Wahai Jiwa, Jangan Kembali ke Maksiat dan Jaga Taubat

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 9 Juni 2026 - 16:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nasihat ulama tentang bahaya kembali ke maksiat setelah taat( poto : chatGPT)

Nasihat ulama tentang bahaya kembali ke maksiat setelah taat( poto : chatGPT)

Jakarta, dorlanhikmah.com – Bahaya kembali kepada maksiat menjadi peringatan penting bagi setiap Muslim yang telah merasakan manisnya iman dan ketaatan.

Ketika seseorang sudah keluar dari kegelapan dosa menuju cahaya ibadah, lalu kembali lagi kepada keburukan, maka ia sedang merusak perjalanan spiritualnya sendiri.

Nasihat para ulama menegaskan bahwa bahaya kembali kepada maksiat jauh lebih berat dibandingkan dosa yang dilakukan sebelum taubat.

Jiwa yang sudah mengenal kebaikan tetapi kembali jatuh ke dalam dosa akan kehilangan kehormatan yang telah ia bangun.

Artikel ini mengajak setiap jiwa untuk menjaga istiqamah, memperkuat taubat, dan tidak kembali terjerumus setelah mendapatkan hidayah dari Allah ﷻ.

Jiwa manusia selalu berada dalam pertarungan antara kebaikan dan keburukan. Ia dapat naik menuju derajat ketakwaan, tetapi juga bisa turun ke lembah kehinaan jika tidak dijaga.

Godaan dunia bekerja perlahan namun konsisten. Syahwat, kebiasaan lama, dan lingkungan dapat menarik seseorang kembali kepada dosa meskipun ia telah bertaubat.

Jika seseorang tidak memperkuat iman, ia akan mudah tergelincir kembali. Karena itu, menjaga diri dari lingkungan maksiat menjadi langkah penting dalam menjaga hati tetap hidup.

Ketaatan yang Harus Dijaga dengan Istiqamah

Ketaatan tidak cukup dilakukan sesaat. Ia membutuhkan kesinambungan dan penjagaan yang kuat. Seseorang yang sudah merasakan nikmatnya ibadah akan merasakan ketenangan, tetapi ketenangan itu bisa hilang jika ia kembali pada dosa.

Istiqamah menjadi kunci utama dalam perjalanan spiritual. Tanpa istiqamah, taubat hanya menjadi momen sementara yang tidak membentuk perubahan jangka panjang.

Para ulama selalu menekankan bahwa amal kecil yang konsisten lebih dicintai Allah dibanding amal besar yang terputus.

Nasihat Ibnu Rajab tentang Maksiat Setelah Taat

Ibnu Rajab rahimahullah memberikan peringatan keras tentang seseorang yang kembali kepada dosa setelah taubat dan ketaatan.

Beliau berkata dalam Lathaiful Ma’arif:

وما أقبَحَ السيئةَ بعدَ الحسنةِ تمحقُها وتعفُوها
Betapa buruknya keburukan yang dilakukan setelah kebaikan, karena ia dapat menghapusnya.

Beliau juga menegaskan:

ذنبٌ واحِدٌ بعدَ التوبة أقبَحُ مِن سبعين ذنبًا قبلَها
Satu dosa setelah taubat lebih buruk dari tujuh puluh dosa sebelumnya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa seseorang yang sudah mengenal Allah lalu kembali kepada dosa berada dalam posisi yang sangat berbahaya.

Baca Juga :  Memuliakan Tamu dalam Islam: Adab, Dalil, dan Teladan Akhlak

Bahaya Kembali ke Maksiat Lebih Berat dari Dosa Lama

Ketika seseorang belum mengenal kebaikan, dosa mungkin terjadi karena kebodohan atau kelalaian. Namun ketika ia sudah bertaubat dan merasakan manisnya iman, lalu kembali kepada dosa, maka ia melakukan pilihan sadar.

Di sinilah letak beratnya bahaya kembali kepada maksiat. Ia tidak lagi sekadar jatuh, tetapi juga berpaling setelah bangkit.

Ibnu Rajab menggambarkan hal ini seperti penyakit yang kambuh setelah sembuh. Kondisinya jauh lebih sulit dan lebih berbahaya.

Para ulama mengajarkan doa penting:

سلوا الله الثبات على الطاعات إلى الممات، وتعوَّذوا به من تقلّب القلوب
Mintalah keteguhan dalam ketaatan sampai wafat, dan berlindunglah dari perubahan hati.

Hati manusia sangat mudah berubah. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh merasa aman dari fitnah maksiat meskipun ia sudah lama beribadah.

Ia harus selalu memohon agar Allah menjaga hatinya tetap lurus di atas agama-Nya.

Allah Membuka Pintu Taubat Tanpa Henti

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيئُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Allah membuka tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat salah di siang hari…”

Hadis ini menunjukkan luasnya rahmat Allah ﷻ. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama seseorang kembali dengan sungguh-sungguh.

