Tafsir Surah An-Naas Menurut Penjelasan Kitab Jalalain

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 25 Oktober 2026 - 07:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Surat An nas.(poto: istimewa).

Surat An nas.(poto: istimewa).

Jakarta, Dorlanhikmah.com – Banyak orang belum sepenuhnya memahami kedalaman kandungan tafsir surah an naas yang sering di baca setiap hari. Kitab rujukan klasik Tafsir Jalalain mengupas tuntas rahasia perlindungan spiritual seorang hamba dari aneka intrik kejahatan gaib maupun nyata.

Imam Jalaluddin Al-Mahalli menyajikan uraian lugas mengenai alasan mengapa manusia wajib memohon suaka hanya kepada Allah Ta’ala. Setiap lafaz dalam surah penutup mushaf Al-Qur’an ini memancarkan pesan tauhid yang amat kokoh sekaligus menyentuh batin pembacanya.

Al-Qur’an memuat susunan ayat agung yang berbunyi:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Ayat tersebut bermakna: “1. Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. 2. Raja manusia. 3. Sembahan manusia. 4. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, 5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, 6. dari (golongan) jin dan manusia’.”

Melalui rangkaian firman tersebut, Allah menuntun hamba-Nya agar menyadari kelemahan diri di hadapan musuh yang tak kasatmata. Penegasan status manusia sebagai makhluk ciptaan memicu kesadaran batin untuk selalu bersandar kepada Sang Pencipta alam semesta.

Kemuliaan Martabat Insan dalam Sorotan Rububiyyah

Imam Jalaluddin Al-Mahalli rahimahullah membuka pembahasannya dengan mengupas kedudukan kata an-naas pada ayat pertama. Beliau memaparkan argumentasi kebahasaan yang menempatkan manusia pada posisi istimewa di hadapan Sang Khalik.

Kutipan langsung dari kitab beliau menegaskan:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الناس خالقهم ومالكهم خُصُّو بالذكر تشريفاً لهم ومناسبة للاستفادة من شر الموسوس في صدورهم .

Makna paparan tersebut menerangkan: “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia’, maksudnya yang mencipta mereka, memiliki mereka. Di sini manusia disebutkan secara khusus sebagai bentuk pemuliaan kepada mereka dan sekaligus untuk menyesuaikan dengan pengertian kejahatan waswas setan dalam hati mereka.”

Penyebutan kata manusia secara berulang bukanlah sebuah pengulangan kata yang tanpa arti. Para ulama tafsir memandang gaya bahasa ini sebagai bentuk penghormatan luhur Allah kepada bani Adam.

Selain memuliakan martabat insan, penyebutan ini menyatu harmonis dengan topik utama surah, yakni keselamatan hati manusia. Karena sasaran utama godaan setan adalah dada manusia, maka perlindungan pun disandarkan langsung kepada Pemelihara manusia.

Konsep rububiyyah mencakup pemeliharaan jasmani, batiniah, pengaturan rezeki, serta penjagaan dari berbagai marabahaya. Seseorang yang mengakui kemahakuasaan Rabb tentu tidak akan mencari perlindungan kepada dukun, jimat, atau kekuatan sihir manapun.

Kesadaran spiritual semacam ini melahirkan ketenangan jiwa yang hakiki di tengah himpitan hidup. Hamba yang beriman meyakini bahwa perlindungan Allah jauh melampaui segala perisai materi di dunia.

Kedaulatan Penguasa Sejati dan Pemilik Ibadah

Memasuki ayat kedua dan ketiga, mushaf Al-Qur’an menegaskan sifat kepemilikan dan hak penyembahan yang mutlak. Imam Al-Mahalli menggarisbawahi kedua ayat pendek tersebut dengan analisis gramatika bahasa Arab yang mendalam.

Beliau menuturkan lafaz:

{ مَلِكِ الناس } .

Artinya: “Raja manusia.”

Kemudian beliau menyambungnya dengan penjelasan ayat ketiga:

{ إله الناس } بدلان أو صفتان أو عطفا بيان وأظهر المضاف اليه فيهما زيادة للبيان .

Artinya: “‘Sembahan manusia’, ini sebagai badal atau sifat atau athaf bayan. Tambahan mudhaf ilaih dengan kata manusia sebagai penjelasan.”

Raja-raja duniawi memegang kekuasaan semu yang sewaktu-waktu bisa runtuh oleh kudeta, kematian, atau bencana alam. Sebaliknya, kedaulatan Allah atas seluruh makhluk bersifat abadi, tanpa batas wilayah, dan tidak tertandingi oleh siapapun.

