Qushay bin Kilab: Pendiri Sistem Kepemimpinan Awal Makkah

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026 - 05:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Qushay bin Kilab( ilustrasi poto : NU online )

Qushay bin Kilab( ilustrasi poto : NU online )

Jakarta, dorlanhikmah.com – Qushay bin Kilab menjadi tokoh penting yang membentuk struktur awal kepemimpinan Quraisy sebelum datangnya Islam.

Ia memimpin perubahan besar dalam tata kelola kota suci dan berhasil menyatukan kekuatan suku-suku Arab di sekitar Ka’bah.

Dalam sejarah Islam, nama Qushay bin Kilab selalu muncul sebagai figur kunci yang menghubungkan garis keturunan Nabi Muhammad SAW dengan kepemimpinan Makkah pada masa pra-Islam.

Qushay bin Kilab lahir dari keluarga Quraisy yang memiliki garis keturunan mulia. Ia tumbuh dalam situasi sosial yang kompleks, di mana kekuasaan Makkah masih berada di bawah dominasi Bani Khuza’ah. Namun, perjalanan hidupnya membawanya menjadi pemimpin yang mengubah arah sejarah kota tersebut.

Asal Usul dan Masa Kecil Qushay

Qushay berasal dari keluarga Kilab bin Murrah. Ayahnya menikah dengan Fatimah binti Sa’d dari kabilah Azd yang dihormati di Jazirah Arab. Dari pernikahan itu lahirlah Qushay dan saudaranya Zuhrah.

Setelah ayahnya wafat, ibunya membawa Qushay ke wilayah Syam setelah menikah lagi dengan Rabi’ah bin Haram. Di wilayah itu, Qushay tumbuh jauh dari Makkah. Ia belajar kehidupan sosial masyarakat Arab luar dan membentuk karakter kepemimpinannya sejak kecil.

Ketika beranjak dewasa, Qushay memutuskan kembali ke Makkah. Keputusan ini menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupnya dan sejarah Quraisy.

Kembali ke Makkah dan Hubungan dengan Bani Khuza’ah

Saat kembali ke Makkah, Qushay berada di bawah perlindungan Hulail bin Hubsyiyyah dari Bani Khuza’ah. Pada masa itu, Bani Khuza’ah masih memegang kendali atas Ka’bah dan urusan haji.

Qushay kemudian menikah dengan putri Hulail yang bernama Hubba’. Pernikahan ini memperkuat posisinya dalam struktur sosial Makkah. Dari Hubba’, Qushay memperoleh beberapa anak yang kelak menjadi tokoh penting Quraisy, seperti ‘Abd Manaf dan ‘Abd ad-Dar.

Hubungan keluarga ini kemudian menjadi bagian penting dalam perebutan kekuasaan Makkah di masa berikutnya.

Awal Konflik Kepemimpinan Makkah

Setelah Hulail wafat, kekuasaan atas Ka’bah mulai diperdebatkan. Qushay melihat bahwa Quraisy memiliki hak lebih besar untuk memimpin Makkah karena mereka merupakan keturunan Nabi Ismail AS.

Baca Juga :  Tragedi Ar-Raji: Kisah Khubaib dan Keteguhan Iman Sahabat

Ia mengajak tokoh-tokoh Quraisy dan Bani Kinanah untuk mengambil alih kendali dari Bani Khuza’ah. Ajakan itu mendapatkan dukungan luas karena banyak pihak merasa kepemimpinan lama tidak lagi relevan.

Di sisi lain, Bani Khuza’ah menolak menyerahkan kekuasaan. Mereka tetap mempertahankan hak lama mereka atas Ka’bah dan urusan haji.

Strategi Politik dan Perebutan Ka’bah

Qushay tidak hanya menggunakan pendekatan sosial, tetapi juga strategi politik. Ia berusaha mengambil alih pengelolaan Ka’bah melalui Abu Ghubsyan al-Khuza’i.

Ia melakukan transaksi untuk mendapatkan hak pengelolaan Baitullah dengan imbalan unta dan minuman keras. Namun, langkah ini ditolak oleh Bani Khuza’ah yang menganggapnya tidak sah.

Penolakan tersebut memicu ketegangan besar. Qushay kemudian mengumpulkan dukungan militer dari Quraisy dan Bani Kinanah untuk menghadapi Bani Khuza’ah secara terbuka.

Perang dan Penyelesaian Konflik

Konflik antara kedua pihak berkembang menjadi peperangan. Pertempuran berlangsung sengit di sekitar Makkah dan menimbulkan banyak korban.

Untuk menghindari kehancuran lebih besar, kedua pihak sepakat menunjuk Ya’mar bin Auf sebagai penengah. Ia kemudian memutuskan bahwa Qushay berhak memimpin Makkah dan mengelola Ka’bah.

Keputusan itu memberikan legitimasi penuh kepada Qushay untuk memimpin kota suci tersebut. Sejak saat itu, Bani Khuza’ah kehilangan dominasi yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Penataan Kota Makkah oleh Qushay

Setelah menjadi pemimpin, Qushay langsung melakukan reformasi besar. Ia mengumpulkan kembali suku Quraisy yang tersebar dan menempatkan mereka di sekitar Ka’bah.

