Jakarta, dorlanhikmah.com – Umat Islam perlu memahami makna kemerdekaan Republik Indonesia sebagai nikmat besar dari Allah SWT. Rasa syukur tersebut mewajibkan setiap warga negara menjaga kedaulatan bangsa melalui peningkatan iman dan ketakwaan.
Khatib menyampaikan pembukaan khutbah Jumat dengan memanjatkan puji syukur, selawat, serta wasiat takwa sebagai berikut:
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُه. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيكَ لَهُ ذُوالْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي أٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَي يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَآأَيُّهَا الْإِحْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَي اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰي فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.وَقَالَ اَيْضًا : وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّوْنَ إِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Jamaah Jumat mengungkapkan kebahagiaan karena dapat melangsungkan ibadah dalam kondisi sehat walafiat. Kaum muslimin mewujudkan penghambaan sejati dengan menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.
Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI setiap 17 Agustus menjadi momentum tepat untuk mengenang perjuangan para pahlawan. Perjuangan mengusir penjajah berlandaskan kesadaran bahwa manusia hanya boleh menghambakan diri kepada Pencipta.
Al-Qur’an menegaskan hakikat penciptaan makhluk dalam surah Az-Zariyat ayat 56:
وَمَا خَلقتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Az-Zariyat 56).
Rasulullah SAW sebagai Tokoh Pembebas Peradaban Manusia
Sejarah Islam mencatat Rasulullah SAW sebagai tokoh agung yang membebaskan manusia dari kesesatan dan penindasan. Beliau membimbing masyarakat keluar dari era jahiliyah menuju peradaban yang memanusiakan manusia.
Masyarakat jahiliyah dahulu menyembah patung karya sendiri serta menindas kelompok lemah demi kepentingan pribadi. Nabi Muhammad SAW kemudian membangun masyarakat madani di Madinah sebagai model negara merdeka dan berdaulat.
Kewajiban Mengisi Kemerdekaan dengan Karya dan Ibadah
Momentum kemerdekaan menuntut setiap muslim melakukan perenungan mendalam terkait kontribusi nyata bagi negeri. Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk terus beramal melalui firman-Nya dalam surah At-Taubah ayat 105:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: “Dan katakanlah (wahai Muhammad): Bekerjalah kamu, maka sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat apa yang kamu kerjakan dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib dan yang nyata, kemudian Dia menerangkan kepada kamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.”
Ayat tersebut mendorong kaum muslimin memanfaatkan kebebasan ibadah dan bekerja secara seimbang. Rasulullah SAW juga telah menerangkan seluruh amalan kebaikan melalui hadis riwayat Al-Hakim:
إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَيْءٍ يُقَرِّبُكُمْ اِلَى الْجَنَّةِ إِلَّا قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ , وَلَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ اِلىَ النَّارِ إِلَّا قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
Artinya: “Tidak satu pun amal yang bisa mendekatkan kalian ke surga melainkan aku memerintahkannya kepada kalian. Dan tidak satupun amal yang bisa mendekatkan kalian ke neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya.”
Masyarakat patut bersyukur karena dapat menikmati keamanan tanpa bayang-bayang konflik bersenjata atau perang. Allah SWT berjanji menambah nikmat bagi hamba yang bersyukur sebagaimana tertuang dalam surah Ibrahim ayat 7:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “Sekiranya kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambahkan nikmat-Ku, dan sekiranya kamu kufur, sesungguhnya adzab-Ku amatlah pedih.”
Menjaga Komitmen Kerja Keras demi Cita-Cita Bangsa
Prinsip kerja keras dan disiplin tinggi menjadi kunci utama dalam merawat kemerdekaan Indonesia. Al-Qur’an memberi panduan moral dalam surah Asy-Syarh ayat 7:
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ
Artinya: “Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabb mu lah hendaknya kamu berharap,”
Kemerdekaan merupakan jembatan emas untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, adil, dan makmur. Seluruh elemen bangsa perlu menjaga konsensus nasional berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.
Setiap warga negara hendaknya menjalankan peran masing-masing demi mewujudkan tatanan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr. Khutbah Jumat ini diakhiri dengan doa penutup sebagai berikut:
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّٰهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، أَقَوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم
Wallahu a’lam.(ust)










Komentar