Pengulangan kata an-naas pada posisi mudhaf ilaih berfungsi menguatkan kejelasan kedudukan hamba di hadapan Maharaja Diraja. Penegasan status hamba ini meruntuhkan segala bentuk kesombongan yang kerap menjangkiti hati manusia berkedudukan tinggi.

Ketika seorang hamba menyadari bahwa Rabb dan Rajanya adalah Allah semata, lahir sebuah konsekuensi logis: hanya Allah yang berhak di sembah. Konsep uluhiyyah ini membebaskan manusia dari perbudakan sesama makhluk serta ketakutan terhadap ancaman penguasa lalim.

Menujukan ibadah kepada selain Allah menjadi tindakan paling merugikan dalam timbangan amal akhirat. Surah ini membentengi akidah seorang muslim agar tidak terjerumus ke dalam kubangan syirik besar maupun syirik tersembunyi.

Baca Juga :  Kemerdekaan Tanpa Diskriminasi Menurut Al-Hujurat Ayat 13

Tabiat Bisikan Beracun dan Sifat Mundurnya Setan

Pertempuran terbesar manusia sepanjang sejarah bukanlah melawan musuh bersenjata pedang, melainkan melawan tipu daya Iblis. Kitab Tafsir Jalalain mengupas karakter musuh utama tersebut secara tajam lewat penafsiran ayat keempat.

Imam Al-Mahalli mencatat rahasia sifat setan tersebut:

{ مِن شَرِّ الوسواس } أي الشيطان سمي بالحدث لكثرة ملابسته له { الخناس } لأنه يخنس ويتأخر عن القلب كلما ذُكِرَ الله .

Penjelasannya memaparkan: “‘Dari kejahatan bisikan setan (syarril waswaas)’, disebutkan bisikan setan karena kebanyakan godaan yang dilancarkannya itu melalui bisikan. ‘Yang bersembunyi (al-khannaas)’, maksudnya setan itu bersembunyi dan meninggalkan hati manusia apabila hati manusia ingat kepada Allah.”

Setan dinamai al-waswaas karena aktivitas utamanya adalah membisikkan ragam prasangka, kebencian, keputusasaan, dan aneka syahwat terlarang. Frekuensi bisikan yang nyaris tanpa henti membuat perbuatan tersebut melekat menjadi nama bagi si pelaku kejahatan.

Kendati terdengar mengerikan, musuh bebuyutan manusia ini memiliki kelemahan yang sangat mendasar. Julukan al-khannaas menjadi bukti sahih bahwa setan sejatinya adalah makhluk pengecut yang mudah kocar-kacir.

Setan akan langsung menarik diri dan mundur teratur saat lisan serta kalbu seorang muslim melantunkan zikir kepada Allah. Basmalah, takbir, tahlil, serta istighfar bertindak layaknya senjata pembakar yang memaksa setan menjauh seketika.

Kelengahan zikir merupakan celah empuk bagi setan untuk kembali menyusupkan racun keraguan ke dalam pikiran. Mereka yang rutin membasahi lidah dengan asma Allah sesungguhnya sedang membangun benteng kokoh yang sukar ditembus godaan.

Celah Bahaya Kala Manusia Lalai Berzikir

Kapan tepatnya racun bisikan itu mulai meresap dan merusak kompas moral manusia? Ayat kelima Surah An-Naas memberikan jawaban gamblang tentang titik lemah pertahanan mental seseorang.

Imam Al-Mahalli menafsirkan ayat tersebut dengan ringkas namun sarat makna:

{ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوِر النَّاسِ } قلوبهم إذا غفلوا عن ذكر الله .

Artinya: “‘Yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia’, ke dalam kalbu manusia di kala mereka lalai mengingat Allah.”

Dada manusia merupakan medan pertempuran sengit antara dorongan malaikat dan desakan hawa nafsu yang di tunggangi setan. Ketika pintu kalbu terbuka akibat kelalaian zikir, setan menyuntikkan aneka keraguan terhadap janji-janji Allah.

Kelalaian (ghaflah) membuat manusia lambat menyadari kekeliruan moral yang sedang mereka jalani setiap hari. Tindakan korupsi, fitnah, perzinaan, hingga pembunuhan selalu bermula dari bisikan halus yang di biarkan menetap di bilik hati.

Bila bisikan itu tidak segera diusir dengan zikir, benih pikiran buruk akan berkembang menjadi kehendak bulat. Dari kehendak yang kuat itulah lahir tindakan maksiat nyata yang merusak tatanan hidup pelakunya maupun masyarakat luas.

Menjaga kewaspadaan kalbu menjadi kewajiban mutlak bagi siapa pun yang mendambakan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Konsistensi dalam mengingat Allah adalah kunci utama memelihara kemurnian fitrah dari noda kejahatan setan.

