Terbunuhnya Utsman bin Affan dan Krisis Politik Islam Awal

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 26 Juni 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kaligrafi Utsman.( poto : nu online )

Ilustrasi kaligrafi Utsman.( poto : nu online )

Jakarta, dorlanhikmah.com – Peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan menandai titik balik penting dalam sejarah Islam awal, sekaligus memperlihatkan krisis legitimasi politik yang berkembang secara bertahap di tengah masyarakat Muslim.

Tragedi ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui rangkaian ketegangan sosial, kebijakan pemerintahan, serta persaingan elite yang semakin tajam.

Para sejarawan klasik seperti Tarikh ath-Thabari, Al-Bidayah wa an-Nihayah, dan Al-Kamil fit Tarikh mencatat secara rinci dinamika yang mengarah pada delegitimasi kekuasaan Utsman.

Mereka menegaskan bahwa ketidakpuasan publik tumbuh dari berbagai kebijakan administratif dan persepsi terhadap gaya kepemimpinan pada masa itu.

Awal Ketegangan Politik dari Mesir

Benih konflik paling awal muncul dari wilayah Mesir. Menurut Ibnu Katsir, ketegangan mulai meningkat setelah Utsman mencopot Amr bin al-Ash dari jabatannya sebagai gubernur Mesir dan menggantinya dengan Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh.

Kebijakan ini memicu perubahan besar dalam stabilitas politik daerah. Amr sebelumnya dikenal mampu menekan kelompok pembangkang dan menjaga stabilitas wilayah. Namun setelah ia dicopot, ruang gerak oposisi semakin terbuka lebar.

Perubahan tersebut langsung berdampak pada melemahnya kontrol pemerintahan pusat di wilayah strategis tersebut. Kondisi ini kemudian mempercepat munculnya kelompok-kelompok oposisi yang lebih terorganisasi.

Mobilisasi Oposisi dan Perjalanan ke Madinah

Di Mesir, kelompok oposisi berkembang dengan cepat. Tokoh seperti Muhammad bin Abi Bakr dan Muhammad bin Abi Hudzaifah memainkan peran penting dalam menggalang dukungan dan menyebarkan sentimen anti-pemerintahan Utsman.

Mereka tidak hanya menyuarakan kritik, tetapi juga mengorganisasi kekecewaan masyarakat menjadi gerakan politik yang lebih terstruktur. Setelah itu, mereka mengirim rombongan menuju Madinah dengan dalih menjalankan ibadah umrah.

Namun tujuan perjalanan tersebut tidak berhenti pada ibadah semata. Rombongan itu membawa tuntutan politik yang secara langsung menekan pusat kekuasaan di Madinah.

Upaya Dialog dan Peran Ali bin Abi Thalib

Ketika rombongan oposisi mendekati Madinah, Utsman tidak merespons dengan kekerasan. Ia memilih jalur dialog dan mengutus Ali bin Abi Thalib untuk menemui mereka sebelum memasuki kota.

Ali kemudian berdialog langsung dengan kelompok tersebut. Ia membantah sejumlah tuduhan dan memberikan penjelasan yang menenangkan situasi. Upaya ini berhasil meredakan ketegangan untuk sementara waktu dan membuat sebagian kelompok kembali ke tempat asal mereka.

Baca Juga :  Uwais al-Qarni, Lelaki Saleh yang Dirindukan Langit

Pada tahap ini, situasi politik masih memungkinkan penyelesaian damai. Namun tekanan terhadap legitimasi Utsman tetap terus berkembang di bawah permukaan.

Keluhan Politik dan Kritik terhadap Kebijakan

Kelompok penentang Utsman mengajukan berbagai kritik. Mereka mempersoalkan kebijakan hima atau kawasan lindung, pembakaran mushaf dengan bacaan berbeda, serta pengangkatan pejabat muda di sejumlah wilayah.

Selain itu, mereka juga mengkritik dominasi Bani Umayyah dalam struktur pemerintahan. Isu-isu ini kemudian berkembang menjadi bahan utama perdebatan politik di tengah masyarakat.

Ali bin Abi Thalib kembali berperan dalam memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa beberapa kebijakan tersebut memiliki dasar dalam praktik sebelumnya, termasuk pada masa Nabi Muhammad. Ia juga berusaha menenangkan opini publik yang semakin terbelah.

Khutbah Utsman dan Momen Rekonsiliasi

Di tengah meningkatnya tekanan, Utsman akhirnya menyampaikan khutbah di hadapan masyarakat. Ia menyatakan penyesalan, memohon ampun kepada Allah, dan berjanji akan kembali mengikuti jejak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar.

Ibnu Katsir mencatat bahwa khutbah tersebut menggugah emosi publik. Banyak orang menangis setelah mendengarkan pidato tersebut, yang menunjukkan bahwa simpati terhadap Utsman masih cukup besar.

Ibnu Jarir ath-Thabari juga merekam suasana tersebut dalam Tarikh al-Umam wal Muluk. Ia menuliskan:

قَالَ أَبُو حَبِيبَةَ: فَلَمْ أَرَ يَوْمًا أَكْثَرَ بَاكِيًا وَلا بَاكِيَةً مِنْ يَوْمَئِذٍ

Artinya:
“Abu Habibah berkata: ‘Belum pernah aku melihat suatu hari yang lebih banyak orang laki-laki dan perempuan menangis daripada hari itu.’”

Momen ini sempat membuka peluang rekonsiliasi politik yang lebih luas.

Intervensi Marwan bin al-Hakam dan Krisis Baru

Namun situasi berubah cepat setelah Marwan bin al-Hakam mengambil sikap keras terhadap massa. Ia menyampaikan pernyataan yang memicu kemarahan dan membatalkan efek positif dari khutbah Utsman.

