Jakarta, dorlanhikmah.com – Setiap manusia yang hidup di dunia melangkah menuju salah satu tempat kembali, yakni surga atau neraka. Rasulullah SAW menggambarkan hakikat perjalanan hidup manusia melalui sabda beliau berikut ini:
كُلُّ النَّاسِ يَغْدو، فَبائعٌ نَفْسَهُ، فَمُعْتِقُها أَو مُوبِقُها
“Setiap manusia berangkat pada pagi harinya; ada yang menjual dirinya lalu membebaskannya, dan ada pula yang menjual dirinya lalu membinasakannya.” (HR Muslim dari Abu Malik al-Haris bin Ashim al-Asy’ari RA).
Setiap individu kelak menerima balasan atas seluruh perbuatan masa lalunya saat menghadap Allah SWT. Neraka menyajikan penderitaan dahsyat yang melampaui batas bayangan akal manusia.
Rasulullah SAW menegaskan mengerikannya pemandangan tempat penyiksaan tersebut setelah beliau menyaksikannya secara langsung:
وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَALْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ
“Aku melihat neraka. Aku belum pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada pemandangan hari ini.” (HR Bukhari dan Muslim).
Alquran dan Hadis mengabadikan sejumlah bentuk hukuman fisik maupun spiritual yang menanti para penghuninya. Berikut rincian kengerian tersebut yang patut menjadi perenungan bersama.
Pembakaran Kulit yang Terjadi Berulang Kali
Para penghuni menerima siksaan berupa pembakaran lapisan luar tubuh hingga hangus tak tersisa. Allah SWT kemudian menggantinya dengan lapisan baru yang lebih tebal untuk memperberat rasa sakit:
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَـٰتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًۭا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَـٰهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًۭا ٥٦
“Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS An-Nisa’: 56).
Ukuran ketebalan lapisan tubuh tersebut jauh melebihi ukuran manusia normal saat hidup di dunia. Rasulullah SAW menjelaskan ukuran tersebut dalam riwayat berikut:
غِلَظَ جِلْدِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا
“Ketebalan kulitnya adalah tujuh puluh hasta.” (HR Ahmad).
Api Menggulung Bagian Wajah
Kobaran api melalap wajah yang menjadi pusat indera dan kehormatan seorang hamba. Siksaan ini menimbulkan penderitaan yang sangat membakar karena sensitivitas area tersebut.
Firman Allah SWT melukiskan kondisi pakaian dan area kepala mereka:
سَرَابِيلُهُم مِّن قَطِرَانٍۢ وَتَغْشَىٰ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ٥٠
“Pakaian mereka dari cairan aspal, dan wajah mereka ditutup oleh api neraka.” (QS Ibrahim: 50). Kondisi ini juga tertera pada QS Al-Anbiya’: 39 dan QS Al-Mu’minun: 104.
Tubuh Diseret Posisi Wajah di Bawah
Malaikat menyeret para pelanggar syariat dalam posisi wajah menempel langsung pada permukaan jalan. Tindakan tersebut menjadi puncak kehinaan serta penderitaan bagi mereka:
وَمَن يَهْدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلْمُهْتَدِ ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُمْ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِهِۦ ۖ وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ عُمْيًۭا وَبُكْمًۭا وَصُمًّۭا ۖ مَّأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُ ۖ كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَـٰهُمْ سَعِيرًۭا ٩٧
“Dan barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa Dia sesatkan, maka engkau tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat dengan wajah tersungkur, dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Setiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka.” (QS Al-Isra’: 97). Penjelasan serupa hadir pada QS Al-Furqan: 34, QS An-Naml: 90, QS Al-Ahzab: 66, dan QS Al-Qamar: 48.
Guyuran Air Mendidih Pencair Organ
Malaikat menuangkan cairan hamim yang berada pada tingkat kepanasan puncak dari atas kepala. Siraman air ekstrem ini melelehkan organ dalam perut beserta seluruh lapisan luar tubuh.
