Uwais al-Qarni, Lelaki Saleh yang Dirindukan Langit

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah bakti kepada orang tua Uwais al-Qarni( ilustrasi poto : hajinews.co ).

Kisah bakti kepada orang tua Uwais al-Qarni( ilustrasi poto : hajinews.co ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Bakti kepada orang tua menjadi inti kisah Uwais al-Qarni, seorang lelaki saleh dari Yaman yang hidup sederhana namun mendapat kemuliaan luar biasa di sisi Allah.

Meski tidak pernah bertemu Rasulullah ﷺ secara langsung, namanya justru disebut Nabi dalam hadis sahih karena ketulusan hati dan pengabdiannya kepada sang ibu.

Di tengah kehidupan yang sunyi dan jauh dari perhatian manusia, Uwais menunjukkan bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari popularitas.

Ia memilih tinggal di Yaman demi merawat ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Keputusan itu membuatnya gagal berjumpa Nabi Muhammad ﷺ, meski kerinduan kepada Rasul begitu besar dalam hatinya.

Kisah Uwais al-Qarni terus hidup dalam tradisi Islam sebagai teladan keikhlasan, terutama saat Ramadhan hadir sebagai bulan pendidikan jiwa dan pengendalian ego.

Sosok Uwais al-Qarni yang Jarang Dikenal

Uwais berasal dari kabilah Murad di Yaman. Ia hidup sangat sederhana dan hampir tidak dikenal masyarakat. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa tubuhnya pernah terkena penyakit belang hingga menyisakan bekas putih seukuran dirham.

Namun, kekurangan fisik itu tidak mengurangi kemuliaannya di hadapan Allah. Justru dari kehidupannya yang sederhana lahir keteladanan besar tentang kesabaran, pengorbanan, dan cinta kepada ibu.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan keutamaan Uwais al-Qarni sebagai salah satu hamba yang doanya mustajab karena baktinya kepada sang ibu.

Beliau menulis:

“فِيهِ فَضِيلَةُ بِرِّ الْوَالِدَةِ، وَأَنَّ دُعَاءَ الْبَارِّ مُسْتَجَابٌ”

Artinya:
“Dalam hadis ini terdapat keutamaan berbakti kepada ibu, dan doa orang yang berbakti akan dikabulkan.”
(Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi)

Kerinduan kepada Rasulullah ﷺ

Ketika kabar tentang kerasulan Nabi Muhammad ﷺ sampai ke Yaman, Uwais langsung mempercayainya. Ia memendam kerinduan besar untuk datang ke Madinah dan bertemu Rasulullah ﷺ.

Namun, ibunya yang renta membutuhkan dirinya setiap hari. Uwais akhirnya memilih tetap tinggal di Yaman demi merawat sang ibu. Ia mengorbankan keinginan pribadinya demi memenuhi kewajiban kepada orang tua.

Pilihan itu sejalan dengan firman Allah SWT:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”
(QS. Al-Isra: 23)

Baca Juga :  Kisah Taubat Pemuda dan Luasnya Ampunan Allah

Ayat tersebut menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam, bahkan di sebut setelah perintah tauhid.

Rasulullah ﷺ Memuliakan Uwais

Kisah Uwais al-Qarni tercatat dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. Rasulullah ﷺ menyebut namanya secara khusus di hadapan para sahabat.

Dalam hadis tersebut Nabi bersabda:

“يَأْتِي عَلَيْكُمْ أُوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرَنٍ، كَانَ بِهِ بَرَصٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَمٍ، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ”

Artinya:
“Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan dari Yaman. Ia berasal dari Murad lalu dari Qaran. Dahulu ia terkena belang lalu sembuh kecuali sebesar dirham. Ia memiliki ibu yang sangat ia baktikan. Jika ia bersumpah atas nama Allah, maka Allah akan mengabulkannya.”
(HR Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan Uwais di sisi Allah. Rasulullah ﷺ bahkan meminta Umar ibn al-Khattab dan Ali bin Abi Thalib agar meminta doa kepada Uwais jika bertemu dengannya.

Pertemuan Umar dengan Uwais

Beberapa tahun setelah Rasulullah ﷺ wafat, Umar ibn al-Khattab bertemu Uwais dalam musim haji. Umar mencari lelaki itu berdasarkan ciri-ciri yang pernah disampaikan Nabi.

Ketika bertemu, Umar justru meminta Uwais mendoakannya. Padahal saat itu Umar adalah khalifah besar yang sangat dihormati umat Islam.

Namun Uwais tetap rendah hati. Ia tidak ingin dikenal banyak orang dan lebih memilih hidup sederhana. Dalam banyak riwayat tasawuf, sikap ini menjadi simbol keikhlasan sejati.

Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ meriwayatkan ucapan Uwais:

“أَكُونُ فِي غُبْرَاءِ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيَّ”

Artinya:
“Aku lebih suka berada di tengah manusia biasa yang tidak dikenal.”

Jalan Sunyi dalam Tradisi Tasawuf

Para ulama tasawuf sering menyebut Uwais al-Qarni sebagai simbol wilayah al-khafa’ atau kewalian yang tersembunyi. Ia tidak memiliki kedudukan duniawi, tidak terkenal, dan tidak memiliki pengikut besar. Namun Allah mengangkat derajatnya karena ketulusan hati.

