Jakarta, dorlanhikmah.com – Indonesia berdiri sebagai negara kepulauan yang terletak di garis khatulistiwa. Wilayah ini memiliki kondisi geografis yang kompleks, sehingga bencana alam Al-Qur’an sering menjadi bahan refleksi ketika masyarakat menghadapi berbagai musibah yang datang silih berganti.
Selain itu, Indonesia memiliki banyak gunung berapi aktif dan berada di wilayah beriklim tropis. Kondisi tersebut meningkatkan potensi bencana seperti banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, hingga letusan gunung api. Dalam beberapa waktu terakhir, wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara juga kembali terdampak bencana yang menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat.
Lebih jauh lagi, selain faktor alam, penulis menegaskan bahwa ulah manusia seperti deforestasi dan kerusakan lingkungan ikut memperparah dampak bencana yang terjadi.
Dengan demikian, realitas tersebut mengingatkan bahwa bencana tidak hanya terjadi secara alamiah, tetapi juga berkaitan dengan perilaku manusia. Karena itu, Al-Qur’an menghadirkan kisah-kisah bencana sebagai bahan perenungan yang mendalam.
Bencana Alam dalam Perspektif Al-Qur’an
Di dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah SWT tidak hanya menceritakan sejarah umat terdahulu, tetapi juga menampilkan rangkaian peristiwa bencana sebagai bentuk peringatan moral dan spiritual.
Selanjutnya, Al-Qur’an menghubungkan berbagai bencana tersebut dengan sikap manusia terhadap risalah para nabi. Oleh karena itu, setiap kisah selalu mengandung pesan agar manusia kembali kepada kebenaran.
Berikut ini enam bencana alam yang Al-Qur’an sebutkan secara eksplisit beserta penjelasan ulama klasik.
1. Banjir pada Zaman Nabi Nuh AS
Pertama, Al-Qur’an mencatat banjir besar yang terjadi pada masa Nabi Nuh AS. Banjir ini muncul setelah kaumnya menolak ajaran tauhid dan terus mempertahankan kekufuran.
Karena itu, Allah memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membuat kapal besar. Melalui kapal tersebut, beliau menyelamatkan orang-orang beriman beserta sebagian makhluk hidup.
Peristiwa ini Allah abadikan dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 40:
حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَ اَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّوْرُۙ قُلْنَا احْمِلْ فِيْهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَاَهْلَكَ اِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ اٰمَنَ ۗوَمَآ اٰمَنَ مَعَهٗٓ اِلَّا قَلِيْلٌ
Artinya:
“(Demikianlah,) hingga apabila perintah Kami datang (untuk membinasakan mereka) dan tanur (tungku) yang telah memancarkan air, Kami berfirman, “Muatkanlah ke dalamnya (bahtera itu) dari masing-masing (jenis hewan) sepasang-sepasang (jantan dan betina), keluargamu kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu (akan ditenggelamkan), dan (muatkan pula) orang yang beriman.” Ternyata tidak beriman bersamanya (Nuh), kecuali hanya sedikit.
Selanjutnya, Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa air tidak hanya berasal dari satu sumber, tetapi muncul dari berbagai titik bumi dan langit.
ليس المراد من التنور تنور الخبز، وعلى هذا التقدير ففيه اقوال: الاول: انه انفجر الماء من وجه الارض كما قال: ففتحنا ابواب السماء بماء منهمر وفجرنا الارض عيونا فالتقى الماء على امر قد قدر
Artinya:
“Bukan yang dimaksud dari kata tannur adalah tungku roti. Berdasarkan penafsiran ini terdapat beberapa pendapat. Pendapat pertama: bahwa air memancar dari permukaan bumi, sebagaimana firman-Nya: “Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah, dan Kami pancarkan bumi dengan mata-mata air, lalu bertemulah kedua air itu menurut ketentuan yang telah ditetapkan.” (Imam Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut: Darul Ihya at-Turats, 1420H] jilid 17, hal. 346).
