Tiga Kebiasaan Malam Imam Syafi’i yang Mengejutkan

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 24 Juni 2026 - 01:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kebiasaan Imam Syafi'i pada malam hari.( poto: istimewa )

Ilustrasi kebiasaan Imam Syafi'i pada malam hari.( poto: istimewa )

Jakarta, dorlanhikmah.com – Kisah Imam Syafii tiga kebiasaan malam selalu menarik perhatian umat Islam karena memperlihatkan sisi lain dari seorang ulama besar.

Dalam catatan kisah ini, Kisah Imam Syafii pada malam hari menunjukkan bahwa tindakan seseorang tidak bisa dinilai dari tampilan luar saja, melainkan harus dipahami secara menyeluruh berdasarkan konteks dan ilmu.

Imam Syafi’i dikenal sebagai pendiri mazhab besar yang diikuti jutaan muslim di dunia. Namun, banyak orang sering hanya melihat sosoknya dari satu sisi. Kisah ini membuka pandangan baru tentang adab, ibadah, dan cara beliau menjalani malam yang penuh aktivitas ilmiah dan spiritual.

Latar Belakang Ulama Besar Imam Syafi’i

Imam Syafi’i atau Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i tumbuh sebagai ulama yang menguasai fikih, hadis, dan bahasa Arab. Ia dikenal sangat cerdas sejak muda dan menghabiskan hidupnya untuk menuntut ilmu.

Ia tidak hanya berfokus pada ibadah ritual, tetapi juga mengembangkan pemikiran hukum Islam yang sistematis. Mazhab Syafi’i kemudian menjadi salah satu mazhab terbesar dalam Islam.

Dalam perjalanan hidupnya, ia sering bertemu dengan ulama besar lain seperti Imam Ahmad bin Hanbal. Pertemuan mereka selalu melahirkan diskusi ilmu dan adab yang mendalam.

Kunjungan ke Rumah Imam Ahmad bin Hanbal

Suatu hari, Imam Syafi’i mengunjungi rumah Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad menyambutnya dengan penuh hormat sebagai seorang guru dan sahabat dalam ilmu.

Setelah makan malam bersama, Imam Syafi’i beristirahat di kamar tamu yang telah disiapkan. Suasana malam berjalan tenang tanpa percakapan panjang.

Imam Syafi’i memilih untuk tidak banyak berbicara dan langsung beristirahat. Ia menjalani malam tersebut dengan cara yang tidak dipahami oleh semua orang di rumah itu.

Pengamatan Putri Imam Ahmad

Keesokan harinya, putri Imam Ahmad bin Hanbal mulai menceritakan pengamatannya kepada ayahnya. Ia merasa penasaran dengan sosok tamu yang terkenal itu.

Ia berkata,
“Ayah, apakah orang itu benar Imam Syafi’i yang sering Ayah ceritakan?”

Imam Ahmad menjawab singkat,
“Iya, dia Imam Syafi’i.”

Baca Juga :  Mengapa Utsman bin Affan Terbunuh? Awal Krisis Politik Islam

Putri itu kemudian menyampaikan tiga hal yang ia lihat selama malam berlangsung.

Ia mengatakan bahwa Imam Syafi’i makan cukup banyak. Ia juga melihat Imam Syafi’i tidak melakukan shalat malam. Selain itu, ia melihat Imam Syafi’i ikut shalat Subuh berjamaah tanpa berwudhu ulang.

Pengamatan itu membuatnya bingung karena ia membandingkan tindakan itu dengan gambaran seorang ulama besar yang ia dengar sebelumnya.

Klarifikasi Imam Syafi’i dengan Tenang

Imam Ahmad kemudian menanyakan langsung kepada Imam Syafi’i tentang tiga hal tersebut. Imam Syafi’i menjawab dengan tenang tanpa menunjukkan keberatan.

1. Penjelasan tentang makanan

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa ia makan banyak karena ia memahami sumber makanan tersebut berasal dari harta yang halal dan orang yang dermawan.

Ia menyampaikan sebuah ungkapan:

طَعَامُ الْكَرِيمِ دَوَاءٌ وَطَعَامُ الْبَخِيلِ دَاءٌ

Makanan dari orang dermawan adalah obat, sedangkan makanan dari orang bakhil adalah penyakit.

Ia menegaskan bahwa ia tidak makan untuk berlebihan, tetapi untuk mengambil keberkahan dari rezeki yang halal.

2. Penjelasan tentang shalat malam

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa ia tidak melaksanakan shalat malam karena malam itu ia gunakan untuk merenungi dan mengkaji banyak persoalan fikih.

Ia merasa mendapatkan ilham untuk menyelesaikan sekitar 72 masalah hukum Islam yang ia harapkan bermanfaat bagi umat.

Ia menghabiskan waktu dengan berpikir, menulis, dan menyusun ilmu hingga waktu malam berlalu tanpa ia sadari.