Dalam kitab Risalah al-Qusyairiyah, Imam al-Qusyairi menjelaskan bahwa salah satu tanda ikhlas adalah tidak mencari kemasyhuran.

Baca Juga :  Kisah Jin Mendengar Al-Qur’an: Peristiwa Iman Makhluk Gaib yang Terekam dalam Surah Al-Ahqaf

Beliau menulis:

“الإِخْلَاصُ أَنْ لَا تَطْلُبَ عَلَى عَمَلِكَ شَاهِدًا غَيْرَ اللَّهِ”

Artinya:
“Ikhlas ialah ketika seseorang tidak mencari saksi atas amalnya selain Allah.”

Nilai inilah yang terlihat jelas dalam kehidupan Uwais al-Qarni. Ia tidak mengejar pujian manusia, melainkan hanya berharap ridha Allah.

Hubungan Kisah Uwais dengan Ramadhan

Ramadhan mengajarkan manusia untuk membersihkan hati dan menundukkan ego. Puasa melatih seseorang berbuat baik tanpa diketahui orang lain.

Kisah Uwais sangat relevan dengan semangat tersebut. Ia menjalani ibadah dalam kesunyian. Ia merawat ibunya tanpa mencari pengakuan manusia. Semua dilakukan dengan penuh cinta dan kesabaran.

Banyak orang mampu beribadah di depan publik, tetapi tidak semua sanggup merawat orang tua dengan tulus setiap hari. Padahal dalam Islam, bakti kepada orang tua termasuk ibadah paling besar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ”

Artinya:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR Tirmidzi)

Ibadah Kecil yang Bernilai Besar

Di bulan Ramadhan, banyak orang mencari amal besar. Padahal terkadang Allah menghadirkan pahala melalui pekerjaan sederhana di rumah.

Menyiapkan sahur untuk ibu, membantu ayah berbuka puasa, atau mendengarkan keluh kesah orang tua dengan sabar bisa menjadi ibadah bernilai tinggi.

Uwais al-Qarni mengajarkan bahwa jalan menuju Allah tidak selalu melalui tempat yang ramai. Kadang jalan itu hadir melalui tugas sederhana yang dilakukan dengan hati ikhlas.

Imam Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata:

“رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ”

Artinya:
“Betapa banyak amal kecil yang menjadi besar karena niatnya.”

Kemuliaan yang Tidak Terlihat Manusia

Kisah Uwais juga mengajarkan bahwa tidak semua orang mulia di kenal manusia. Ada hamba-hamba Allah yang hidup biasa, tetapi sangat dekat dengan langit.

Mereka tidak tampil di mimbar, tidak memiliki pengikut, dan tidak mencari pujian. Namun doa-doanya menembus langit karena hati mereka bersih.

Di zaman media sosial yang penuh pencitraan, kisah Uwais menjadi pengingat penting bahwa keikhlasan jauh lebih berharga daripada popularitas.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum membersihkan niat dan memperbaiki hubungan dengan keluarga, terutama orang tua.(ust)

Berita Terkait

5 Rasul Ulul Azmi dan Keteguhan Dakwah Mereka
Kisah Taubat Pemuda dan Luasnya Ampunan Allah
Kisah Taubat Fudail bin Iyadh dari Perampok Jadi Sufi
Cara Rasulullah ﷺ Menenangkan Hati di Perang Hunain(Bag.5)
Pelajaran Besar dari Hunain tentang Tauhid dan Keteguhan (Bag.4)
Hawazin Pilih Masuk Islam Setelah Perang Hunain(Bag.3)
Sakinah Allah Turun di Tengah Perang Hunain(Bag.2)
Perang Hunain: Saat Jumlah Besar Tak Menjamin Menang (Bag.1)
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 15:00 WIB

Uwais al-Qarni, Lelaki Saleh yang Dirindukan Langit

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:00 WIB

Kisah Taubat Pemuda dan Luasnya Ampunan Allah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:00 WIB

Kisah Taubat Fudail bin Iyadh dari Perampok Jadi Sufi

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:00 WIB

Cara Rasulullah ﷺ Menenangkan Hati di Perang Hunain(Bag.5)

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:00 WIB

Pelajaran Besar dari Hunain tentang Tauhid dan Keteguhan (Bag.4)

Berita Terbaru

ciri-ciri haji Mabrur( Poto : detiknews).

Fiqih

7 Ibadah Hati Penentu Haji Mabrur yang Harus Dihidupkan

Rabu, 27 Mei 2026 - 19:10 WIB

Kitab Al-ahkam Al-Kitabiyah merupakan salah satu Kitab Fiqih ( Poto : arabicbookshop.net).

Fiqih

Pengertian Fiqih Islam dan Cabang Ilmunya

Rabu, 27 Mei 2026 - 15:00 WIB

Hadist Arba'in bagian ke dua tentang Islam dan Ikhsan,( Poto : bersamadakwah )

Hadist

Hadits Arbain Nawawi 2 tentang Islam dan Ihsan

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:00 WIB

Hadist Arba'in Nawawi tentang Niat ( Poto : Menuntut Ilmu ).

Hadist

Hadits Arbain Nawawi 1 tentang Pentingnya Niat

Rabu, 27 Mei 2026 - 11:00 WIB

Ilustrasi menantu bersalaman dengan mertua ( Poto : ist).

Fiqih

Salaman dengan Mertua, Apakah Wudhu Batal?

Rabu, 27 Mei 2026 - 09:00 WIB