Bahaya Ganda: Kolaborasi Setan Jin dan Setan Manusia

Puncak pemaparan Tafsir Jalalain terletak pada identifikasi musuh yang di sebutkan pada ayat keenam. Mayoritas orang menduga bahwa perusak moral hanyalah makhluk halus berwujud jin, padahal manusia pun bisa menjadi setan.

Uraian terperinci Imam Al-Mahalli berbunyi:

{ مِنَ الجنة والناس } باين للشيطان الموسوس أنه جني أوإنسي ، كقوله تعالى : { شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ } أو من الجنة بيان له ( والناس ) عطف على ( الوسواس ) وعلى كل شمل شر لبيد وبناته المذكورين ، واعترض الأول بأن الناس لا يوسوس في صدورهم الناس إنما يوسوس في صدورهم الجن ، وأُجيب بأن الناس يوسوسون أيضاً بمعنى يليق بهم في الظاهر ثم تصل وسوستهم إلى القلب وتثبت فيه بالطريق المؤدي إلى ذلك والله تعالى أعلم .

Teks tersebut menerangkan: “‘Dari jin dan manusia’, lafaz ayat ini menjelaskan pengertian setan yang menggoda itu, yaitu terdiri dari jenis jin dan manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lainnya, yaitu melalui firman-Nya, ‘yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin.’ (QS. Al-An’am: 112). Atau lafaz ‘minal jinnati’ menjadi bayan (penjelasan) dari lafaz al-waswaasil khannaas. Sedangkan lafaz ‘an-naas’ di’athafkan kepada lafaz ‘al-waswas’. Tetapi pada garis besarnya telah mencakup kejahatan yang dilakukan oleh Labid bin Al-A’sham dan putrinya yang telah disebutkan sebelumnya. Pendapat pertama yang menyatakan bahwa di antara yang menggoda hati manusia di samping setan adalah manusia, pendapat tersebut disanggah dengan suatu kenyataan, bahwa yang dapat menggoda hati manusia hanyalah jin. Ini dapat dijawab dengan pernyataan bahwa manusia juga bisa memberikan waswas (godaan) dari sisi lahiriyah, akhirnya masuk dalam kalbu dan menjadi mantap di dalamnya, yaitu melalui cara yang dapat menjurus ke arah itu. Wallahu Ta’ala a’lam.”

Baca Juga :  Pesan Surah At Talaq Ayat 2 Sampai 3 Tentang Jalan Keluar

Potongan ayat Al-Qur’an lain yang memperkuat dalil tersebut adalah:

شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ

Artinya: “yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin.” (QS. Al-An’am: 112)

Keterangan ini menyingkap realitas sosial bahwa teman bergaul yang buruk sesungguhnya menjalankan fungsi setan di alam nyata. Mereka melontarkan ajakan bermaksiat, memutarbalikkan nilai kebenaran, dan memoles dosa agar tampak indah serta memikat.

Godaan setan manusia kerap kali jauh lebih berbahaya ketimbang godaan makhluk halus yang tak terlihat. Bisikan setan manusia hadir melalui obrolan santai, rayuan maut, tayangan media sosial, pergaulan manipulatif, maupun siasat konspiratif.

Kasus sihir Labid bin Al-A’sham beserta putrinya yang menyasar fisik Rasulullah SAW menjadi bukti nyata kejahatan setan manusia. Kolaborasi konspirasi manusia jahat dengan bantuan setan jin menghasilkan dampak destruktif yang sangat mengerikan.

Pengaruh buruk dari luar tersebut lambat laun merembes ke lubuk sanubari hingga merusak prinsip hidup seseorang. Oleh karena itu, selektivitas dalam memilih lingkaran pertemanan merupakan bagian tak terpisahkan dari ikhtiar menjaga kesucian iman.

Rangkuman Hikmah dan Landasan Amal Kehidupan Muslim

Membaca ulasan Tafsir Jalalain mengharuskan setiap muslim mengambil langkah konkret dalam memperbaiki kualitas ibadah hariannya. Al-Qur’an di turunkan bukan sekadar untuk di lantunkan dengan merdu, melainkan untuk diamalkan menjadi pedoman hidup praktis.

Terdapat sembilan poin mutiara hikmah yang dapat di rumuskan dari keseluruhan analisis tafsir tersebut. Setiap poin memuat panduan tauhid, kewaspadaan psikologis, serta strategi menghadapi godaan zaman modern.

  • Pertama: Allah Ta’ala adalah Rabb manusia, Dzat yang menciptakan, mengurus, mendidik, dan menguasai seluruh aspek kehidupan manusia.

