Khutbah Jumat: Filosofi Santri Masa Kini dan Resolusi Jihad

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 16 Oktober 2026 - 09:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Jakarta, Dorlanhikmah.com – Perayaan momentum nasional mengantarkan umat Islam merenungkan kembali rekam jejak perjuangan para ulama dan santri nusantara. Generasi muda terus menggali keteladanan para pejuang pondok pesantren guna mewujudkan filosofi santri masa kini dalam menyongsong masa depan bangsa. Langkah ini memperkuat komitmen keagamaan sekaligus memperkokoh kedaulatan tanah air dari berbagai tantangan zaman.

Mimbar masjid bergema menyampaikan pesan sejarah kemerdekaan Indonesia yang sarat dengan pengorbanan darah para pahlawan. Khatib Jumat membangkitkan ingatan jamaah terhadap panggilan suci Resolusi Jihad yang lahir dari rahim pesantren. Semangat tersebut mengalir abadi dan menjadi lentera bagi gerak langkah generasi penerus peradaban.

Perjuangan mengusir penjajah masa lalu kini bertransformasi menjadi perjuangan menuntut ilmu pengetahuan secara mendalam. Umat Islam memikul tanggung jawab besar untuk menjaga martabat negeri melalui jalur pendidikan dan moralitas. Nilai-nilai kepesantrenan menjadi benteng pertahanan yang sangat kokoh dalam menangkal arus kemunduran moral.

Pembukaan Khutbah dan Landasan Takwa

Khutbah Pertama:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، اَلقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (التوبة: ١٢٢)، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُصَلُّونَ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Seruan takwa ini mengingatkan hadirin agar senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jamaah salat Jumat memusatkan perhatian pada wejangan penting mengenai peran santri dalam lintasan peradaban. Nasihat tersebut menyadarkan hadirin akan besarnya anugerah keimanan dan keislaman yang menaungi negeri ini.

Pesan khutbah mengajak seluruh masyarakat merawat keistiqamahan ibadah dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Kesadaran spiritual ini menjadi modal dasar bagi santri dalam mengarungi dinamika zaman yang kian berliku. Setiap mukmin wajib memegang teguh tali agama Allah hingga hembusan napas terakhir.

Warisan Resolusi Jihad dan Tema Hari Santri

Bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional pada setiap tanggal 22 Oktober sebagai wujud penghormatan nyata. Peringatan bersejarah ini menghargai pengorbanan besar kalangan pesantren dalam merebut dan mempertahankan kedaulatan republik. Kontribusi nyata tersebut terukir abadi lewat Resolusi Jihad gagasan KH Hasyim Asy’ari.

Peringatan Hari Santri Nasional 2024 mengusung tema besar “Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan”. Tema ini menyiratkan pesan mendalam agar santri tidak pernah berhenti melangkah membawa panji perjuangan kiai. Generasi pesantren menyambut visi masa depan dengan optimisme tinggi dan tekad yang membaja.

Tema tersebut berjalan selaras dengan kepribadian santri yang selalu siap mengabdi demi kemaslahatan agama serta bangsa. Santri menyambung mata rantai perjuangan masa lampau menuju gerbang peradaban yang berkeadaban dan mandiri. Komitmen ini membakar semangat juang para penuntut ilmu di seantero nusantara.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan santri sebagai seseorang yang menimba ilmu keagamaan Islam secara sungguh-sungguh. Definisi tersebut meluas mencakup pribadi muslim yang senantiasa menunaikan ibadah dengan baik dan tertib. Pengertian ini memadukan kedalaman wawasan teoritis dengan kematangan praktik pengamalan ibadah praktis.

Keluasan makna ini meletakkan beban amanah moral yang sangat luhur di atas pundak para santri. Masyarakat menaruh harapan besar kepada santri untuk tampil memimpin perbaikan akhlak umat. Oleh karena itu, santri mengemban tugas utama sebagai pewaris mandat keteladanan para kiai.

