Jakarta, dorlanhikmah.com – Kesibukan muslim bernilai amal menjadi ukuran penting dalam kehidupan seorang muslim. Setiap manusia memang menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi Islam menegaskan bahwa tidak semua kesibukan memiliki nilai di sisi Allah Ta’ala.
Seorang muslim harus mengarahkan setiap aktivitasnya agar bernilai ibadah dan membawa kebaikan untuk akhirat.
Seorang muslim tidak boleh membiarkan dirinya hanya sibuk tanpa tujuan. Ia harus mengelola waktu, tenaga, dan pikiran dengan kesadaran bahwa kehidupan dunia adalah ujian. Karena itu, setiap aktivitas harus diarahkan kepada hal yang diridai Allah.
Tujuan Hidup dalam Pandangan Islam
Allah Ta’ala menjelaskan tujuan penciptaan hidup dalam firman-Nya:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ
“Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menilai banyaknya amal, tetapi kualitasnya. Oleh karena itu, seorang muslim harus berusaha menjadikan setiap kesibukan sebagai bagian dari amal terbaik.
Allah tidak memerintahkan manusia sekadar untuk beraktivitas, tetapi untuk memilih aktivitas yang paling benar, paling ikhlas, dan paling sesuai dengan tuntunan-Nya.
Ikhlas dan Sunnah sebagai Dasar Amal
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan makna ahsanu ‘amalan:
أحسن عملا: أخلصه وأصوبه. العمل لا يقبل حتى يكون خالصًا صوابًا الخالص: إذا كان لله والصواب: إذا كان على السنة
“Amal terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Suatu amal tidak di terima sampai ia ikhlas dan sesuai sunnah.”
Penjelasan ini menegaskan bahwa kesibukan seorang muslim harus berdiri di atas dua pondasi utama: ikhlas karena Allah dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Tanpa dua hal ini, aktivitas apa pun tidak memiliki nilai ibadah yang sempurna.
Menata Prioritas dalam Kehidupan Sehari-hari
Islam memberikan aturan jelas tentang prioritas hidup. Seorang muslim wajib mendahulukan kewajiban sebelum sunnah, serta mengutamakan yang utama sebelum yang tambahan.
Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:
مَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ…
“Tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya…” (HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa amal wajib memiliki kedudukan tertinggi. Amal sunnah hanya menjadi pelengkap setelah kewajiban di laksanakan dengan baik.
Bahaya Kesibukan yang Salah Arah
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan:
أن النافلة لا تقدم على الفريضة… من شغله النفل عن الفرض فهو مغرور
“Amal sunnah tidak boleh didahulukan di atas amal wajib. Siapa yang sibuk dengan sunnah hingga melalaikan wajib, maka ia telah tertipu.”
Banyak orang terlihat sibuk berbuat kebaikan, tetapi justru meninggalkan kewajiban utama. Ada yang sibuk bekerja, tetapi lalai dari salat. Ada pula yang aktif dalam berbagai kegiatan, tetapi mengabaikan tanggung jawab keluarga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kesibukan tanpa prioritas dapat menyesatkan seseorang tanpa ia sadari.
Cerdas dalam Mengelola Waktu
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ…
“Orang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa kecerdasan sejati bukan diukur dari banyaknya aktivitas dunia, tetapi dari kemampuan seseorang mengarahkan dirinya menuju akhirat.
Seorang muslim yang cerdas akan selalu mengevaluasi kesibukannya. Ia akan bertanya apakah aktivitasnya mendekatkan dirinya kepada Allah atau justru menjauhkannya.
Seorang muslim perlu terus mengoreksi dirinya dalam setiap kesibukan yang dijalani. Ia harus memastikan bahwa setiap langkahnya membawa manfaat spiritual.
Ia harus bertanya dengan jujur kepada dirinya sendiri: apakah aktivitas ini bernilai ibadah atau hanya rutinitas duniawi semata. Dengan cara ini, ia dapat menjaga agar hidupnya tetap berada di jalur yang benar.
Kesibukan yang Tidak Bernilai
Tidak semua kesibukan membawa kebaikan. Sebagian kesibukan justru menghabiskan waktu tanpa manfaat yang jelas bagi akhirat.
Kesibukan yang tidak di sertai niat yang benar dan tidak mengikuti tuntunan syariat hanya akan melelahkan. Ia tampak produktif di dunia, tetapi kosong di sisi Allah.
Seorang muslim harus selalu menjaga arah hidupnya agar tetap sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Ia tidak boleh terjebak dalam kesibukan yang melalaikan kewajiban.
Dengan menjaga prioritas, seorang muslim akan mampu menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Ia tetap bekerja, berusaha, dan beraktivitas, tetapi tidak melupakan tujuan utama kehidupannya.(ust)








Komentar