Jakarta, dorlanhikmah.com – Pembaca Al-Qur’an wajib memahami kaidah mad dibaca 6 harakat agar tilawah terdengar fasih. Sebab, pembacaan panjang tiga alif ini melingkupi kelompok Mad Lazim dan Mad Farqi.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai aturan panjang bacaan mencegah kesalahan pembacaan ayat. Selain itu, setiap jenis mad memiliki ciri khas pembacaan tersendiri yang mudah pengguna kenali.
Daftar Mad Lazim dan Mad Farqi Berpanjang 6 Harakat
Pertama, Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi terjadi saat Mad Thabi’i bertemu huruf bertasydid dalam satu kata. Akibatnya, pembaca wajib memanjangkan suara sepanjang enam ketukan sebelum masuk ke huruf bertasydid.
Contoh lafaznya terdapat pada kata اَلْحَاۤقَّةُ. Artinya: “Hari Kiamat”.
Sementara itu, Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi tercipta sewaktu Mad Thabi’i bertemu huruf berharakat sukun asli. Namun, kitab suci hanya memuat hukum bacaan ini pada Surat Yunus ayat 51 dan 91.
Contoh lafaznya berupa ayat ءَآلْآنَ. Artinya: “Apakah sekarang”.
Selanjutnya, Mad Lazim Harfi Mutsaqqal bertempat pada fawatihus suwar atau huruf pembuka surat. Maka dari itu, pembaca meng-idgham-kan atau menekan ejaan tengah huruf tersebut secara jelas.
Contoh lafaznya terlihat pada rangkaian الم dan طسم. Artinya: “Alif Lam Mim” dan “Tha Sin Mim”.
Di sisi lain, Mad Lazim Harfi Mukhaffaf merupakan ejaan fawatihus suwar berpanjang tiga alif tanpa idgham. Dengan demikian, suara bacaan meluncur ringan tanpa ada peleburan ke huruf berikutnya.
Contoh lafaznya meliputi huruf ن, يس, dan حم. Artinya: “Nun”, “Ya Sin”, serta “Ha Mim”.
Kemudian, Mad Farqi menghubungkan hamzah istifham atau kata tanya dengan alif lam ma’rifah. Secara khusus, keberadaan mad ini membedakan kalimat pertanyaan dari bentuk berita.
Contoh lafaznya muncul pada bacaan آلذَّكَرَيْنِ. Artinya: “Apakah dua yang laki-laki”.
Aturan Khusus Bacaan Mad ‘Aridh Lissukun
Di samping itu, hukum Mad ‘Aridh Lissukun menyimpan pilihan membaca hingga enam ketukan sewaktu waqaf. Sehingga, pembaca boleh memilih opsi panjang dua, empat, atau enam harakat.
Kendati demikian, masyarakat harus menjaga konsistensi ketukan dari awal hingga akhir majelis bacaan. Akhirnya, pemilihan nada yang teratur membuat kualitas bacaan Al-Qur’an tetap terjaga.(ust)










Komentar