Intervensi tersebut merusak momentum perdamaian yang baru saja terbentuk. Banyak pihak kemudian menilai bahwa Utsman tidak sepenuhnya mengendalikan lingkaran dalam pemerintahannya.

Persepsi ini memperkuat kritik bahwa pengaruh keluarga Bani Umayyah semakin dominan dalam pengambilan keputusan politik. Kondisi ini memperburuk kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Utsman.

Pengepungan Rumah Utsman

Ketegangan akhirnya mencapai puncak ketika massa mengepung rumah Utsman di Madinah. Ia tidak lagi dapat beraktivitas secara normal dan bahkan kehilangan akses ke masjid.

Baca Juga :  Raja Najasyi Wariskan Teladan Tauhid dan Toleransi di Habasyah

Pengepungan tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, bahkan dalam beberapa riwayat disebut lebih dari satu bulan. Situasi semakin memburuk ketika akses bantuan kepada Utsman mulai dibatasi secara ketat.

Ibnul Atsir dalam Al-Kamil fit Tarikh mencatat kondisi tersebut secara jelas:

فَعِنْدَهَا حَالُوا بَيْنَ النَّاسِ وَبَيْنَ عُثْمَانَ، وَمَنَعُوهُ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْمَاءَ

Artinya:
“Maka sejak saat itu mereka menghalangi orang-orang untuk menemui Utsman, dan mencegahnya dari segala sesuatu, bahkan sampai air pun.”

Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik telah berubah menjadi krisis politik yang sangat serius.

Menjelang Akhir Kehidupan Utsman

Pada hari-hari terakhir, berbagai riwayat menyebutkan bahwa Utsman menjalani hidup dalam keadaan tenang dan penuh keteguhan spiritual. Ia bahkan dikisahkan bermimpi bertemu Nabi Muhammad, Abu Bakar, dan Umar.

Dalam mimpi tersebut, ia menerima isyarat bahwa ajalnya telah dekat. Karena itu, ia menjalani hari terakhir dalam keadaan berpuasa dan penuh ketenangan.

Para penyerang kemudian memasuki rumahnya. Mereka membunuh Utsman saat ia sedang membaca Al-Qur’an. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah awal Islam.

Analisis Krisis Kepemimpinan

Jika seluruh rangkaian peristiwa dianalisis, maka terbunuhnya Utsman tidak hanya menjadi peristiwa politik, tetapi juga mencerminkan krisis kepemimpinan yang kompleks.

Dalam sistem sosial-politik Islam awal, legitimasi pemimpin bergantung pada reputasi moral, efektivitas administrasi, kemampuan menjaga keseimbangan elite, dan penerimaan masyarakat.

Ketika unsur-unsur tersebut tidak berjalan seimbang, maka stabilitas kekuasaan ikut melemah. Kondisi ini terlihat jelas dalam kasus Utsman.

Selain itu, perluasan wilayah Islam juga memperbesar kompleksitas pemerintahan. Provinsi-provinsi baru memiliki dinamika politik yang lebih rumit, sehingga keputusan administratif berdampak luas terhadap stabilitas pusat.

Dampak Politik Setelah Kematian Utsman

Setelah pembunuhan Utsman, umat Islam memasuki fase konflik internal yang lebih luas. Perang Jamal, Perang Shiffin, serta peristiwa tahkim menjadi bagian dari rangkaian konflik tersebut.

Situasi ini kemudian melahirkan fragmentasi politik dan teologis di tubuh umat Islam. Dengan demikian, kematian Utsman tidak hanya mengakhiri satu kepemimpinan, tetapi juga membuka era baru ketidakstabilan politik.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa runtuhnya kepercayaan publik terhadap satu pemimpin dapat berkembang menjadi krisis struktural dalam skala yang jauh lebih besar.(ust)

Berita Terkait

Kedudukan Perempuan Sebelum Islam dan Perubahan Besar yang Dibawa Islam
Kriminalisasi Kritik dalam Sejarah Islam dan Keteguhan Imam Ahmad
Raja Najasyi Wariskan Teladan Tauhid dan Toleransi di Habasyah
Kisah Sahabat Nabi Menegur Penguasa, Pesan tentang Pemimpin Adil
Rahasia Nama Bulan Hijriah: Budaya Arab Pra-Islam
Filosofi Kepemimpinan Nabi Sulaiman: Kekuasaan dan Keadilan
Biografi Ibnu Sina: Jejak Ilmuwan Muslim yang Mengubah Sejarah Kedokteran Dunia
Kontroversi Pengangkatan Yazid bin Mu’awiyah Umayyah
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 03:00 WIB

Kedudukan Perempuan Sebelum Islam dan Perubahan Besar yang Dibawa Islam

Jumat, 10 Juli 2026 - 23:00 WIB

Raja Najasyi Wariskan Teladan Tauhid dan Toleransi di Habasyah

Jumat, 10 Juli 2026 - 21:00 WIB

Kisah Sahabat Nabi Menegur Penguasa, Pesan tentang Pemimpin Adil

Kamis, 9 Juli 2026 - 01:00 WIB

Rahasia Nama Bulan Hijriah: Budaya Arab Pra-Islam

Rabu, 8 Juli 2026 - 23:00 WIB

Filosofi Kepemimpinan Nabi Sulaiman: Kekuasaan dan Keadilan

Berita Terbaru

Apakah telur harus di cuci dulu sebelumdi ebus,simak penjelasannya.( poto: nuonline).

Fiqih

Kajian Fiqih, Perlukah Mencuci Telur Sebelum Dimasak?

Sabtu, 11 Jul 2026 - 05:00 WIB