Keutamaan Talqin Kalimat Tauhid untuk Raih Husnul Khatimah

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Menuntun orang sakaratul maut membaca kalimat tauhid merupakan sunah.(poto: istimewa).

Ilustrasi Menuntun orang sakaratul maut membaca kalimat tauhid merupakan sunah.(poto: istimewa).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Umat Islam memegang erat anjuran untuk menuntun orang sakaratul maut agar melafalkan kalimat tauhid di akhir hayatnya. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa amalan talqin ini bertujuan membantu seorang muslim menutup lembaran usianya dengan baik.

Langkah mulia ini menjadi bentuk ikhtiar nyata demi meraih kematian yang baik atau husnul khatimah. Selanjutnya, kalimat tuntunan yang utama bagi mereka yang sedang menghadapi ajal adalah kalimat tahlil.

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Transliterasi: Laa ilaaha illallah.

Artinya: “Tiada tuhan selain Allah.”

Anjuran Rasulullah ﷺ dan Jaminan Surga

Nabi Muhammad ﷺ sangat menganjurkan kaum muslimin untuk membimbing saudara mereka yang sedang menghadapi detik-detik kematian. Di samping itu, Rasulullah ﷺ memberikan janji berupa surga bagi setiap hamba yang menjadikan kalimat tauhid sebagai ucapan terakhirnya.

Mengenai hal tersebut, Kitab At-Targhib wat Tarhib memuat riwayat penting mengenai perintah emas dari Rasulullah ﷺ ini.

كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِتَلْقِينِ الْمُحْتَضَرِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيَقُولُ: زَوِّدُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، فَإِنَّ مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

Transliterasi: Kana shallallahu ‘alaihi wa sallama ya’muru bi talqinil muhtadhari laa ilaaha illallah, wa yaquulu: Zawwidu mautaakum laa ilaaha illallah, fa inna man kaana aakhiru kalaamihi laa ilaaha illallah dakhala al-jannah.

Artinya: Rasulullah ﷺ memerintahkan agar orang yang sedang menghadapi kematian dituntun mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah. Beliau bersabda, “Bekalilah orang-orang yang akan meninggal di antara kalian dengan kalimat Laa Ilaaha Illallah. Sesungguhnya siapa yang akhir ucapannya adalah Laa Ilaaha Illallah, maka ia akan masuk surga.”

Sementara itu, mayoritas ulama menetapkan hukum mentalqin orang yang sedang berada dalam fase sakaratul maut sebagai amalan sunah. Selain itu, Imam Al-Qurthubi juga mengutip sejumlah hadis senada dalam kitab At-Tadzkirah saat mengulas tema bimbingan kematian ini.

Baca Juga :  Ketika Jenazah “Berbicara”: Tanda Amal di Alam Kubur

Landasan Hadis Shahih Melalui Jalur Abu Sa’id

Salah satu dasar hukum yang paling kuat bersumber dari riwayat Imam Muslim melalui jalur sahabat Abu Sa’id Al-Khudri.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ.

Transliterasi: ‘An Abi Sa’idil Khudri radhiyallahu ‘anhu qala, qala Rasulullahi ﷺ: Laqqinu mautaakum laa ilaaha illallah.

Artinya: Dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, Rasulullah ﷺ bersabda, “Talqinkanlah orang-orang yang akan meninggal di antara kalian dengan kalimat Laa Ilaaha Illallah.” (HR Muslim).

Riwayat Utsman bin Affan Mengenai Bekal Surga

Kemudian, Ibnu Abi Dunya turut menukil riwayat lain dari Zaid bin Aslam melalui jalur sahabat Utsman bin Affan RA. Riwayat tersebut kembali menegaskan betapa besarnya keutamaan kalimat tauhid di penghujung umur manusia.

وَذَكَرَ ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ قَالَ: قَالَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِذَا حَضَرَ الْمَيِّتَ فَلَقِّنُوهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، فَإِنَّهُ مَا مِنْ عَبْدٍ يُخْتَمُ لَهُ بِهَا عِنْدَ مَوْتِهِ إِلَّا كَانَتْ زَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ.

Transliterasi: Idza hadharal mayyit falaqqinuuhu laa ilaaha illallah, fa innahu maa min ‘abdin yukhtamu lahu biha ‘inda mautihi illa kaanat zaadahu ilal jannah.

