Jakarta, dorlanhikmah.com – Nama Aisyah r.a. sering menjadi rujukan utama saat kita berbicara tentang perempuan cerdas dalam Islam. Namun, sejarah juga mencatat sosok shahabiyah luar biasa lain yang sangat patut kita teladani. Beliau adalah Asy-Syifa binti Abdullah, seorang perempuan Quraisy dari Bani ‘Adi yang terkenal akan kecerdasan serta kemampuannya dalam bidang tulis-menulis.
Profil dan Nasab Asy-Syifa binti Abdullah
Sosok hebat yang memiliki nama asli Laila ini berasal dari keturunan mulia. Nasab lengkap beliau adalah Asy-Syifā’ binti ‘Abdillah bin ‘Abd Syams bin Khalaf bin Syaddad bin ‘Abdillah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’b bin Lu’ay al-Qurasyiyyah al-‘Adawiyyah. Beliau merupakan putri dari Fatimah binti Wahab bin Amr bin A’id bin Imran Al-Mahkzumiyyah.
Dalam kehidupan keluarganya, beliau adalah ibu dari Sulaiman bin Abi Hatsamah. Selain itu, beliau melahirkan putra terpandang dan mulia lainnya, yaitu Abu Hakim bin Marzuq, bersama Marzuq bin Hudzaifah. Beliau juga memegang peranan penting sebagai guru dari Sayyidah Hafshah.
Perjuangan Imannya dalam Golongan Muhajirah Pertama
Revolusi Islam membuktikan bahwa perempuan memegang peranan nyata dalam memperjuangkan agama. Asy-Syifa membuktikannya dengan menjadi salah satu perempuan yang masuk dalam golongan muhajirah pertama.
Kehadiran beliau dalam kelompok ini menjadi bukti keteguhan iman seseorang. Beliau rela mengorbankan kenyamanan hidupnya demi mempertahankan akidah. Sejarah mencatat beliau telah memeluk agama Islam sejak masa awal sebelum hijrah, mengikrarkan baiat kepada Rasulullah SAW, lalu berhijrah menuju Madinah.
Guru Literasi dan Pengobatan Sayyidah Hafshah
Kecerdasan Asy-Syifa menegaskan bahwa perempuan telah menjadi pelopor dunia literasi sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW bahkan mengetahui dan mendukung penuh kegiatan mengajar yang beliau lakukan. Dari bukti sejarah ini, kita mendapati bahwa Asy-Syifa merupakan guru bagi Sayyidah Hafshah.
Rasulullah SAW secara khusus bersabda:
“علّمي حفصة رقية النملة كما علّمتها الكتابة”
Artinya: “Ajarkanlah Hafshah ruqyah penyakit an-namlah sebagaimana engkau telah mengajarkannya menulis.”
Sabda Rasulullah SAW di atas memperlihatkan kepiawaian Asy-Syifa yang serbabisa. Beliau tidak hanya menguasai keahlian tulis-menulis, tetapi juga memiliki keahlian medis berupa ruqyah untuk penyakit an-namlah yang diakui langsung oleh Nabi.
Rasulullah SAW sangat menghormati perempuan yang berilmu dan berakhlak mulia ini. Nabi kerap singgah untuk beristirahat siang (qailulah) di rumah Asy-Syifa. Selain itu, Rasulullah SAW memberikan sebuah rumah di daerah pengrajin, yang kemudian beliau tempati bersama putranya, Sulaiman.
Integritas Sosio-Ekonomi dan Kepercayaan Umar bin Khattab
Peran Asy-Syifa tidak berhenti pada dunia pendidikan saja. Beliau memiliki integritas tinggi dalam berbagai aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Khalifah Umar bin Khattab r.a. sangat menghormati dan menaruh rasa segan kepada beliau. Selain sering meminta pandangan dan nasihatnya, Umar bahkan memberikan kepercayaan besar kepada Asy-Syifa untuk mengelola serta mengawasi urusan pasar.
Rekam jejak Asy-Syifa binti Abdullah membuktikan bahwa pendidikan bagi perempuan bukan sebatas hak untuk belajar. Lebih dari itu, ilmu dan kecerdasan perempuan menjadi jembatan utama dalam berkontribusi membangun peradaban yang berdaya saing.(ust)










Komentar