Jakarta, dorlanhikmah.com – Perilaku rasisme secara tegas bertentangan dengan ajaran Islam, nilai kemanusiaan, serta semangat persatuan di tengah perbedaan. Namun, di era media sosial saat ini, perilaku negatif tersebut seakan menemukan peluang dan ruang untuk muncul kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu, kita harus bijak bermedia sosial dengan menjaga ucapan, tulisan, dan jari-jari kita dari penghinaan, ujaran kebencian, maupun diskriminasi terhadap siapa pun.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ، وَجَعَلَ فِيْهِ مَنَاهِجَ الْهِدَايَةِ لِلنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، صَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada seluruh jamaah, wabil khusus kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa menguatkan ketakwaan. Kita membutuhkan ketakwaan sebagai modal utama dalam menjalani kehidupan agar kita selalu berjalan di atas syariat Islam. Langkah ini sangat penting, terlebih ketika kita harus menghadapi era modern yang penuh dengan guncangan perubahan.
Saat ini, kita menyaksikan teknologi berkembang begitu pesat. Media sosial bahkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Hanya dengan memegang HP, kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Selanjutnya, tulisan, foto, video, atau komentar yang kita unggah hari ini dapat menyebar kepada jutaan orang hanya dalam hitungan menit.
Di satu sisi, media sosial memberikan banyak kemudahan dan manfaat. Kita dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah, pendidikan, silaturahmi, penggerak ekonomi, penyampaian informasi, hingga mempererat hubungan antarmanusia.
Namun, Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Di balik manfaat tersebut, kita juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Salah satunya adalah maraknya berbagai bentuk ujaran kebencian, penghinaan, dan diskriminasi. Perilaku negatif ini sangat mudah mengarah pada tindakan rasisme, yakni ketika seseorang merendahkan, membenci, mendiskriminasi, atau memperlakukan orang lain secara tidak adil karena faktor ras, suku, warna kulit, maupun asal-usulnya.
Selain itu, rasisme di media sosial sering kali muncul dalam berbagai bentuk. Kadang kita mendapati komentar yang menghina warna kulit, candaan yang merendahkan suku tertentu, atau unggahan media yang menggambarkan kelompok tertentu secara negatif. Bahkan, sebagian pihak sengaja memanfaatkan identitas ras dan suku sebagai bahan provokasi untuk menyulut permusuhan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kita harus menyadari bahwa Islam menolak keras sikap kesombongan, penghinaan, dan diskriminasi terhadap sesama manusia. Allah SWT telah menegaskan larangan ini dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ١١
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”
Kemudian, pada ayat selanjutnya, yaitu Surah Al-Hujurat ayat 13, Allah SWT kembali menegaskan bahwa keberagaman merupakan sunnatullah:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
Kedua ayat di atas menyampaikan pesan yang sangat tegas bahwa kita wajib menghindari rasisme. Allah menciptakan manusia dalam kondisi yang beragam, baik dari segi suku, bangsa, bahasa, warna kulit, maupun budaya.
Oleh karena itu, dalam Tafsir Munir, Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili menjelaskan:
وَالْمَقْصُوْدُ أَنَّ اللَّهَ خَلَقَكُمْ لِأَجْلِ التَّعَارُفِ لاَ لِلتَّفَاخُرِ بْالْأَنْسَابِ، وَإِنَّ التَّفَاضُلَ بَيْنَكُمْ إِنَّمَا هُوَ بِالتَّقْوَى، فَمَنْ اِتَّصَفَ بِهَا كَانَ هُوَ الْأَكْرَمُ وَالْأَشْرَفُ وَالْأَفْضَلُ فَدَعَوْا التَّفَاخُرَ
Artinya: “Maksud bahwa Allah menciptakan kalian (dengan berbeda-beda suku dan bangsa) adalah untuk saling mengenal, bukan untuk saling membanggakan keturunan (rasisme). Sesungguhnya keunggulan di antara kalian adalah hanya bisa diraih dengan takwa. Siapa saja yang bersifat dengannya (takwa), maka dialah yang lebih terhormat, lebih mulia dan lebih utama, maka tinggalkanlah rasisme.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dahulu, ketika seseorang melakukan tindakan rasis, mungkin hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya. Akan tetapi, hari ini satu tindakan rasis bisa langsung menyebar dan memicu reaksi ribuan orang. Sebab itulah, kita harus menyadari bahwa jari-jari kita di media sosial mencerminkan lisan kita. Apa yang kita tulis merupakan perkataan, apa yang kita unggah membawa pesan, dan apa yang kita bagikan menuntut tanggung jawab.
Oleh karena itu, jangan sampai tangan kita memicu lahirnya permusuhan. Jangan sampai jari-jari kita merendahkan orang lain. Begitu pula, jangan biarkan akun media sosial kita menjadi sarang kebencian dan rasisme.
Selain melukai perasaan orang lain, rasisme juga merusak persaudaraan dan persatuan masyarakat, terutama bangsa Indonesia yang berdiri di atas keberagaman suku, bahasa, budaya, dan agama. Bangsa kita menjunjung tinggi semboyan Bhinneka Tunggal Ika—berbeda-beda tetapi tetap satu. Indonesia menjadi kuat bukan karena kita semua sama, melainkan karena kita mampu hidup berdampingan dalam perbedaan.
Oleh sebab itu, ketika seseorang menghina suku tertentu, ia sebenarnya sedang melukai bagian dari bangsa Indonesia. Demikian pula, ketika seseorang merendahkan kelompok tertentu, ia sedang merusak persaudaraan kebangsaan kita. Maka dari itu, apabila kita melihat media sosial digunakan untuk menyebarkan kebencian berbasis ras dan suku, kita wajib bersama-sama menghentikannya.
Jangan biarkan media sosial memecah belah bangsa. Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan permusuhan, dan jangan biarkan kebencian menjadi tontonan. Sebaliknya, mari kita manfaatkan media sosial sebagai ruang untuk mempererat tali persaudaraan.
Secara historis, 14 abad yang lalu, Rasulullah SAW telah mendeklarasikan bahwa tidak ada tempat bagi superioritas rasial di dunia ini. Beliau menyampaikan pesan mulia tersebut saat berpidato pada Haji Wada’:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلاَ أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلاَّ بِالتَّقْوَى
Artinya: “Wahai manusia, ketahuilah bahwa Rabb kalian adalah satu, dan bahwa nenek moyang kalian adalah satu. Ketahuilah bahwa tidak ada keunggulan bagi seorang Arab atas non-Arab, atau sebaliknya, dan tidak ada keunggulan bagi seorang kulit putih atas kulit hitam, atau sebaliknya, kecuali dalam ketakwaan!” (HR Ahmad dan Ath-Thabrani)
Akhirnya, semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita agar mampu menggunakan media sosial secara bijaksana. Semoga Allah menjaga lisan, tulisan, serta jari-jari kita, dan menjadikan setiap kata yang kita sampaikan sebagai jalan menuju kebaikan. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدَنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدَنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ










Komentar