Artinya: Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dari Zaid bin Aslam bahwa Utsman bin Affan RA berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila seseorang telah didatangi kematian, maka tuntunlah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Sebab tidaklah seorang hamba yang akhir ucapannya adalah kalimat tersebut ketika meninggal dunia, melainkan kalimat itu menjadi bekalnya menuju surga.”

Nasihat Umar bin Khattab dan Kesaksian Gaib

Bukan hanya itu, sahabat Umar bin Khattab RA juga menyuarakan anjuran serupa demi keselamatan spiritual umat yang akan wafat.

Baca Juga :  Lalat dalam Minuman: Penjelasan Hadits dan Hikmah Syariat Islam

وَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: احْضُرُوا مَوْتَاكُمْ وَذَكِّرُوهُمْ، فَإِنَّهُمْ يَرَوْنَ مَا لَا تَرَوْنَ، وَلَقِّنُوهُمْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ.

Transliterasi: Wa qala ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu: Ihdhuruu mautaakum wa dzakkiruuhum fa innahum yarawna maa laa tarawn, wa laqqinuuhum laa ilaaha illallah.

Artinya: Umar bin Khattab RA berkata, “Datangilah orang-orang yang sedang menghadapi kematian, ingatkan mereka karena sesungguhnya mereka melihat apa yang tidak kalian lihat. Tuntunlah mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallah.”

Beratnya Ujian Sakaratul Maut dan Tipu Daya Setan

Oleh sebab itu, banyak riwayat sahih menceritakan bahwa fase sakaratul maut menorehkan ujian yang luar biasa berat bagi manusia. Malahan, setan memanfaatkan momentum kritis ini untuk mengacaukan keimanan hamba agar berpaling dari Allah.

Sehubungan dengan hal itu, Abu Nu’aim mengabadikan potret dahsyatnya momen pelepasan nyawa tersebut melalui sebuah hadis.

Artinya: Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Datangilah orang-orang yang sedang menghadapi kematian, tuntunlah mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dan berilah kabar gembira berupa surga. Sesungguhnya pada saat itu setan berada sangat dekat dengan manusia. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, menyaksikan Malaikat Maut lebih berat daripada seribu tebasan pedang.”

Cara Bijak Melakukan Talqin Sesuai Sunah

Akhirnya, kaum muslimin mempraktikkan amalan talqin ini secara turun-temurun lintas generasi berdasarkan fatwa para ulama. Pelaksanaannya sama sekali bukan untuk memaksa orang sakit, melainkan mengingatkan ingatan mereka secara halus.

Oleh karena itu, pendamping harus membimbing orang sakit dengan penuh kelembutan serta kasih sayang yang tulus di ranjang kematian. Harapan besar selalu menyertai agar Allah memberikan akhir hidup yang mulia serta perlindungan dari tipu daya setan.(ust)

Berita Terkait

Malaikat Penatap Sangkakala Kiamat: Rahasia Kesiapan Mukmin
Panduan Lengkap Mimpi Buruk dalam Islam: Penyebab, Dalil, dan Adab Menyikapinya
Keistimewaan Pohon Bidara Menurut Alquran dan Sunnah Nabi
Keutamaan Shalat Subuh dan Ashar
Hukum Syair Menurut Al-Qur’an dan Hadits Lengkap
Tanda Husnul Khotimah dan Keutamaan Pujian Orang Beriman
Rahasia Dialog Allah dan Hamba dalam Surat Al-Fatihah
Hadits tentang Maulid Nabi, Adakah Perintah Merayakannya?
Berita ini 23 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:33 WIB

Malaikat Penatap Sangkakala Kiamat: Rahasia Kesiapan Mukmin

Rabu, 7 Oktober 2026 - 06:08 WIB

Panduan Lengkap Mimpi Buruk dalam Islam: Penyebab, Dalil, dan Adab Menyikapinya

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:26 WIB

Keistimewaan Pohon Bidara Menurut Alquran dan Sunnah Nabi

Minggu, 20 September 2026 - 16:19 WIB

Keutamaan Shalat Subuh dan Ashar

Sabtu, 12 September 2026 - 20:07 WIB

Hukum Syair Menurut Al-Qur’an dan Hadits Lengkap

Berita Terbaru

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:38 WIB

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:33 WIB

Pusat Studi Al-Qur'an menggelar diskusi keagamaan memperingati Hari Santri 2026 di Tangerang Selatan.(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Nilai Pesantren Jadi Kompas Hadapi Era AI

Kamis, 22 Okt 2026 - 14:57 WIB