Allah tidak pernah menutup pintu taubat hingga akhir zaman. Justru Dia selalu menunggu hamba-Nya kembali.

Islam tidak mempersulit proses taubat. Seseorang tidak perlu perantara, ritual rumit, atau syarat berat untuk kembali kepada Allah.

Baca Juga :  Mukmin Seperti Tanaman yang Lentur dalam Dinamika Kehidupan

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ
Tidaklah seorang hamba berbuat dosa lalu berwudhu dengan baik, shalat dua rakaat, lalu memohon ampun kecuali Allah mengampuninya.

Hadis ini menunjukkan bahwa Allah membuka jalan yang sangat mudah bagi hamba yang ingin kembali.

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 135:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ…
“Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji, mereka segera mengingat Allah lalu memohon ampun…”

Ayat ini menegaskan bahwa orang bertakwa tidak menunda taubat. Mereka langsung berhenti ketika sadar.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mereka tidak terus-menerus dalam dosa. Jika mereka terjatuh lagi, mereka segera kembali bertaubat.

Tiga Tingkatan Orang yang Bertaubat

Para ulama menjelaskan tiga tingkat taubat:

Pertama, seseorang langsung berhenti saat sadar dari dosa. Ini tingkatan tertinggi.

Kedua, ia berhenti setelah dosa dilakukan dan tidak mengulanginya.

Ketiga, jika ia terjatuh lagi, ia segera kembali bertaubat tanpa terus menerus dalam dosa.

Tingkatan ini menunjukkan bahwa manusia tidak sempurna, tetapi Allah membuka jalan perbaikan tanpa henti.

Ibnu Rajab rahimahullah memberikan analogi yang sangat dalam. Ia menggambarkan maksiat seperti susu yang diminum oleh anak kecil.

Beliau berkata:

لا تَرجِعُوا إلى ارتضاع ثَدْي الهَوَى من بعد الفطام
Jangan kembali menyusu kepada hawa nafsu setelah disapih.

Seorang yang telah bertaubat seharusnya tidak kembali kepada kenikmatan dosa yang pernah ia tinggalkan.

Proses meninggalkan maksiat memang terasa pahit di awal, tetapi jika ia bersabar, Allah akan menggantinya dengan manisnya iman.

Seorang mukmin sejati tidak menjadikan dosa sebagai tempat kembali. Ia menjadikan taubat sebagai jalan hidup.

Setiap kali ia tergelincir, ia segera bangkit tanpa menunda.

Ia tidak membiarkan dirinya terjebak dalam siklus dosa yang terus berulang tanpa perbaikan.(ust)

Berita Terkait

Menunda Pernikahan Gen Z: Pandangan Islam dan Realitas Ekonomi
8 Amalan yang Mengundang Doa Para Malaikat
Bergembira dengan Al-Qur’an, Karunia yang Tak Tertandingi
Politisasi Al-Qur’an dalam Politik: Sejarah, Tafsir, dan Kritik Ulama
Cara Selamat dari Fitnah Dajjal Menurut Nabi
Kesibukan Muslim: Menata Prioritas Hidup Sesuai Tuntunan Islam
Mengenal Nama Allah Al-Ghafuur: Makna, Dalil, dan Dampaknya
Keutamaan Nabi dan Rasul dalam Islam Menurut Dalil
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:54 WIB

Menunda Pernikahan Gen Z: Pandangan Islam dan Realitas Ekonomi

Rabu, 10 Juni 2026 - 07:00 WIB

8 Amalan yang Mengundang Doa Para Malaikat

Rabu, 10 Juni 2026 - 05:22 WIB

Bergembira dengan Al-Qur’an, Karunia yang Tak Tertandingi

Selasa, 9 Juni 2026 - 16:47 WIB

Wahai Jiwa, Jangan Kembali ke Maksiat dan Jaga Taubat

Senin, 8 Juni 2026 - 15:00 WIB

Politisasi Al-Qur’an dalam Politik: Sejarah, Tafsir, dan Kritik Ulama

Berita Terbaru

Metode berpikir logis untuk membangun kesimpulan yang benar di tengah derasnya opini media sosial menurut Imam Al-gazali( ilustrasi poto : surau.co )

Sejarah

Tiga Metode Berpikir Imam Al-Ghazali di Era Media Sosial

Rabu, 10 Jun 2026 - 11:00 WIB

Asal usul Bulan Hijriyah( poto : madaninews.id )

Sejarah

Asal Usul Nama Bulan Hijriah dari Tradisi Arab Kuno

Rabu, 10 Jun 2026 - 09:00 WIB

Delapan amalan yang mengundang do'a para Malaikat( poto :chatGPT ).

Al-Qur'an

8 Amalan yang Mengundang Doa Para Malaikat

Rabu, 10 Jun 2026 - 07:00 WIB

Al-Qur'an( poto : islami.co )

Al-Qur'an

Bergembira dengan Al-Qur’an, Karunia yang Tak Tertandingi

Rabu, 10 Jun 2026 - 05:22 WIB