Jakarta, dorlanhikmah.com – Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah menegaskan prinsip memahami nas agama secara konsisten melalui penghormatan tinggi terhadap Al-Quran dan Sunnah. Bahkan, beliau menempatkan wahyu di atas seluruh logika maupun pandangan pribadi tanpa ruang untuk menolak.
Sebab, hukum Al-Quran dan Sunnah mengikat umat Islam secara penuh sebagai landasan pokok aqidah. Oleh sebab itu, beliau menolak tegas setiap pemikiran yang mencoba melangkahi ketetapan nas tersebut.
Bahkan, jika muncul pandangan pribadinya yang terbukti menyelisihi wahyu, beliau meminta masyarakat segera membuang pendapatnya. Maka, beliau menyampaikan pesan tegas ini dalam pernyataannya:
إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا قولي
“Jika kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka ambillah Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tinggalkan pendapatku.” (Lihat: Manaqib Asy-Syafi’iy li Al-Baihaqiy: 1/472; dan Al–Majmu‘ Syarh Al-Muhadzzab li An–Nawawiy: 1/63).
Kaidah Memahami Makna Zhahir Tanpa Takwil
Selain memperjuangkan kedudukan wahyu, beliau merumuskan metodologi penting dalam menafsirkan teks-teks keagamaan. Karenanya, beliau mewajibkan setiap muslim memahami teks Al-Quran sesuai makna zhahir tanpa mengalihkannya secara sepihak.
Namun, pengalihan makna hanya boleh berlangsung apabila dalil lain memalingkan pemahaman tekstual tersebut. Sebab, beliau mencantumkan penegasan ini dalam kitab Ar-Risalah:
والقرآن على ظاهره، حتى تأتي دلالة منه أو سنة أو إجماع بأنه على باطن دون ظاهر
“Al-Quran (dipahami) sesuai makna zhahir–nya, sampai ada dilalah (dalil lain) dari Al-Quran atau Sunnah atau ijmak yang menunjukkan bahwa bahwa dilalah dipahami secara batin dan bukan secara zhahir.“ (Lihat: Ar-Risalah, hal. 435).
Selanjutnya, ketentuan serupa berlaku penuh pada pembacaan hadis-hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka, saat menjelaskan larangan salat setelah Asar dan Subuh, beliau menegaskan kembali prinsip tersebut:
وهكذا غير هذا من حديث رسول الله، هو على الظاهر من العام حتى تأتي الدلالة عنه كما وصفت، أو بإجماع المسلمين: أنه على باطن دون ظاهر، وخاص دون عام
“Demikianlah sikap terhadap hadis ini ataupun hadis Rasulullah yang lainnya, yakni (dipahami) sesuai makna zhahir–nya dan berlaku umum hingga terdapat dilalah (dalil lain) dari hadis tersebut sebagaimana Aku sebutkan, atau ada ijmak kaum muslimin bahwa hadis tersebut berlaku padanya makna batin dan bukan makna zhahir, atau khusus dan bukan umum.“ (Lihat: Ar-Risalah, hal. 278 ).
Oleh karena itu, dua penegasan di atas membuktikan kewajiban menerima makna tekstual nas apa adanya. Dengan demikian, beliau membatasi pengalihan makna hanya melalui tiga rujukan, yaitu Al-Quran, Sunnah, atau ijmak.
Bahkan, pembatasan ini menolak pemalingan makna yang bersandarkan logika semata, perasaan, ataupun tradisi lokal. Sebab, tanpa batas yang jelas, peran nas sebagai penjelasan (bayan) akan kabur dan membingungkan pembaca.
Sementara itu, makna zhahir sendiri merupakan arti langsung yang terbetik dalam pikiran penutur bahasa Arab. Maka dari itu, pemahaman ini sangat bergantung pada konteks kalimat, susunan kata, serta objek pembahasan.
Keutamaan Bahasa Arab dalam Memahami Wahyu
Selanjutnya, dalam pembahasan kewajiban belajar bahasa Arab, beliau menerangkan karakteristik mendalam dari gaya bahasa Al-Quran. Karenanya, beliau menguraikan keunikan penyampaian risalah tersebut:
فإنما خاطب الله بكتابه العرب بلسانها، على ما تعرف من معانيها، وكان مما تعرف من معانيها: اتساع لسانها، وأن فطرته أن يخاطب بالشيء منه عاما، ظاهرا، يراد به العام، الظاهر، ويستغنى بأول هذا منه عن آخره. وعاما ظاهرا يراد به العام، ويدخله الخاص، فيستدل على هذا ببعض ما خوطب به فيه؛ وعاما ظاهرا، يراد به الخاص. وظاهرا يعرف في سياقه أنه يراد به غير ظاهره. فكل هذا موجود علمه في أول الكلام، أو وسطه، أو آخره
“Allah menyampaikan khitab-nya dengan Kitab-Nya kepada orang Arab dengan bahasa mereka, sesuai yang meraka pahami dari makna-maknanya. Dan di antara yang dipahami dari maknanya adalah luasnya cakupan bahasanya. Dan bahwa fitrah orang Arab mengemukaan sesuatu dengan ungkapan umum dan zhahir dengan maksud umum dan zhahir, uslub ini jelas dimaksudkan dari awal pembicaraan hingga akhir. Adakala ungkapan umum dan zhahir dimaksudkan untuk ungkapan umum tetapi inklud di dalamnya hal yang bersifat khusus. Uslub ini diketahui melalui indikasi sebagian dari konteks yang di bicarakan di dalamnya. Kadang juga ungkapan umum dan zhahir di maksudkan untuk hal yang bersifat khusus. Kadang kala ada ungkapan zhahir tetapi di pahami dari konteksnya bahwa yang di maksud bukan zhahir–nya. Semua hal tersebut ada ilmunya di awal, pertengahan atau pun di akhir teks pembicaraan.“ (Lihat: Ar-Risalah, hal 112-113).
Selain itu, beliau mencantumkan berbagai contoh penerapan metode ini dalam beberapa bab kitab Ar-Risalah. Dengan demikian, seluruh uraian tersebut menekankan pentingnya interaksi yang benar terhadap nas wahyu Ilahi.
Sebab, pemahaman mendalam terhadap bahasa Arab menjadi kunci utama untuk menangkap makna teks secara akurat. Oleh karena itu, beliau mewajibkan setiap muslim mempelajari bahasa Arab sebagaimana beliau mewajibkan pelajaran salat dan bacaan zikir. (Lihat, Ar-Risalah, hal. 110-111).(ust)










Komentar