Jakarta, Dorlanhikmah.com – Masyarakat muslim Indonesia kembali memperingati momentum bersejarah Hari Santri dengan penuh khidmat. Para ulama menyerukan agar momentum santri kuatkan negeri emas menjadi tonggak nyata dalam menegakkan keadilan sosial dan keadaban publik. Pesantren memegang peranan krusial untuk melahirkan insan berilmu yang tangguh menyongsong kemajuan peradaban bangsa.
Khatib salat Jumat menyampaikan pesan mendalam terkait revitalisasi peran santri pada era modern. Santri tidak boleh hanya terjebak dalam romantisme masa lalu dan mengenang sejarah tanpa aksi nyata. Generasi pesantren masa kini mengemban amanah besar untuk mengawal arah masa depan bangsa menuju kemakmuran yang berkeadilan.
Mimbar khutbah menegaskan kembali bahwa esensi ketakwaan sejati melampaui rasa takut semata. Takwa mencakup kesadaran penuh untuk mematuhi perintah Ilahi, menjauhi segala larangan-Nya, serta menjaga amanah kehidupan. Setiap muslim memiliki tanggung jawab moral untuk senantiasa menghadirkan kemaslahatan nyata di tengah dinamika masyarakat.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ أَصْحَابِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Pesan wasiat takwa tersebut menjadi landasan penting dalam mengarungi tantangan zaman. Khatib mengajak seluruh jemaah untuk merenungi makna sejati peringatan hari bersejarah ini. Peringatan tahunan ini membuka ruang refleksi atas jasa ulama sekaligus tanggung jawab santri hari ini.
Menakar Kekuatan Hakiki Sebuah Negeri
Tema Hari Santri Tahun 2026 mengusung narasi “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Tema tersebut memuat pesan yang sangat mendasar bagi perjalanan bangsa Indonesia ke depan. Khatib mengingatkan bahwa santri bertindak selaku penanggung jawab masa depan, bukan sekadar penikmat hasil perjuangan.
Masyarakat kerap mengukur kekuatan suatu bangsa hanya dari pencapaian material semata. Sebagian kalangan memandang kemajuan negara cukup bertumpu pada pertumbuhan angka ekonomi dan kemegahan infrastruktur. Sebagian lain menilai kecanggihan adopsi teknologi mutakhir sebagai satu-satunya penentu kedigdayaan nasional.
Khatib meluruskan cara pandang sempit tersebut di hadapan ribuan jemaah Jumat. Negeri yang benar-benar kuat justru tegak karena seluruh lapisan masyarakat memperoleh keadilan secara nyata. Kekuatan sejati bangsa terpancar saat negara merawat warga yang lemah dan tidak menelantarkan mereka.
Penyelenggara negara wajib menjalankan seluruh wewenang kekuasaan sebagai amanah rakyat yang suci. Kesejahteraan nasional tidak boleh menumpuk pada segelintir kelompok elit semata. Seluruh rakyat berhak menikmati buah kemajuan dan kemakmuran bumi Nusantara secara merata.
Khatib mengaitkan refleksi tersebut dengan akar perjuangan pesantren dalam merebut kedaulatan. Sejarah mencatat tanggal 22 Oktober 1945 sebagai pilar penentu eksistensi Republik Indonesia. Resolusi Jihad membakar semangat perlawanan rakyat ketika kemerdekaan proklamasi menghadapi agresi musuh.
Para kiai menggerakkan pesantren dan memimpin santri menyatu bersama barisan pejuang rakyat. Fakta historis membuktikan bahwa pesantren tidak pernah berpangku tangan melihat krisis kebangsaan. Santri senantiasa hadir membawa jiwa raga setiap kali tanah air memanggil pengorbanan mereka.
Transformasi Makna Jihad Melawan Masalah Kontemporer
Pengabdian santri pada masa kini menuntut pergeseran paradigma perjuangan secara fundamental. Santri masa lalu mengangkat senjata tajam guna mengusir penjajahan fisik imperialis. Santri masa kini memikul kewajiban mengisi ruang kemerdekaan dengan karya nyata dan dedikasi keilmuan.
Tantangan kontemporer menuntut respons yang jauh lebih kompleks dan berkesinambungan. Bangsa Indonesia masih menghadapi jeratan kebodohan, jurang kemiskinan, serta gurita praktik korupsi. Masyarakat juga menghadapi ancaman perpecahan sosial, degradasi lingkungan hidup, serta krisis keteladanan para tokoh.