2. Gempa Bumi pada Zaman Nabi Musa AS
Kedua, Al-Qur’an menyebut gempa bumi yang menimpa kaum Nabi Musa AS. Peristiwa ini terjadi ketika mereka menyembah patung anak sapi dan meninggalkan tauhid.
Akibatnya, Allah menurunkan guncangan keras sebagai bentuk teguran. Peristiwa ini tercatat dalam Al-A’raf ayat 155.
وَاخْتَارَ مُوْسٰى قَوْمَهٗ سَبْعِيْنَ رَجُلًا لِّمِيْقَاتِنَا ۚفَلَمَّآ اَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ اَهْلَكْتَهُمْ مِّنْ قَبْلُ وَاِيَّايَۗ اَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاۤءُ مِنَّاۚ اِنْ هِيَ اِلَّا فِتْنَتُكَۗ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاۤءُ وَتَهْدِيْ مَنْ تَشَاۤءُۗ اَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الْغٰفِرِيْنَ
Artinya:
“Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Ketika mereka ditimpa guncangan, Musa berkata, “Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? (Penyembahan terhadap patung anak sapi) itu hanyalah cobaan dari-Mu. Engkau menyesatkan siapa yang Engkau kehendaki dengan cobaan itu dan Engkau memberi petunjuk siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Pelindung kami. Maka, ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah sebaik-baik pemberi ampun.”
Kemudian, Abu Laits As-Samarqandi menegaskan bahwa guncangan tersebut menyebabkan kehancuran besar.
(فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ) يعني الزلزلة، تزلزل الجبل بهم فماتوا
Artinya:
“(Tatkala mereka ditimpa guncangan) yakni gempa bumi, dengan gunung berguncang bersama mereka (umat nabi Musa), kemudian mereka semuanya tewas.” (As-Samarqandi, Bahrul Ulum, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2006] jilid 1, hal. 572)
3. Angin Topan pada Perang Khandaq
Ketiga, Al-Qur’an juga mencatat angin topan yang Allah kirimkan pada Perang Khandaq tahun ke-5 Hijriah. Angin ini menghantam pasukan musyrik dan melemahkan kekuatan mereka.
Selain itu, Allah juga mengirimkan bala tentara yang tidak terlihat oleh manusia. Hal ini Allah sebut dalam Al-Ahzab ayat 9.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَاۤءَتْكُمْ جُنُوْدٌ فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا وَّجُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًاۚ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara (malaikat) yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Selanjutnya, As-Sam’ani menggambarkan kehancuran yang terjadi pada pasukan tersebut.
وكانت الرّيح تقلع فساطيطهم، وتقلب قدورهم، وتسف التراب في وجوههم، وجالت خيلهم بَعْضًا فِي بعض؛ فانْهزموا ومروا، وكفى الله أمرهم.
Artinya:
“Angin itu mencabut tenda-tenda mereka, menumpahkan panci-panci mereka, menaburkan debu-debu ke wajah-wajah mereka dan membuat kuda-kuda mereka saling berlarian kacau balau. Mereka pun kalah dan pergi, dan Allah mencukupkan (bahaya) atas mereka.” (As-Sam’ani, Tafsirul Qur’an, [Riyadh: Darul Wathan, 1997] jilid 4, hal. 263)
4. Hujan Batu pada Kaum Nabi Luth AS
Keempat, Al-Qur’an mencatat hujan batu yang menghancurkan kaum Nabi Luth AS. Peristiwa ini terjadi karena mereka melakukan kemaksiatan dan menolak peringatan nabi.
Allah menggambarkan akhir mereka dalam surat Al-A’raf ayat 84.
وَاَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَّطَرًاۗ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِيْنَ ࣖ
Artinya:
“Kami hujani mereka dengan hujan (batu). Perhatikanlah, bagaimana kesudahan para pendurhaka.”
Kemudian, Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa hujan tersebut benar-benar berupa batu dari langit.