Allah SWT menggambarkan penderitaan tersebut melalui ayat-Nya:
۞ هَـٰذَانِ خَصْمَانِ ٱخْتَصَمُوا۟ فِى رَبِّهِمْ ۖ فَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌۭ مِّن نَّارٍۢ يُصَبُّ مِن فَوْقِ رُءُوسِهِمُ ٱلْحَمِيمُ ١٩ يُصْهَرُ بِهِۦ مَا فِى بُطُونِهِمْ وَٱلْجُلُودُ ٢٠
“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan kafir) yang bertengkar, mereka bertengkar mengenai Tuhan meeka. Maka bagi orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api (neraka) untuk mereka. Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih. Dengan (air mendidih) itu akan dihancurluluhkan apa yang ada dalam perut dan kulit mereka.” (QS Al-Hajj: 19–20). Rincian ini sejalan dengan QS Ad-Dukhan: 48–49, QS Ghafir: 71–72, QS Muhammad: 15, QS. Al-An’am: 70, QS Al-Waqi’ah: 54–55, QS. An-Naba’: 24–25, serta QS Al-Kahfi: 29.
Busana dari Nyala Api dan Tembaga Cair
Tubuh mereka terbungkus busana yang terbuat langsung dari lelehan tembaga membara (qathiran). Pakaian panas tersebut membalut rapat kulit tanpa memberi celah perlindungan.
Alquran menegaskan pembuatan pakaian khusus tersebut:
۞ هَـٰذَانِ خَصْمَانِ ٱخْتَصَمُوا۟ فِى رَبِّهِمْ ۖ فَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌۭ مِّن نَّارٍۢ يُصَبُّ مِن فَوْقِ رُءُوسِهِمُ ٱلْحَمِيمُ ١٩
“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan kafir) yang bertengkar, mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka bagi orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api (neraka) untuk mereka. Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih.” (QS Al-Hajj: 19). Gambaran ini selaras pula dengan QS Ibrahim: 50.
Nabi Muhammad SAW turut memberikan peringatan khusus bagi orang yang tidak bertobat dari perbuatan meratap:
النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
“Seorang perempuan yang meratap atas kematian, apabila ia tidak bertobat sebelum meninggal, akan di bangkitkan pada hari Kiamat dengan mengenakan pakaian dari qathiran dan baju zirah dari penyakit kulit.” (HR Muslim).
Belenggu Ikatan Rantai Besi
Malaikat mengikat tubuh para penghuni menggunakan belenggu dan rantai besi yang sangat panjang. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa rantai masuk melalui dubur lalu menembus kedua lubang hidung hingga mereka tak sanggup berdiri.
Siksaan fisik ini tertuang jelas dalam Alquran:
ثُمَّ فِى سِلْسِلَةٍۢ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًۭا فَٱسْلُكُوهُ ٣٢
“Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (QS Al-Haqqah: 32). Keterangan relevan terdapat pada QS Ar-Ra’d: 5, QS Saba’: 33, QS Yasin: 8, QS Ghafir: 71–72, dan QS Al-Insan: 4.
Terhalang dari Rahmat Allah SWT
Siksaan terberat berwujud terhalangnya pandangan penghuni neraka dari Allah SWT serta murka-Nya. Penyesalan mendalam ini menyiksa batin mereka melebihi penderitaan fisik semata.
Allah SWT menegaskan hukuman batin tersebut melalui firman-Nya:
كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍۢ لَّمَحْجُوبُونَ ١٥ ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُوا۟ ٱلْجَحِيمِ ١٦ ثُمَّ يُقَالُ هَـٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ١٧
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, di katakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang dahulu kamu dustakan.” (QS Al-Muthaffifin: 15–17).
Ayat tersebut merangkum tiga penderitaan sekaligus: terhalang dari Rabb, masuk ke neraka Jahim, serta menerima celaan atas pendustaan mereka. Dosa semasa hidup telah mengunci rapat hati mereka dari hidayah.
Ibnu al-Mubarak menegaskan kedahsyatan azab spiritual tersebut: “Allah Azza wa Jalla tidak menghalangi seseorang dari-Nya kecuali Dia akan mengazabnya.”(ust)










Komentar