Jakarta, dorlanhikmah.com – Masyarakat Jawa mengenal istilah adiluhung Lelananging Jagat bagi pria tangguh penakluk dunia. Namun, naskah khutbah Jumat ini mengajak umat memahami Lelananging Jagat versi Islam secara mendalam.
Banyak orang mengejar predikat tersebut melalui tumpukan harta, kejar-kejaran kekuasaan, hingga popularitas. Padahal, Islam menawarkan panduan rasional dan spiritual yang jauh lebih tinggi.
Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Mengukur Takwa dan Benteng Pertahanan Diri
Khatib mengajak jamaah meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT secara konsisten. Takwa menjadi benteng pertahanan terbaik sekaligus bekal tunggal menuju alam akhirat.
Budaya Jawa menyematkan julukan Lelananging Jagat kepada lelaki yang menguasai dunia. Pria tersebut umumnya memiliki kekuatan, pengaruh besar, serta kehebatan yang disegani alam.
Khatib mengarahkan umat untuk merenungkan sosok penakluk dunia menurut kacamata syariat. Rasulullah SAW menegaskan cara memiliki dunia tanpa perlu menjadi penguasa politik.
Rahasia Dua Rakaat Sebelum Fajar
Seseorang cukup menjaga dua rakaat salat sunnah sebelum Fajar menyingsing. Rasulullah SAW menegaskan keutamaan ibadah tersebut dalam hadis riwayat Imam Muslim:
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
Artinya: “Dua rakaat salat sunnah subuh (qobliyah subuh) itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim)
Al-Qur’an menempatkan waktu Fajar pada kedudukan mulia melalui berbagai firman-Nya. Allah SWT bahkan bersumpah atas nama subuh dalam Surah At-Takwir ayat 18:
وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ
Artinya: “Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS. At-Takwir: 18)
Ujian Berat di Medan Tempur Spiritual
Penegasan khusus mengenai ibadah Fajar juga tercantum dalam Surah Al-Isra’ ayat 78:
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Artinya: “Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra’: 78)
Waktu fajar menjadi medan tempur spiritual yang menguji ketaatan setiap hamba. Rasa kantuk dan kehangatan tempat tidur bertabrakan langsung dengan bisikan nafsu.
Jaminan Perlindungan Penuh dari Sang Pencipta
Ibadah pokok berupa Salat Subuh Berjemaah di masjid melengkapi keutamaan qobliyah. Rasulullah SAW menjanjikan garansi keamanan langsung bagi jamaah yang melangkahkan kaki:
مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللّٰهِ
Artinya: “Barangsiapa yang salat Subuh (berjemaah), maka ia berada dalam jaminan perlindungan Allah.” (HR. Muslim)
Orang yang menunaikan rangkaian ibadah Fajar berada di bawah naungan Penguasa Semesta. Langkah kaki menembus kegelapan malam menuju masjid menandai keperkasaan iman seorang laki-laki.
Cahaya Sempurna pada Hari Kiamat
Rasulullah SAW menyampaikan kabar gembira mengenai perjuangan menuju masjid di waktu gelap:
بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Sebaliknya, Surah Maryam ayat 59 mengingatkan ancaman bagi orang yang melalaikan salat:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Artinya: “Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)
Tiga Kriteria Spiritual Lelaki Sejati
Gelar Lelananging Jagat versi syariat Islam tidak membutuhkan pengakuan manusia maupun jubah kebesaran. Keperkasaan pria muslim terukur melalui tiga kriteria spiritual utama berikut:
-
Keperkasaan Menundukkan Nafsu: Sanggup menyingkap selimut tebal, mengambil wudhu, serta mengalahkan rasa malas di waktu fajar.
-
Kecerdasan Berinvestasi: Merawat dua rakaat qobliyah subuh karena memahami nilainya yang melampaui harta duniawi.
-
Keteguhan Melangkah ke Rumah Allah: Mengokohkan iman dengan melangkah ke masjid guna menunaikan salat Subuh berjemaah.
Khatib mengajak umat meluruskan arah perjuangan hidup agar tidak bangkrut di hadapan Allah. Setiap muslim hendaknya menguasai dunia sebelum matahari terbit melalui kemakmuran ibadah Subuh.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إلَى رِضْوَانِهِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدَنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يُحَافِظُوْنَ عَلٰى الصَّلَوَاتِ فِي الْمَسَاجِدِ جَمَاعَةً.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.










Komentar