Jakarta, dorlanhimah.com – Rasulullah SAW menyampaikan petunjuk agung mengenai kedudukan bacaan Al Fatihah shalat melalui sebuah Hadis Qudsi. Hadis ini menjelaskan komunikasi langsung antara hamba dan Pencipta saat ibadah berlangsung.
Para ulama meriwayatkan hadis mulia ini melalui jalur Imam Ahmad dan Imam Muslim. Teks lengkap hadis tersebut menegaskan pembagian bacaan Al-Fatihah secara sempurna.
قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي – فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل
Allah berfirman, “Saya membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua. Untuk hamba-Ku apa yang dia minta.
Apabila hamba-Ku membaca, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”
Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Ar-rahmanir Rahiim.”
Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku mengulangi pujian untuk-Ku.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Maaliki yaumid diin.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” Dalam riwayat lain, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in.”
Allah Ta’ala berfirman, “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Ihdinas-Shirathal mustaqiim….dst. sampai akhir surat.”
Allah Ta’ala berfirman, “Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta.”
(HR. Ahmad 7291, Muslim 395 dan yang lainnya)
Penjelasan Kedudukan Surat Al-Fatihah
Hadis ini menegaskan bahwa Al-Fatihah merupakan rukun utama dalam ibadah. Allah SWT bahkan menyebut nama surat agung ini menggunakan kata shalat.
Sebutan tersebut melekat karena umat Islam wajib membaca Al-Fatihah saat menegakkan shalat. Setiap pembaca secara hakiki sedang melangsungkan dialog intens bersama Sang Pencipta.
Pembagian Teks dan Ayat Al-Fatihah
Allah membagi kandungan bacaan ini menjadi dua bagian yang sangat seimbang. Paruh awal berisi barisan pujian yang diperuntukkan khusus bagi keagungan Allah.
Pujian ini mengalir mulai dari kalimat Alhamdulillahi rabbil ‘alamin hingga Maliki yaumiddin. Sementara paruh akhir memuat permohonan petunjuk hamba agar tergolong penerima nikmat.
Makna Khusus Ayat Pertengahan
Satu ayat berada tepat di tengah pembagian tersebut, yakni Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Bagian ini terbagi secara adil untuk Allah dan seluruh hamba-Nya.
Kalimat Iyyaka na’budu menjadi hak mutlak Allah sebagai bentuk pengabdian. Sedangkan ungkapan Iyyaka nasta’in menjadi milik hamba sebagai sarana memohon pertolongan.(ust)










Komentar