Jakarta, dorlanhikmah.com – Tragedi Ar-Raji sahabat Nabi terjadi pada tahun ketiga Hijriah saat kondisi kaum Muslimin masih lemah setelah Perang Uhud. Dalam situasi itu, tragedi ar raji sahabat menjadi ujian besar yang menunjukkan keteguhan iman, kesabaran, dan pengorbanan para sahabat Rasulullah ﷺ dalam menjalankan misi dakwah.
Kaum musyrikin Quraisy terus berusaha menekan kekuatan Islam dari berbagai arah. Mereka tidak hanya menyerang secara militer, tetapi juga menggunakan tipu daya dan pengkhianatan untuk menjatuhkan kaum Muslimin.
Di tengah situasi itu, beberapa kabilah datang ke Madinah dan meminta guru agama untuk mengajarkan Islam.
Mereka mengaku telah mengenal Islam dan ingin memahami ajarannya lebih dalam. Rasulullah ﷺ kemudian merespons permintaan itu dengan mengirimkan para sahabat terbaik untuk menjalankan tugas dakwah.
Pengutusan Para Sahabat Mulia
Rasulullah ﷺ memilih sekelompok sahabat yang dikenal kuat iman dan akhlaknya. Beliau mengutus Martsad bin Abi Martsad, Khalid bin Bakir, Ashim bin Tsabit, Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsnah, dan Abdullah bin Thariq.
Rasulullah ﷺ menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin rombongan. Mereka berangkat dengan semangat dakwah tanpa membawa niat peperangan.
Ibn Ishaq dalam kitab sirah menyebut bahwa para sahabat ini berangkat dalam keadaan penuh tawakal. Mereka tidak mengharapkan dunia, tetapi hanya mengharapkan keridaan Allah.
Pengkhianatan yang Terencana
Perjalanan mereka menuju wilayah antara Usfan dan Makkah berjalan tanpa masalah pada awalnya. Namun tanpa mereka sadari, kabilah Bani Lihyan telah mengintai sejak awal.
Musuh menemukan jejak rombongan setelah melihat sisa kurma Madinah yang tertinggal di salah satu tempat singgah. Mereka langsung mengenali ciri khas makanan tersebut dan melacak arah perjalanan.
Sekitar seratus pemanah mengejar rombongan kecil itu hingga akhirnya mengepung mereka di sebuah tempat bernama Fadfad. Mereka mengepung dengan kekuatan penuh, sementara para sahabat hanya berjumlah sedikit.
Kaum musyrikin menawarkan jaminan keselamatan jika para sahabat menyerah tanpa perlawanan. Namun Ashim bin Tsabit menolak tawaran tersebut.
Ia menegaskan bahwa ia tidak akan menerima perlindungan dari orang musyrik. Ia memilih bertawakal kepada Allah daripada tunduk pada jaminan musuh.
Dalam riwayat Imam Bukhari, Ashim juga berdoa agar Allah menyampaikan kabar mereka kepada Rasulullah ﷺ. Doa itu menunjukkan keyakinan penuh bahwa Allah akan menjaga agama-Nya meskipun mereka gugur.
Pertempuran pun terjadi dalam kondisi yang sangat tidak seimbang. Para sahabat berjuang melawan pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya.
Mereka bertahan dengan keberanian luar biasa. Namun satu per satu sahabat gugur sebagai syuhada, termasuk Ashim bin Tsabit.
Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan kemuliaan para sahabat yang tetap teguh meskipun mengetahui kematian sudah dekat.
Penawanan Tiga Sahabat
Setelah pertempuran berakhir, tiga sahabat masih hidup namun dalam keadaan tertawan. Mereka adalah Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsnah, dan satu sahabat lain dalam sebagian riwayat.
Mereka diikat dan dibawa menuju Makkah sebagai tawanan perang. Namun perjalanan itu tidak berjalan dengan tenang karena tekanan dan perlakuan kasar terus mereka terima.
Dalam perjalanan, salah satu sahabat menolak berjalan dalam keadaan terikat dan terhina. Ia berusaha melepaskan diri dan menolak tunduk kepada musuh.
Kaum musyrikin akhirnya membunuhnya di tempat karena perlawanan tersebut. Peristiwa ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak menerima kehinaan dalam kondisi apa pun.