  • Kedua: Disebut Rabb manusia secara spesifik dalam Surah An-Naas karena tema besar yang di bahas berkaitan langsung dengan keselamatan kalbu manusia.

  • Ketiga: Manusia mendapatkan kehormatan luar biasa dalam ayat ini sehingga Allah menyandingkan nama-Nya dengan sebutan Rabbin Naas.

  • Keempat: Allah adalah Raja manusia yang memiliki otoritas mutlak atas hukum, takdir, dan peradilan pada hari kiamat.

  • Kelima: Allah merupakan satu-satunya sesembahan yang haq bagi manusia, karena hanya Dzat yang berstatus Rabb dan Malik yang berhak di ibadahi.

  • Keenam: Karakteristik setan selalu melancarkan bisikan jahat (waswas) namun seketika menyusut mundur (al-khannaas) tatkala manusia mengingat Allah.

  • Ketujuh: Titik rawan pertahanan manusia terjadi ketika kalbu lalai mengingat Allah, sehingga setan dapat menanamkan bisikan maksiat secara leluasa.

  • Kedelapan: Godaan jahat datang dari dua kubu sekaligus, yakni setan bangsa jin yang tak kasatmata dan setan bangsa manusia yang berwujud nyata.

  • Kesembilan: Setan manusia melancarkan racun godaan dari sisi lahiriah, yang lambat laun meresap ke dalam kalbu lalu menetap menjadi perbuatan maksiat.

Menjaga rutinitas membaca surah perlindungan ini pada pagi dan petang hari adalah tameng baja bagi setiap pribadi muslim. Amalan sunnah tersebut menghindarkan seseorang dari tipu muslihat sihir, dengki manusia, dan bisikan jahat yang merusak iman.

Kesadaran spiritual ini mestinya memotivasi umat Islam untuk terus mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa. Mengakui kemahakuasaan Rabb semesta alam adalah satu-satunya jalan menuju ketenteraman jiwa yang abadi.(ust)

Berita Terkait

Membedah Standar Kebenaran Tafsir Alquran Lewat Timbangan Filsafat
Rahasia Balaghah Al-Qur’an: Mengapa Perintah Disampaikan Lewat Kalimat Berita?
Hukum Tajwid dan Seni Baca Al-Qur’an: Mana Lebih Utama?
Mengapa Surat Yasin Disebut Jantung Alquran?
Alasan Mengapa Manusia Membutuhkan Kitab Allah SWT
Rahasia Surat Al-Falaq: Kisah Ujian Sihir Rasulullah SAW
Tiga Makna Iqra dalam Pendidikan Karakter di Pesantren
Peran Manusia sebagai Khalifah Menjaga Ekosistem Laut
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 07:31 WIB

Tafsir Surah An-Naas Menurut Penjelasan Kitab Jalalain

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:43 WIB

Membedah Standar Kebenaran Tafsir Alquran Lewat Timbangan Filsafat

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:38 WIB

Rahasia Balaghah Al-Qur’an: Mengapa Perintah Disampaikan Lewat Kalimat Berita?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:13 WIB

Hukum Tajwid dan Seni Baca Al-Qur’an: Mana Lebih Utama?

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Mengapa Surat Yasin Disebut Jantung Alquran?

Berita Terbaru

Ilustrasi transaksi emas digital secara syari, menggabungkan kemudahan aplikasi dengan jaminan fisik di brankas.(poto: AI).

Fiqih

Hukum Jual Beli Emas Digital Menurut Syariat Islam

Minggu, 25 Okt 2026 - 07:47 WIB

Surat An nas.(poto: istimewa).

Al-Qur'an

Tafsir Surah An-Naas Menurut Penjelasan Kitab Jalalain

Minggu, 25 Okt 2026 - 07:31 WIB

Ilustrasi wanita muslimah berbusana sederhana membaca Al-Qur'an dengan khusyuk di rumah saat menjalani masa idah.(poto: AI).

Fiqih

Panduan Hukum Masa Idah Wanita Muslimah Terlengkap

Minggu, 25 Okt 2026 - 07:22 WIB

Ilustrasi pria mengenakan baju kurung sutra merah berhias emas dan cincin emas, menggambarkan larangan syariat.(poto: AI).

Fiqih

Hiasan Mewah yang Dilarang: Hukum Sutra dan Emas bagi Pria

Minggu, 25 Okt 2026 - 07:09 WIB

Kemegahan masjid berlatar senja dengan informasi jadwal sholat lengkap wilayah Kota Sungai Penuh, Minggu, 25/10/2026.(poto: AI).

Berita Islam

Jadwal Sholat Sungai Penuh Hari Ini, Minggu 25 Oktober 2026

Minggu, 25 Okt 2026 - 06:57 WIB