Filosofi Kitab Alfiyah Ibnu Malik dan Kaidah Idhafah

Tanggung jawab besar tersebut memantulkan mutiara filosofi indah yang tersimpan dalam kitab gramatika Arab klasik. Kitab Alfiyah Ibnu Malik karya Imam Muhammad ibn ‘Abdillah ibn Malik al-Andalusi menyimpan makna kepemimpinan yang sangat bernilai. Ulama nahwu kenamaan ini mengabadikan prinsip penggantian peran dalam bab Idlafah bait nomor 414:

وَمَا يَلِـــىْ الْـمُضَافَ يَــأْتِى خَلَفَا – عَنْهُ فِى اْلإِعْرَابِ إِذَا مَا حُذِفَا

Bait syair legendaris tersebut memiliki arti: “Dan apa (kata) yang mengiringi Mudhaf dapat mengganti – kedudukannya dalam I’rab apabila Mudhaf dibuang”. Kaidah tata bahasa Arab ini tidak sekadar merumuskan hukum harakat akhir kata dalam konstruksi kalimat. Kaidah tersebut memancarkan ajaran filosofis yang relevan dengan estafet kepemimpinan umat.

Khatib mengibaratkan santri sebagai posisi Mudlaf Ilaih yang mendampingi dan menimba ilmu dari kiai selaku Mudlaf. Santri wajib tampil ke garda terdepan menggantikan kedudukan serta kiprah dakwah kiai ketika sang guru berpulang ke rahmatullah. Ketetapan ini menuntut kesiapan santri untuk memikul tanggung jawab sosial dan pembinaan keagamaan di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Khutbah Jumat: Rahasia Shalat Pengetuk Rezeki Keluarga Muslim

Santri tidak boleh membiarkan kekosongan kepemimpinan moral melanda lingkungan pergaulan sosial mereka. Mereka harus menyerap keilmuan dan keteladanan kiai sebelum tiba masa peralihan generasi tersebut. Kesiapan ini menjamin keberlangsungan transmisi ajaran Islam yang damai dan berlandaskan tradisi keilmuan yang sahih.

Para pencari ilmu merenungi bait Alfiyah ini sebagai panggilan jiwa untuk terus berbenah dan meningkatkan mutu kapasitas diri. Mereka menempa intelektualitas dan spiritualitas secara seimbang selama menuntut ilmu di bilik pesantren. Penggemblengan intensif ini membentuk karakter santri yang berdaya tahan tinggi dan berintegritas mulia.

Meneguhkan Pandangan Tokoh dan Pesan Kitab Suci

Menteri Agama Republik Indonesia, Prof Nasaruddin Umar, menegaskan hakikat perjuangan yang wajib dilanjutkan oleh segenap santri tanah air. Santri memegang mandat suci untuk membela kedaulatan bangsa dan memelihara keluhuran ajaran agama dari ancaman kehancuran. Arah perjuangan tersebut memerlukan keselarasan antara pemahaman agama dan kecintaan terhadap tanah air.

Para kiai pada masa penjajahan mengorbankan jiwa dan raga dengan mengangkat senjata lewat komando Resolusi Jihad. Santri era modern menghadapi medan pertempuran yang berbeda dengan mengangkat pena dan menguasai sarana penyebaran ilmu pengetahuan. Senjata intelektual ini ampuh membabat tuntas kebodohan serta keterbelakangan yang merundung peradaban bangsa.

Langkah ini mengejawantahkan petunjuk agung Allah Swt dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 122. Firman suci ini menggarisbawahi urgensi pembagian tugas di tengah umat antara jihad fisik dan perjuangan menuntut ilmu:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ayat tersebut bermakna: “Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?”. Pesan ilahi ini menegaskan bahwa menuntut ilmu memiliki kedudukan yang setara dengan perjuangan di medan laga.

Perjuangan hakiki tidak melulu bermakna konfrontasi militer di medan laga berdebu. Perjuangan keilmuan menghadirkan kemerdekaan sejati bagi masyarakat dari belenggu kebodohan yang merusak tatanan hidup berbangsa. Bangsa yang membiarkan kebodohan merajalela akan terjerumus ke dalam jurang kemunduran yang sangat menyengsarakan.

Generasi santri menyerap ayat ini sebagai landasan doktrinal untuk mengabdikan hidup bagi kemajuan peradaban literasi umat. Mereka mengasah ketajaman analisis dan pemikiran kritis demi mencerahkan kehidupan masyarakat luas. Gerakan intelektual ini menjadi pilar utama penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dimensi Jihad Intelektual Melawan Penyesatan Ideologi

Tugas masa depan menuntut santri “berperang” menyebarkan ilmu pengetahuan yang mereka raih kepada khalayak umum. Langkah penyebaran ilmu ini melenyapkan kebodohan massal dan membendung bahaya infiltrasi penyesatan ideologi keagamaan yang ekstrem. Penegasan mengenai tujuan menuntut ilmu terpapar jelas dalam karya monumental Syekh Wahbah al-Zuhaili.