3. Penjelasan tentang shalat Subuh

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa ia tidak tidur sepanjang malam. Karena itu, wudunya masih dalam keadaan sah.

Ia kemudian melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama mereka tanpa perlu memperbarui wudhu.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa ia menjalani malam dalam keadaan sadar penuh untuk ibadah dan ilmu sekaligus.

Hikmah Adab dan Ilmu dalam Islam

Kisah ini mengajarkan bahwa seseorang tidak bisa menilai ulama hanya dari pengamatan singkat. Banyak hal yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa.

Baca Juga :  Hawazin Pilih Masuk Islam Setelah Perang Hunain(Bag.3)

Imam Syafi’i menunjukkan bahwa ilmu dan ibadah bisa berjalan bersamaan dalam bentuk yang berbeda. Ia tidak selalu menampakkan ibadah malam secara lahiriah, tetapi ia mengisi malam dengan aktivitas intelektual yang bernilai ibadah.

Dalam tradisi Islam, ilmu memiliki kedudukan tinggi. Banyak ulama menegaskan bahwa mencari ilmu juga termasuk ibadah jika diniatkan karena Allah.

Pandangan Ulama Klasik tentang Ilmu dan Waktu

Dalam literatur adab Islam klasik, banyak ulama menekankan pentingnya keseimbangan antara ibadah dan ilmu.

Imam Syafi’i sendiri pernah menulis syair terkenal:

“Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku
Maka ia menasihatiku untuk meninggalkan maksiat
Ia berkata: ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat”

Syair ini sering dikaitkan dengan pentingnya menjaga hati, waktu, dan amal agar ilmu tetap berkah.

Para ulama juga menegaskan bahwa sebagian orang bisa lebih banyak beribadah dengan shalat, sementara yang lain beribadah dengan mengajarkan ilmu. Keduanya bernilai jika dilakukan dengan ikhlas.

Pelajaran dari Kisah Imam Syafi’i

Kisah ini memberikan beberapa pelajaran penting bagi umat Islam.

Pertama, manusia tidak boleh terburu-buru menilai orang lain dari satu sisi saja. Kedua, setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengisi waktu malamnya.

Ketiga, ilmu dan ibadah memiliki ruang yang saling melengkapi. Imam Syafi’i menunjukkan bahwa malam bisa diisi dengan kajian mendalam yang bermanfaat untuk umat.

Keempat, adab dalam menerima tamu dan memahami keadaan orang lain sangat penting dalam kehidupan sosial Islam.

Relevansi Kisah di Masa Kini

Di era modern, kisah ini tetap relevan. Banyak orang menilai aktivitas keagamaan hanya dari bentuk luar, seperti lamanya shalat atau banyaknya ibadah yang terlihat.

Padahal, sebagian orang mungkin menghabiskan waktu untuk belajar, menulis, atau mengembangkan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kisah Imam Syafi’i mengingatkan bahwa nilai ibadah tidak selalu tampak secara kasat mata. Niat, konteks, dan manfaat juga menjadi bagian penting dalam penilaian amal.(ust)

Berita Terkait

Kedudukan Perempuan Sebelum Islam dan Perubahan Besar yang Dibawa Islam
Kriminalisasi Kritik dalam Sejarah Islam dan Keteguhan Imam Ahmad
Raja Najasyi Wariskan Teladan Tauhid dan Toleransi di Habasyah
Kisah Sahabat Nabi Menegur Penguasa, Pesan tentang Pemimpin Adil
Rahasia Nama Bulan Hijriah: Budaya Arab Pra-Islam
Filosofi Kepemimpinan Nabi Sulaiman: Kekuasaan dan Keadilan
Biografi Ibnu Sina: Jejak Ilmuwan Muslim yang Mengubah Sejarah Kedokteran Dunia
Terbunuhnya Utsman bin Affan dan Krisis Politik Islam Awal
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 03:00 WIB

Kedudukan Perempuan Sebelum Islam dan Perubahan Besar yang Dibawa Islam

Jumat, 10 Juli 2026 - 23:00 WIB

Raja Najasyi Wariskan Teladan Tauhid dan Toleransi di Habasyah

Jumat, 10 Juli 2026 - 21:00 WIB

Kisah Sahabat Nabi Menegur Penguasa, Pesan tentang Pemimpin Adil

Kamis, 9 Juli 2026 - 01:00 WIB

Rahasia Nama Bulan Hijriah: Budaya Arab Pra-Islam

Rabu, 8 Juli 2026 - 23:00 WIB

Filosofi Kepemimpinan Nabi Sulaiman: Kekuasaan dan Keadilan

Berita Terbaru

Apakah telur harus di cuci dulu sebelumdi ebus,simak penjelasannya.( poto: nuonline).

Fiqih

Kajian Fiqih, Perlukah Mencuci Telur Sebelum Dimasak?

Sabtu, 11 Jul 2026 - 05:00 WIB