Khatib menegaskan bahwa jihad santri masa kini harus menemukan wujud aktualisasinya. Santri memerangi kebodohan lewat penguasaan ilmu pengetahuan yang mendalam dan solutif. Santri memutus mata rantai kemiskinan melalui program pemberdayaan ekonomi umat secara berkelanjutan.
Integritas moral menjadi senjata utama para santri untuk merontokkan budaya korupsi. Santri merajut ikatan persaudaraan kebangsaan guna menangkal polarisasi dan potensi perpecahan masyarakat. Santri turut memelopori gerakan pelestarian lingkungan hidup demi menyelamatkan bumi dari kehancuran ekologis.
Khatib mengingatkan bahwa santri sejati tidak boleh membatasi diri pada kepiawaian membaca kitab kuning semata. Pemahaman teks keagamaan harus berbuah kepedulian terhadap derita sosial masyarakat. Kitab suci Al-Qur’an mewajibkan kaum beriman membela kaum lemah dan tertindas.
Prinsip tersebut merujuk langsung pada firman Allah SWT yang dibacakan khatib secara khusyuk:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا
Ayat ke-75 Surat An-Nisa tersebut mewajibkan pembelaan terhadap kelompok masyarakat yang lemah. Kaum mukminin tidak boleh berdiam diri saat menyaksikan perempuan dan anak-anak terzalimi. Sikap pasif terhadap penderitaan sesama bertentangan langsung dengan semangat keberimanan yang lurus.
Menegakkan Keadilan Objektif Tanpa Fanatisme Buta
Komitmen santri harus tertuju secara mutlak kepada kebenaran dan keadilan universal. Santri pantang membela tindakan salah hanya karena pelaku mengatasnamakan panji-panji keagamaan tertentu. Sikap membela bangsa juga bukan berarti membenarkan kekeliruan orang-orang yang mengeklaim diri pembela negara.
Khatib menekankan bahwa penghormatan kepada figur pemimpin tidak boleh menghilangkan sikap kritis objektif. Warga tidak boleh melegitimasi kesalahan pemimpin atas nama loyalitas yang semu. Rasa cinta kepada kelompok sendiri pun pantang membutakan mata dari kesalahan internal kelompok.
Khatib membacakan petunjuk Al-Qur’an terkait independensi dan keadilan moral seorang mukmin:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلّٰهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ، وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا، اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ، وَاتَّقُوا اللّٰهَ، إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Ayat ke-8 Surat Al-Ma’idah tersebut mewajibkan setiap insan beriman bersaksi secara adil. Kebencian kepada suatu kaum sama sekali tidak boleh membenarkan perlakuan yang tidak adil. Keadilan objektif merupakan manifestasi ketakwaan yang paling dekat di hadapan Allah SWT.
Pendidikan pondok pesantren menanamkan tata krama dan adab budi pekerti yang luhur. Namun, santri tidak boleh menafsirkan adab sebagai rasa takut buta kepada sesama manusia. Budaya tawaduk di pesantren bukan berarti membiarkan kezaliman merajalela tanpa perlawanan.
Ketaatan santri kepada guru dan pemimpin tidak boleh melunturkan tanggung jawab moral pribadi. Santri wajib menghormati tokoh tanpa menyembah dan berani mengkritik tanpa merendahkan martabat orang lain. Santri menghargai perbedaan pandangan tanpa memelihara dendam kebencian di dalam hati.
Santri menolak pembelaan kelompok secara membabi buta demi menjaga kemurnian nurani. Nilai kebenaran berdiri tegak karena substansi kebenaran itu sendiri, bukan bergantung pada sang pembicara. Fondasi karakter inilah yang menjadikan santri sebagai pilar penyeimbang bangsa Indonesia.
Integrasi Kitab Kuning, Modernitas, dan Agenda Asta Cita
Visi Indonesia Emas membutuhkan manusia-manusia unggul yang memadukan kecerdasan akal dan integritas budi pekerti. Kemegahan fisik gedung perkantoran tidak akan mampu menopang peradaban tanpa kesiapan mentalitas manusia. Bangsa Indonesia menaruh harapan besar pada ekosistem pesantren untuk mencetak generasi pemimpin masa depan.
Pesantren memikul tanggung jawab besar untuk mencetak santri yang mendalam ilmu agamanya. Pada saat yang sama, santri masa kini harus membaca perkembangan zaman secara cerdas dan adaptif. Santri menguasai khazanah literatur turats Islam tanpa gagap mengoperasikan perangkat teknologi canggih.