Ia membagi wilayah Makkah berdasarkan kelompok suku agar kehidupan sosial lebih teratur. Kebijakan ini memperkuat persatuan Quraisy dan menciptakan struktur kota yang lebih stabil.

Qushay juga menetapkan aturan kepemimpinan yang jelas agar tidak terjadi konflik internal di antara suku-suku Quraisy.

Pembangunan Dār an-Nadwah

Salah satu pencapaian terbesar Qushay adalah pembangunan Dār an-Nadwah. Ia membangun gedung ini di dekat Masjidil Haram sebagai pusat musyawarah Quraisy.

Baca Juga :  Kedudukan Perempuan Sebelum Islam dan Perubahan Besar yang Dibawa Islam

Di tempat ini, Qushay mengumpulkan para pemuka suku untuk membahas urusan politik, perdagangan, perang, dan masalah sosial. Dār an-Nadwah menjadi simbol awal sistem pemerintahan terpusat di Makkah.

Struktur ini memperlihatkan kemampuan Qushay dalam membangun sistem administrasi yang terorganisasi.

Kewenangan dan Sistem Kepemimpinan

Qushay memegang berbagai jabatan penting yang membentuk sistem pemerintahan Makkah. Ia mengatur banyak aspek kehidupan masyarakat Quraisy.

Ia memegang ḥijābah, yaitu penjagaan Ka’bah dan kunci pintunya. Ia juga mengatur siqāyah, yaitu penyediaan air untuk jamaah haji yang datang dari berbagai wilayah.

Selain itu, ia mengelola rifādah, yaitu pelayanan makanan bagi para tamu Allah selama musim haji. Ia juga mengatur liwā’, yaitu panji perang, serta qiyādah, yaitu kepemimpinan kafilah dagang Quraisy.

Sistem ini menunjukkan bahwa Qushay tidak hanya menjadi pemimpin suku, tetapi juga pembangun struktur pemerintahan yang kompleks.

Kutipan Sejarah Klasik

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menjelaskan bahwa Qushay berhasil menyatukan Quraisy dan mengatur Makkah secara sistematis sehingga kota tersebut menjadi pusat kehormatan Arab.

Ia juga menegaskan bahwa Qushay meletakkan dasar kepemimpinan yang kelak diwarisi oleh generasi Quraisy berikutnya hingga masa Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, Ibnu Ishaq dalam sirahnya menekankan bahwa Qushay memegang peranan penting dalam mengubah struktur sosial Makkah dari sistem suku yang terpecah menjadi satu kesatuan politik.

Akhir Kepemimpinan dan Suksesi

Menjelang akhir حياته, Qushay mulai mengatur suksesi kepemimpinan. Ia menyerahkan seluruh jabatan penting kepada putra sulungnya, ‘Abd ad-Dar.

Keputusan ini diambil untuk menjaga keseimbangan dalam keluarga besar Quraisy. Meskipun anak-anaknya yang lain memiliki pengaruh besar, Qushay tetap memilih memberikan otoritas penuh kepada putra tertuanya.

Langkah ini kemudian memicu dinamika baru dalam struktur kekuasaan Quraisy setelah wafatnya Qushay.(ust)

Berita Terkait

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri
Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan
Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara
Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa
Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga
Kisah Abdullah bin Abi Umayyah Meraih Hidayah
Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara
Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Kisah Nabi Ibrahim Menghormati Tamu Beda Agama yang Penuh Keteladanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:24 WIB

Kisah Umar bin Abdul Aziz Tolak Gratifikasi dan Fasilitas Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Kisah Keteguhan Ulama Besar Menghadapi Penjara Penguasa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Mukjizat Perang Tabuk: Berkah Makanan dan Kunci Surga

Berita Terbaru

Tim Kerukunan Umat Beragama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi mengawal langsung survei kerukunan umat beragama di Kabupaten Batang Hari.(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Kemenag Jambi Awasi Survei Kerukunan di Batang Hari

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:56 WIB

Kegiatan gelar wicara bertajuk “Akses Rumah Pertama bagi Pekerja Muda” dalam ajang Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).(poto: republika).

Berita Islam

Bank BSN Rilis KPR Tenor 40 Tahun untuk Pekerja Muda

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:39 WIB

Gus Nadir.(poto: istimewa).

Pendidikan

Santri Masa Kini Mesti Kuasai AI dan Keterampilan Digital

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:32 WIB

Ponpes THOHIR YASIN Lendang Nangka-Masbagik-Lombok Timur(poto: istimewa).

Sejarah

Menelusuri Jejak Sejarah Pesantren dan Makna Santri

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:17 WIB

Isim Isyarah.

Bahasa Arab

Panduan Lengkap Isim Isyarah: Jenis dan Contoh Kalimat

Jumat, 23 Okt 2026 - 12:56 WIB