Jakarta, dorlanhikmah.com – Umat Islam kembali mendengarkan pesan ketakwaan saat kemarau dalam pelaksanaan ibadah salat Jumat. Khatib mengajak seluruh jemaah untuk memperkuat muhasabah diri serta senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT.
Melalui khutbah tersebut, khatib menyampaikan bahwa setiap hembusan napas merupakan nikmat besar dari Sang Pencipta. Oleh sebab itu, jemaah sepatutnya merasa malu apabila balasan rasa syukur atas nikmat tersebut masih sangat sedikit.
Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰه، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيمْ.
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Segala puji bagi Allah yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan bumi dengannya setelah matinya. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan bertaubat kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya sekalian. Amma ba’du: Wahai hamba-hamba Allah, aku berwasiat kepada diriku sendiri dan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, sungguh beruntung orang-orang yang bertakwa. Dan Allah Ta’ala berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan muslim. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.”
Refleksi Hati Saat Kekeringan Melanda
Kondisi alam saat ini memperlihatkan fenomena tanah retak, rumput mengering, hingga sumber air yang menyusut. Fenomena langit yang tak kunjung menurunkan air hujan melahirkan pertanyaan mendasar mengenai kondisi spiritual umat manusia.
Khatib mengingatkan agar masyarakat tidak sibuk menyalahkan alam, melainkan memeriksa kedekatan diri dengan Sang Pencipta. Musim kemarau seharusnya mendorong manusia untuk menyadari betapa banyaknya dosa yang terus berulang setiap hari.
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
“Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.” (QS. Nuh: 10–11)
Istighfar Kunci Utama Pengampunan dan Kesejahteraan
Nabi Nuh ‘alaihissalam memberikan teladan berharga saat menghadapi masa kekeringan dengan memerintahkan umatnya memperbanyak istighfar. Langkah membasahi jiwa melalui penyesalan dosa menjadi hal utama sebelum menantikan jatuhnya bulir air dari awan.
Firman Allah SWT menguatkan petunjuk tersebut untuk menegaskan keterkaitan antara pengampunan dosa dengan limpahan rezeki. Umat Islam perlu menyeimbangkan permohonan kebutuhan fisik dengan kebutuhan ketenangan jiwa.
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS. Hud: 3)
Kesadaran Total Atas Kekuasaan Sang Pencipta
Manusia sering lupa bahwa hanya Allah SWT yang memegang kekuasaan penuh untuk menurunkan air hujan. Tidak ada teknologi maupun harta kekayaan di dunia yang sanggup menggerakkan awan tanpa izin-Nya.
Kesadaran ini mengajarkan umat agar senantiasa menjauhkan diri dari sifat putus asa dalam menghadapi ujian hidup. Allah SWT selalu menyediakan jalan keluar dan bantuan bagi hamba-Nya yang mau mengetuk pintu ampunan.
أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ
“Maka pernahkah kalian memperhatikan air yang kalian minum? Apakah kalian yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya?” (QS. Al-Waqi’ah: 68–69)
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ
“Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.” (QS. Asy-Syura: 28)
Meneladani Sunnah Nabi dan Para Sahabat
Rasulullah ﷺ memberikan contoh nyata tatkala menghadapi krisis air dengan cara menengadahkan kedua tangan secara tulus. Baginda memohon pertolongan langsung kepada Pencipta langit hingga awan tebal bergerak membawa keberkahan.
Jejak mulia ini turut berlanjut pada masa sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu melalui ikhtiar doa bersama. Umat Islam dapat mempraktikkan hal serupa melalui salat istisqa, perbanyak sedekah, serta membenahi hubungan antarsesama.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا
“Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.”
اَللّٰهُمَّ أَغِثْنَا، اَللّٰهُمَّ أَغِثْنَا، اَللّٰهُمَّ أَغِثْنَا
“Ya Allah, tolonglah kami (dengan hujan). Ya Allah, tolonglah kami. Ya Allah, tolonglah kami.”
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung, dan memberi manfaat kepadaku dan kalian dengan apa yang ada di dalamnya dari ayat-ayat dan peringatan yang bijaksana. Aku mengucapkan perkataanku ini dan memohon ampunan kepada Allah untukku dan untuk kalian, maka mohonlah ampunan kepada-Nya, sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Khutbah Kedua dan Penutupan Ibadah
Memasuki bagian khutbah kedua, khatib kembali menyampaikan puji syukur serta bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Khatib menegaskan kewajiban bertakwa kepada Allah SWT sampai akhir hayat mendatangi setiap insan.
Melalui doa penutup, seluruh jemaah memohon pengampunan atas segala kesalahan dan kelalaian yang pernah mereka perbuat. Harapan besar tercurah agar kemudahan rezeki serta ketenangan hati menyertai kehidupan masyarakat.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللّٰهْ! اِتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
“Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, pujian yang banyak, baik, dan diberkahi di dalamnya sebagaimana yang dicintai dan diridhai Tuhan kami. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya sekalian. Amma ba’du, wahai hamba-hamba Allah! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan muslim.”
قَالَ اللّٰهُ تَعاَلَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِالِلّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسۡمِ ٱلِلّٰهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيْمِ. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
“Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad hamba dan utusan-Mu sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim, dan berkatilah Muhammad beserta keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim di seluruh alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ, اَللّٰهُمَّ إِنَّا عِبَادُكَ الضُّعَفَاءُ، فَارْحَمْنَا, اَللّٰهُمَّ إِنَّا أَخْطَأْنَا وَأَسْرَفْنَا عَلَىٰ أَنْفُسِنَا، فَاغْفِرْ لَنَا, اَللّٰهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا غَيْثًا نَافِعًا، وَرَحْمَةً وَاسِعَةً، وَبَرَكَةً دَائِمَةً, اَللّٰهُمَّ أَغِثْنَا، اَللّٰهُمَّ أَغِثْنَا، اَللّٰهُمَّ أَغِثْنَا, اَللّٰهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ, رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin laki-laki dan perempuan, serta kaum mukminin laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Ya Allah, sesungguhnya kami adalah hamba-hamba-Mu yang lemah, maka kasihanilah kami. Ya Allah, kami telah berbuat salah dan melampaui batas terhadap diri kami sendiri, maka ampunilah kami. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat, rahmat yang luas, dan keberkahan yang berkelanjutan. Ya Allah, curahkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, curahkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, curahkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, berilah minum kepada hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan ternak-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang mati ini. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
“Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berlaku adil, berbuat kebaikan, dan memberi bantuan kepada kerabat. Dan Dia melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. Maka ingatlah Allah yang Maha Agung, niscaya Dia akan mengingatmu. Bersyukurlah atas nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepadamu. Dan sungguh, mengingat Allah itu adalah keutamaan yang paling besar.”(ust)










Komentar