Khatib menguraikan keterlibatan konkret santri dalam mendukung pelaksanaan delapan pilar pembangunan Asta Cita. Santri memperkuat ketahanan ideologi Pancasila dan demokrasi melalui penyemaian nilai toleransi antarwarga. Tradisi ukhuwah islamiyah dan wathaniyah menjaga tenun kebangsaan dari ancaman disintegrasi.
Pesantren juga dapat tampil sebagai motor penggerak ketahanan pangan, energi, dan air nasional. Kemandirian ekonomi pesantren memberikan teladan nyata bagi kemakmuran masyarakat di wilayah pedesaan. Lembaga pendidikan Islam tertua ini memiliki modal sosial panjang dalam memajukan mutu sumber daya manusia.
Langkah hilirisasi industri dan transformasi ekonomi hijau membutuhkan dukungan wirausahawan santri yang peduli lingkungan. Santri mengawal reformasi birokrasi dan supremasi hukum lewat penerapan prinsip amanah serta integritas tinggi. Nilai kejujuran dan etos khidmah pesantren harus mewarnai seluruh lini pelayanan publik.
Santri merawat perdamaian domestik sekaligus mempromosikan wajah Islam Nusantara yang ramah ke panggung dunia. Nilai-nilai kemanusiaan universal yang bersumber dari ajaran pesantren mengangkat reputasi diplomasi Indonesia. Santri membuktikan bahwa religiositas tinggi sejalan dengan keterbukaan peradaban global.
Pembangunan fisik tanpa pembangunan moralitas manusia hanya akan melahirkan kerapuhan kolektif. Ruas jalan tol boleh membentang lebar, namun bencana menghadang jika hati warganya sempit dan dengki. Bangsa akan kehilangan fondasi peradaban saat gedung-gedung pencakar langit berdiri di atas keruntuhan kejujuran publik.
Kecanggihan teknologi justru dapat menjelma menjadi malapetaka sosial ketika akhlak manusia tertinggal jauh. Pertumbuhan ekonomi yang mengabaikan keadilan distributif hanya akan memperlebar jurang pemisah antargolongan. Bangsa Indonesia mendambakan kemajuan teknologi yang tetap menjunjung tinggi keluhuran budi pekerti dan hati nurani.
Khatib menutup khotbah pertama dengan mengajak jemaah mewarisi keberanian moral para pendahulu Resolusi Jihad. Santri hari ini harus berani membela kaum lemah dan menyuarakan kebenaran secara tegas di ruang publik. Khatib kemudian membacakan doa penutup dan istigfar:
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khotbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَىٰ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ أَصْحَابِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ
Doa:
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ عُلَمَاءَنَا وَمَشَايِخَنَا، وَأَصْلِحْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَأَصْلِحْ شَبَابَنَا وَشَابَّاتِنَا
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيسِيَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيسِيَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاحْفَظْ وَحْدَتَهَا وَسَلَامَتَهَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ أَبْنَائِهَا
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَرِزْقًا وَاسِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَأَخْلَاقًا كَرِيمَةً
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا لِخِدْمَةِ الدِّينِ وَالْوَطَنِ وَالْإِنْسَانِ
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ شَبَابَنَا شَبَابًا صَالِحًا، وَاجْعَلْ شَبَابَ الْمُسْلِمِينَ سَبَبًا لِخَيْرِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ
اَللّٰهُمَّ وَفِّقْنَا لِحِفْظِ وَحْدَةِ إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَبْنَاءِ هَذَا الْوَطَنِ الَّذِينَ يَخْدُمُونَ الْبِلَادَ وَالْعِبَادَ بِالْعِلْمِ وَالْأَخْلَاقِ وَالْأَمَانَةِ
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ إِنْدُونِيسِيَا بَلَدًا مُتَقَدِّمًا، عَادِلًا، مُزْدَهِرًا، وَمُبَارَكًا، وَاجْعَلْ أَهْلَهَا أَهْلَ تَقْوَىً وَأَمَانَةٍ وَمَحَبَّةٍ
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ عَلَيْنَا دِينَنَا، وَاحْفَظْ عَلَيْنَا وَطَنَنَا، وَاحْفَظْ عَلَيْنَا أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا لِخَيْرِ هَذَا الْبَلَدِ وَصَلَاحِهِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
عِبَادَ اللّٰهِ
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ







Komentar