Ulama kontemporer terkemuka tersebut menuliskan pandangannya dalam kitab Tafsir Al-Munir juz 11 halaman 79. Pandangan ini mengingatkan para penuntut ilmu agar memurnikan niat belajar hanya untuk kemaslahatan dakwah dan pembimbingan umat:

يَجِبُ أَنْ يَكُوْنَ المَقْصُوْدُ مِنْ التَّفَقُّهِ وَالتَّعَلُّمِ دَعْوَةَ الخَلْقِ إِلَى الحَقِّ، وَإِرْشَادَهُمْ إِلَى الدِّيْنِ القَوِيْمِ وَالصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ

Kutipan tersebut memiliki arti: “Maksud dari memahami dan mempelajari ilmu agama harusnya adalah mengajak masyarakat kepada kebenaran dan membimbing mereka kepada agama yang lurus dan ajaran yang benar”. Santri memegang teguh amanah dakwah yang menyejukkan hati dan merangkul sesama manusia.

Jika prajurit militer melatih keterampilan taktis dan persenjataan tempur, santri wajib memperdalam kompetensi keilmuan agama secara otoritatif dari kiai. Penguasaan sanad keilmuan yang bersambung menjadi perisai kokoh dalam membantah argumentasi kelompok yang menyimpang dari jalan lurus. Keahlian ini memastikan dakwah Islam senantiasa menghadirkan rahmat bagi seluruh alam semesta.

Tantangan era digital menuntut kehadiran santri yang piawai mengemas pesan-pesan agama secara menarik dan mencerahkan. Media komunikasi modern menjadi panggung strategis bagi santri untuk menyebarkan ajaran Islam yang ramah dan menyejukkan. Upaya ini membebaskan generasi muda dari jeratan paham keagamaan yang sempit dan radikal.

Santri melangkah mantap menjadi rujukan masyarakat dalam mencari solusi persoalan keagamaan yang terus berkembang dinamis. Mereka menjembatani khazanah keilmuan klasik dengan realitas problematika kehidupan modern. Keteladanan dan kerendahan hati santri menjadi magnet kebaikan yang menggerakkan kesadaran masyarakat.

Urgensi Waktu dan Peringatan Hadits Sunan Ad-Darimi

Santri memikul amanah besar untuk mengoptimalkan setiap jengkal waktu selama menimba ilmu di lingkungan pesantren. Mereka bergegas menyerap samudera hikmah dan fatwa dari kiai agar siap memimpin umat di masa mendatang. Sikap bergegas ini merujuk pada peringatan keras Nabi Muhammad saw perihal bahaya hilangnya ilmu agama.

Baca Juga :  Khutbah Jumat Hemat Air Saat Kemarau

Khatib mengutip hadits shahih yang termaktub dalam kitab Musnad Ad-Darimi atau Sunan Ad-Darimi juz 1 halaman 308. Riwayat ini melukiskan kekhawatiran mendalam Baginda Rasulullah saw terhadap masa depan keberlangsungan ilmu syariat:

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ. قَالُوا: وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، وَفِينَا كِتَابُ اللَّهِ؟ قَالَ: فَغَضِبَ، ثُمَّ قَالَ: ثَكِلَتْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ أَوَلَمْ تَكُنِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمْ شَيْئًا؟ إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ، إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ

Sabda Rasulullah saw tersebut memuat arti: “Dari Rasulullah saw, bahwasanya beliau besabda: Ambillah ilmu sebelum pergi/hilang. Para sahabat bertanya Bagaimana ilmu bisa pergi wahai Nabi, sedangkan Al-Qur’an masih bersama kami? Nabi bersabda: Tsakilatkum Ummahatukum (Celakalah kalian, ibu kalian kehilangan kalian), bukankah Taurat dan Injil masih ada bersama Bani Israil, tetapi tidak bermanfaat untuk mereka? Sesungguhnya perginya ilmu itu dengan cara meninggalnya para ulama. Sesungguhnya perginya ilmu itu dengan cara meninggalnya para ulama”.

