
Dukungan Terakhir dari Asma’ binti Abu Bakar
Dalam situasi kritis tersebut, Abdullah bin Zubair mendapat dukungan moral dari ibunya, Asma’ binti Abu Bakar (w. 73 H). Ia memberikan nasihat tegas agar putranya tetap teguh pada keyakinannya.
Nasihat tersebut disampaikan dalam bentuk pernyataan panjang yang terekam dalam sumber sejarah. Teks Arabnya berbunyi:
نْتَ وَاللَّهِ يَا بُنَيَّ أَعْلَمُ بِنَفْسِكَ، إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّكَ عَلَى حَقٍّ وَإِلَيْهِ تَدْعُو، فَامْضِ لَهُ، فَقَدْ قُتِلَ عَلَيْهِ أَصْحَابُكَ، وَلَا تُمَكِّنْ مِنْ رَقَبَتِكَ يَتَلَعَّبُ بِهَا غِلْمَانُ بَنِي أُمَيَّةَ، وَإِنْ كُنْتَ إِنَّمَا أَرَدْتَ الدُّنْيَا، فَبِئْسَ الْعَبْدُ أَنْتَ، أَهْلَكْتَ نَفْسَكَ، وَأَهْلَكْتَ مَنْ قُتِلَ مَعَكَ، وَإِنْ قُلْتَ: كُنْتُ عَلَى حَقٍّ، فَلَمَّا وَهَنَ أَصْحَابِي ضَعُفْتُ، فَهَذَا لَيْسَ فِعْلَ الْأَحْرَارِ وَلَا أَهْلِ الدِّينِ، وَكَمْ خُلُودُكَ فِي الدُّنْيَا؟ الْقَتْلُ أَحْسَنُ، وَاللَّهِ لَضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ فِي عِزٍّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ ضَرْبَةٍ بِسَوْطٍ فِي ذُلٍّ
Gugurnya Abdullah bin Zubair dan Akhir Konflik
Meski mendapat tekanan besar, Abdullah bin Zubair tetap bertahan hingga akhirnya gugur dalam pertempuran di Masjidil Haram pada 73 H/692 M. Peristiwa ini menandai berakhirnya perlawanan besar di Makkah.
Dengan gugurnya Abdullah bin Zubair, seluruh wilayah Islam kembali berada di bawah kendali Dinasti Umayyah. Peristiwa ini sekaligus menutup babak panjang Perang Saudara II dalam sejarah Islam.
Konflik yang berlangsung selama sekitar 12 tahun tersebut meninggalkan dampak besar dalam sejarah politik umat Islam.(ust)









Komentar