Khubaib bin Adi di Tangan Bani Harits
Khubaib bin Adi kemudian dibawa ke Makkah dan dijual kepada keluarga Bani Harits. Keluarga ini memiliki dendam lama karena Khubaib pernah membunuh salah satu anggota mereka dalam Perang Badar.
Sejak saat itu, Khubaib ditahan dan disiapkan untuk eksekusi. Namun dalam masa penahanan tersebut, akhlaknya justru menunjukkan ketenangan luar biasa.
Meski dalam keadaan terikat, Khubaib bin Adi tetap menunjukkan akhlak lembut dan penuh kasih sayang. Ia bahkan memperlakukan anak kecil dengan penuh perhatian ketika anak itu mendekatinya.
Sang ibu merasa ketakutan karena Khubaib memegang alat tajam. Namun Khubaib menenangkan mereka dengan ucapan lembut bahwa ia tidak akan menyakiti anak tersebut.
Sikap itu membuat keluarga penahannya terkejut. Mereka mengakui bahwa mereka belum pernah melihat tawanan dengan akhlak sebaik itu.
Dalam beberapa riwayat, Khubaib mendapatkan buah anggur segar di penjara Makkah. Padahal saat itu tidak ada anggur di kota tersebut, terlebih ia berada dalam keadaan terikat.
Peristiwa itu dipahami sebagai bentuk karunia Allah kepada hamba-Nya yang sabar dan bertawakal.
Permintaan Shalat Dua Rakaat
Hari eksekusi akhirnya tiba. Kaum Quraisy membawa Khubaib bin Adi ke tempat pembunuhan.
Sebelum dieksekusi, ia meminta izin untuk melaksanakan shalat dua rakaat. Setelah izin diberikan, ia melaksanakan shalat dengan sangat khusyuk.
Setelah selesai, ia berkata bahwa ia sengaja tidak memperpanjang shalatnya agar tidak disangka takut mati.
Syair Khubaib yang Menggetarkan
Menjelang kematiannya, Khubaib melantunkan syair penuh keteguhan iman. Teks Arabnya sebagai berikut:
وَلَسْتُ أُبَالِي حِينَ أُقْتَلُ مُسْلِمًا
عَلَى أَيِّ شِقٍّ كَانَ فِي اللَّهِ مَصْرَعِي
وَذَلِكَ فِي ذَاتِ الْإِلَهِ وَإِنْ يَشَأْ
يُبَارِكْ عَلَى أَوْصَالِ شِلْوٍ مُمَزَّعِ
Artinya:
“Aku tidak peduli dibunuh dalam keadaan Muslim, di sisi mana pun aku jatuh di jalan Allah. Jika Allah menghendaki, Dia akan memberkahi jasad yang hancur ini.”
Syair ini menjadi simbol keteguhan iman yang tidak goyah meskipun maut berada di depan mata.
Eksekusi Syahid Khubaib
Tidak lama setelah itu, Uqbah bin Harits mengeksekusi Khubaib bin Adi.
Ia gugur sebagai syahid dengan ketenangan luar biasa. Para sejarawan Islam mencatat bahwa Khubaib menjadi salah satu contoh sahabat yang paling kuat imannya saat menghadapi kematian.
Perlindungan Allah untuk Ashim bin Tsabit
Setelah peristiwa itu, kaum Quraisy berusaha mengambil bagian tubuh Ashim bin Tsabit sebagai bukti kematian.
Namun Allah melindungi jasadnya. Dalam riwayat disebutkan bahwa sekumpulan lebah mengerumuni jasad Ashim sehingga musuh tidak mampu mendekat.
Peristiwa ini menunjukkan kemuliaan para syuhada yang Allah jaga bahkan setelah kematian mereka.
Ibn Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa peristiwa Ar-Raji menunjukkan tingginya derajat keikhlasan sahabat. Mereka tidak mencari dunia, tidak pula takut mati, tetapi hanya mencari ridha Allah.
Ibn Katsir juga menegaskan bahwa kisah ini menjadi bukti bahwa Allah menjaga kehormatan orang-orang yang gugur di jalan-Nya.
Tragedi ini mengajarkan bahwa iman sejati tidak berubah meski dalam kondisi paling berat. Para sahabat tetap menjaga akhlak, bahkan kepada musuh yang akan membunuh mereka.
Khubaib bin Adi menjadi simbol bahwa seorang Muslim tetap bisa berakhlak mulia meskipun berada di ambang kematian.(ust)









Komentar