Kenyataan pahit ini menegaskan bahwa keberadaan kitab suci tanpa kehadiran ulama yang memahaminya akan menghilangkan fungsi petunjuk syariat. Ulama menjadi wadah hidup tempat bersemayamnya intisari pemahaman agama yang benar dan murni. Ketiadaan ulama menjerumuskan orang-orang jahil menafsirkan ajaran agama menurut hawa nafsu pribadi mereka.

Santri menyadari pentingnya memanfaatkan usia muda guna berguru secara intensif kepada para ulama yang mumpuni. Setiap detik kebersamaan dengan para kiai merupakan kesempatan emas menyerap adab, ketakwaan, serta kedalaman pemahaman agama. Kesadaran ini mendorong santri tekun bermujahadah menelaah kitab-kitab induk khazanah keislaman.

Wafatnya seorang kiai meninggalkan duka mendalam sekaligus menyisakan celah kekosongan intelektual yang sulit tergantikan. Santri yang matang secara keilmuan tampil mengisi celah tersebut demi menyelamatkan arah spiritual umat manusia. Tanggung jawab ini menuntut kesungguhan hati dalam menjalani proses belajar mengajar di pondok pesantren.

Melangkah Melampaui Seremoni Hari Santri

Khatib mengingatkan bahwa perayaan Hari Santri Nasional tidak boleh berhenti sebatas seremoni peringatan tahunan semata. Mengenang romantisme heroisme masa lampau tanpa tindakan konkret hanya akan membuahkan kelalaian sejarah. Generasi hari ini wajib mewarisi api semangat pengorbanan para syuhada dan kiai pendahulu.

Pengorbanan tersebut harus menjelma dalam wujud pengabdian nyata memajukan kemakmuran dan kedaulatan bangsa Indonesia. Santri membuktikan dedikasi mereka melalui kiprah positif di berbagai lini kehidupan profesional dan sosial kemasyarakatan. Sinergi antara kaum santri dan komponen bangsa lainnya mempercepat terwujudnya kejayaan tanah air.

Doa dan ikhtiar berpadu mengharapkan curahan berkah dari Allah Swt bagi seluruh tumpah darah Indonesia. Khatib menutup materi khutbah pertama dengan memohonkan ampunan bagi dirinya dan segenap jamaah yang hadir. Khatib melafalkan penutup khutbah pertama dengan suara lantang dan penuh harap:

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khatib duduk sejenak di antara dua khutbah seraya beristighfar dan memanjatkan doa pribadi. Keheningan masjid menyelimuti jamaah yang turut memanfaatkan waktu mustajab ini untuk memperbanyak permohonan ampun. Suasana khusyuk mengalir mengiringi persiapan khatib memasuki khutbah kedua.

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدِنِ ابْنِ عَبدِ الله وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُسلِمُونَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعلَمُوا إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُمْ مُّحْسِنُونَ، قَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Doa:

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فَلِسْطِيْن وَلُبْنَان وَسَائِرَ العَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا اِنْدُونِيْسِيَّا بَلْدَةً طَيِّبَةً وَمُبَارَكَةً وَمُزْدَهِرَةً. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُم بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

Berita Terkait

Makna Jihad Santri Era Modern: Dari Perang Fisik ke Intelektual
Khutbah Jumat Cinta Tanah Air: Napas Perjuangan Santri Mengawal Negeri
Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan
Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai
Khutbah Jumat: Ajakan Solidaritas Warga Hadapi Karhutla
Khutbah Jumat Hari Santri: Meneguhkan Jihad Ilmu dan Bangsa
Khutbah Jumat: Merawat Tiga Warisan Ulama
Hari Santri 2026: Refleksi Pengabdian Menuju Indonesia Emas
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:01 WIB

Makna Jihad Santri Era Modern: Dari Perang Fisik ke Intelektual

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:55 WIB

Khutbah Jumat Cinta Tanah Air: Napas Perjuangan Santri Mengawal Negeri

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:38 WIB

Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:08 WIB

Khutbah Jumat: Ajakan Solidaritas Warga Hadapi Karhutla

Berita Terbaru

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:38 WIB

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:33 WIB

Pusat Studi Al-Qur'an menggelar diskusi keagamaan memperingati Hari Santri 2026 di Tangerang Selatan.(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Nilai Pesantren Jadi Kompas Hadapi Era AI

Kamis, 22 Okt 2026 - 14:57 WIB