المرد أنه تعالى أمطر عليهم حجارة من السماء بدليل أنه تعالى قال في آية أخرى: وأمطرنا عليهم حجارة من سجيل
Artinya:
“Yang dimaksud adalah bahwa Allah Ta‘ala menurunkan hujan batu kepada mereka dari langit, berdasarkan dalil bahwa Allah Ta‘ala berfirman pada ayat lain: ‘Dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras (sijjil).” (Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut: Darul Ihya at-Turats, 1420H], jilid 14, hal. 312)
5. Paceklik pada Masa Fir’aun
Kelima, Al-Qur’an menyebut paceklik panjang yang menimpa Fir’aun dan kaumnya. Kekeringan itu berlangsung bertahun-tahun dan mengurangi hasil bumi mereka.
Allah mencatat peristiwa itu dalam Al-A’raf ayat 130.
وَلَقَدْ اَخَذْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِيْنَ وَنَقْصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
Artinya:
“Sungguh, Kami telah menghukum Fir‘aun dan kaumnya dengan (mendatangkan) kemarau panjang dan kekurangan buah-buahan agar mereka mengambil pelajaran.”
Selanjutnya, Al-Baghawi menjelaskan bahwa paceklik terjadi bertahun-tahun dan memengaruhi wilayah berbeda secara berbeda.
قوله تعالى: ولقد أخذنا آل فرْعوْن بالسنين، أي: بالجدب والْقحط. تقول الْعرب: مستهم السنة، أيْ: جدب السنة وشدة السنة. وقيل: أراد بالسنين الْقحط سنة بعد سنة، ونقص من الثمرات [بإتلاف] [5] الغلات بالآفات والعاهات. قال قتادة: أما السنين فلأهل الْبوادي، وأما نقص الثمرات فلأهل الْأمصار، لعلهم يذكرون، أي: يتعظون، وذلك لأن الشدّة ترفق الْقلوبَ وَترغّبها فيما عنْد الله عز وجل.
Artinya:
“Firman Allah Ta‘ala: ‘Dan sungguh, Kami telah menimpakan kepada keluarga Fir‘aun dengan beberapa tahun (yang penuh kesengsaraan… (dan seterusnya).” (Al-Baghawi, Ma’alimut Tanzil fii Tafsiril Qur’an, [Beirut: Darul Ihya’ at-Turats, 1420H] jilid 2, halaman 222)
6. Kabut Asap (Ad-Dukhan)
Keenam, Al-Qur’an menyebut kabut asap yang turun sebagai peringatan keras bagi manusia. Allah menegaskan hal itu dalam surat Ad-Dukhan ayat 10.
فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِى السَّمَاۤءُ بِدُخَانٍ مُّبِيْنٍ
Artinya:
“Maka, nantikanlah hari (ketika) langit mendatangkan kabut asap yang tampak jelas.”
Selain itu, Az-Zuhaili menjelaskan bahwa kabut ini pernah terjadi pada masa Quraisy dan juga akan muncul sebagai tanda akhir zaman.
(فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّماءُ بِدُخانٍ مُبِينٍ( هذا توعّد من الله وتهديد للمشركين، يقول الله فيه لنبيّه: فانتظر اليوم الذي تأتي فيه السماء بهيئة كالدّخان الواضح المنتشر في الفضاء، وهذا الدّخان بالنسبة للماضي هو ما أصاب قريشا من الجدب والقحط مدة سبع سنين، بدعاء النّبي صلى الله عليه وسلم، حتى كان الرجل يرى من شدّة الجوع ما بين السماء والأرض دخانا، لضعف البصر وزيغانه، كما تقدّم في بيان سبب النّزول عن ابن مسعود رضي الله عنه، أو هو غبار الحرب يوم بدر. وأما بالنسبة للمستقبل فهو أمارة وعلامة من أشراط الساعة، يمكث في الأرض أربعين يوما، حيث يظهر في الفضاء غبار ذري أو غيره كالدّخان، يجعل الجو مظلما، وهذا ما أكّده العلماء في نهاية العالم، حيث تضعف الطاقة الشمسية.
Artinya:
“Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang nyata… (hingga akhir kutipan).” (Az-Zuhaili, Tafsirul Munir, [Damaskus: Darul Fikr, 1991] jilid 25, hal. 212).(ust)









Komentar